check it now

Tips Mengajari Anak Keberagaman dan Toleransi

Yuk ajari anak tentang keberagaman dan toleransi agar tak tumbuh sikap rasis pada dirinya.

Daftar Isi Artikel

Mengajari anak mengenai keberagaman dan toleransi adalah hal yang harus dilakukan sejak dini.

Sebab anak perlu tahu apa saja keberagaman yang ada baik dari sisi agama, suku, budaya, dan adat istiadat agar mereka tak memiliki sikap rasis.

Banyak cara yang dapat dilakukan orang tua untuk melatih anak agar dapat menghargai perbedaan yang ada di lingkungan. Misalnya melalui beberapa cara berikut.

1. Ajak anak bersilaturahmi

Orang tua bisa mengajak anak bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya sejak usia 1-2 tahun. Ajaklah anak bersilaturahmi ke rumah tetangga yang sedang merayakan hari besar keagamaan yang berbeda.

Orang tua juga bisa mengajak anak melihat tradisi keagamaan atau budaya lain misalnya potong kurban, perayaan deepavali, atau menyaksikan atraksi barongsai.

2. Kenalkan anak dengan tempat-tempat peribadatan

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam agama. Keberagaman tersebut perlu diperkenalkan kepada anak. Salah satu caranya dengan mengajak mereka mengunjungi beberapa tempat peribadatan atau museum budaya.

Atau ketika sedang berjalan-jalan dan tak sengaja melewati beberapa tempat ibadah, orang tua bisa memberi tahunya bahwa itu adalah tempat beribadah agama A misalnya, dan tempatnya berbeda dengan kita.

3. Beri kebebasan anak untuk berteman dengan siapa saja

Jangan sampai membatasi pertemanan anak. Berilah mereka kebebasan untuk berteman dengan siapa saja selama itu baik dan tak menyimpang dari koridor.

Jangan lupa tekankan bahwa keberagaman membuat dunia lebih indah dan berwarna. Sehingga tak masalah bila memiliki teman yang berbeda agama, suku, atau budaya.

4. Mengajarkan keberagaman melalui pengasuh

Hal ini berlaku untuk anak yang sejak kecil diasuh oleh orang lain, misal tetangganya atau baby sitter.

Apabila si kecil diasuh oleh orang lain yang berbeda suku dan agama, ajari mereka untuk selalu menghormati dan menyayangi pengasuhnya.

Misalnya, pengasuh merupakan keturunan jawa maka orang tua bisa memita si kecil memanggilnya dengan sebutan “mbak” atau “bude”. Atau bila pengasuh berbeda agama, jelaskan dan berikan pengertian pada mereka kalau cara beribadah “mbak” atau “bude” berbeda.

Dengan begitu, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, rasa toleransi serta sikap menghormati anak akan tumbuh.

5. Mengajarinya anak dari hal kecil

Cara sederhana lainnya bisa dimulai dengan mengajari anak hal-hal kecil seperti mengucapkan salam dan bersikap santun ketika bertamu ke rumah saudara atau teman yang berbeda keyakinan.

6. Berikan contoh nyata

Memperkenalkan keberagaman dan toleransi pada anak tidak cukup hanya melalui ucapan. Berikan contoh nyata.

Misalnya, ketika bertemu dengan seseorang yang menggunakan simbol agama tertentu atau memiliki warna kulit berbeda, jangan memandangnya dengan penuh keanehan, apalagi mengatakan sesuatu bernada kebencian dan ledekan.

Coba ajak si kecil untuk berandai-andai, jika dia dibenci karena perbedaan, tentu akan merasa sedih. Dengan demikian mereka akan belajar berempati sekaligus bertoleransi.

7. Jelaskan dengan bahasa sederhana

Mengajari keberagaman dan toleransi pada anak memang bukan hal mudah. Apalagi saat mereka berada pada usia pra sekolah. Tentu akan timbul banyak pertanyaan kritis yang akan mereka lontarkan.

Misalnya, ketika bermain di taman atau jalan-jalan ke mall, kadang anak suka bertanya, “Kok om itu kulitnya hitam?”, “Kok anak itu rambutnya keriting?”, “Kok tempat atau cara beribadah mereka berbeda?” dan sebagainya.

Karena itu, orang tua perlu strategi cerdas agar tak salah menerangkan dan memberi pengertian.

Usahakan untuk menjelaskan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak-anak seusianya. Misalnya jelaskan bahwa setiap orang memang memiliki penampilan fisik yang berbeda-beda, baik warna kulitnya, bentuk wajahnya, dan lain-lain.

Meski demikian, kita harus selalu menghormatinya dan tidak boleh mengejeknya karena perbedaan itu asalnya dari Tuhan.

Dengan penjelasan sederhana seperti itu diharapkan si kecil akan paham. Dan seiring pertambahan usianya, orang tua juga harus mengajarkan lebih dalam lagi tentang keberagaman suku, agama, dan kebudayaan.

8. Mengajarkan anak melalui dongeng

Ada cara lain yang tak kalah menyenangkan untuk mengajari anak tentang keberagaman dan toleransi yaitu melalui dongeng.

Bacakan dongeng mengenai keberagaman agama dan budaya setiap hari menjelang tidur. Disamping melatih kemampuan kognitif anak, orang tua juga bisa menyelipkan nilai moral tentang cerita yang dibacakan.

Misalnya umat muslim setiap tahunnya merayakan lebaran, sementara umat kristen merayakan natal, atau perayaan hari besar agama lain.

Tak hanya itu, orang tua juga bisa mengajak anak melihat dan membaca buku cerita yang menyajikan gambar-gambar terkait keberagaman suku, budaya, dan adat yang ada di Indonesia.

Let's share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Nazri Tsani

Nazri Tsani