Hubungan Bayi Dengan Telur

Hubungan Bayi Dengan Telur

Telur merupakan salah satu bahan makanan yang bisa dijadikan MPASI. Sebagai sumber protein, telur dapat dengan mudah dikunyah oleh bayi dan juga gampang diolah jadi berbagai menu sehingga si kecil tidak mudah bosan.

Namun belakangan diketahui jika telur juga merupakan salah satu jenis makanan pencetus alergi.  Serupa dengan alergi lainnya, dimana sistem imun menganggap jika protein telur dianggap sebagai zat berbahaya.

Yang kemudian membuat tubuh melepaskan zat hisatimin sebagai perlindungan. Nah reaksi ini pun membuat anak mengalami gejala alergi seperti biduran, hidung berair, batuk atau sesak napas (mengi).

Jika si kecil bebas dari alergi telur maka makanan ini bisa mulai diberikan ketika anak menginjak usia 6 bulan. Dianjurkan pemberian pertama hanya kuning telurnya saja. Nanti setelah bayi masuk usia 1 tahun, barulah telur diberikan lengkap. Hal ini dilakukan guna menghindari terjadinya alergi, yang pada kebanyakan kasus memang dipicu putih telur.

Meski kemungkinan alerginya lebih kecil, tetap saja pemberian kuning telur harus diwaspadai. Perhatikan 1 – 3 hari setelah pemberian kuning telur, apakah hidung bayi menjadi berair, matanya bengkak, atau timbul ruam. Bila itu terjadi, segera hentikan pemberian telur dan coba berikan kembali 3 bulan setelahnya.

Dianjurkan untuk memberikan telur pada bayi dalam kondisi benar-benar matang. Sebab telur setengah matang kemungkinan dihuni bakteri salmonella yang dapat membahayakan kesehatan bayi. Jika bayi tidak alergi terhadap telur, berikan 1-2 butir per minggu. Jangan terlalu berlebihan, sebab telur juga mengandung kolesterol tinggi

Yuk berbagi artikel ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Daftar Isi