Setiap anak tumbuh dengan ritmenya masing-masing, namun ada tahapan perkembangan yang menjadi acuan penting bagi orang tua, yang dikenal sebagai milestone anak.
Milestone ini mencakup berbagai kemampuan, mulai dari pendengaran, penglihatan, hingga perkembangan bahasa dan komunikasi.
Dengan memahami tahapan ini sejak dini, orang tua dapat lebih peka mengenali apakah perkembangan anak berjalan sesuai usia atau memerlukan stimulasi tambahan.
Berikut lima milestone anak yang perlu orang tua pahami sejak dini:
1. Milestone Pendengaran pada Anak
Pendengaran menjadi salah satu milestone paling awal yang berkembang pada anak. Sejak lahir, bayi sebenarnya sudah mampu merespons suara, terutama suara orang tua.
Pada usia 0-3 bulan, bayi biasanya terkejut atau tenang saat mendengar suara keras. Memasuki usia 4-6 bulan, bayi mulai menoleh ke arah sumber suara dan tertarik pada bunyi yang familiar.
Ketika anak bertambah besar, pendengaran berperan penting dalam perkembangan bahasa. Anak usia 1 tahun umumnya sudah bisa mengenali namanya sendiri dan memahami kata-kata sederhana.
Jika anak tampak tidak merespons suara, jarang menoleh, atau terlambat berbicara, orang tua perlu waspada dan mempertimbangkan evaluasi pendengaran lebih lanjut.
2. Milestone Penglihatan pada Anak
Perkembangan penglihatan anak berlangsung bertahap. Bayi baru lahir hanya mampu melihat dengan jarak dekat dan cenderung tertarik pada warna kontras.
Sekitar usia 2–3 bulan, bayi mulai bisa mengikuti gerakan benda dengan matanya dan melakukan kontak mata.
Pada usia 6–12 bulan, koordinasi mata dan tangan mulai berkembang, terlihat dari kemampuan meraih benda yang dilihatnya. Penglihatan yang optimal sangat berpengaruh pada kemampuan belajar, koordinasi motorik, dan interaksi sosial anak.
Bila anak sering menyipitkan mata, tidak fokus melihat benda, atau tampak kesulitan mengikuti gerakan, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
3. Milestone Perkembangan Bahasa dan Kosa Kata
Milestone anak dalam aspek bahasa sering menjadi perhatian utama orang tua.
Pada tahun pertama, anak biasanya mulai mengoceh, meniru bunyi, dan merespons pembicaraan. Memasuki usia 12–18 bulan, anak mulai mengucapkan kata bermakna seperti “mama” atau “mamam”.
Perkembangan kosa kata akan meningkat pesat di usia 2–3 tahun, ketika anak mulai menyusun dua hingga tiga kata menjadi kalimat sederhana. Stimulasi seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, dan merespons celotehnya sangat berperan dalam perkembangan bahasa.
Keterlambatan bicara tidak selalu menandakan gangguan, namun tetap perlu dipantau agar anak mendapat dukungan yang tepat.
4. Milestone Motorik Kasar dan Halus
Selain sensorik dan bahasa, milestone anak juga mencakup kemampuan motorik.
Motorik kasar berkaitan dengan gerakan besar seperti tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, hingga berjalan. Sementara motorik halus melibatkan koordinasi tangan dan jari, seperti menggenggam, menyusun balok, atau mencoret-coret.
Perkembangan motorik dipengaruhi oleh kematangan saraf dan kesempatan eksplorasi. Memberi anak ruang aman untuk bergerak dan bermain aktif membantu mendukung milestone ini.
Perlu diingat, setiap anak memiliki waktu pencapaian yang berbeda, sehingga perbandingan berlebihan justru dapat memicu kecemasan.
5. Milestone Sosial dan Emosional Anak
Milestone sosial dan emosional berkaitan dengan kemampuan anak berinteraksi dan mengekspresikan perasaan. Bayi mulai menunjukkan senyum sosial di usia sekitar 2 bulan, lalu berkembang menjadi kemampuan mengenali emosi orang terdekat.
Pada usia toddler, anak mulai belajar berbagi, meniru perilaku, dan menunjukkan empati sederhana. Tantrum juga menjadi bagian dari perkembangan emosional karena anak sedang belajar mengelola perasaan. Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi emosi anak agar ia merasa aman dan dipahami.
Milestone anak berfungsi sebagai panduan, bukan patokan kaku. Namun, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga profesional bila anak menunjukkan keterlambatan signifikan, kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, atau sulit berinteraksi dengan lingkungan.
Deteksi dini memungkinkan intervensi yang tepat, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensinya.