Sindrom couvade adalah kondisi psikosomatis ketika seorang suami ikut merasakan gejala seperti ibu hamil, mulai dari mual, perubahan nafsu makan, hingga nyeri punggung. Fenomena ini bukan hal baru, namun sering terlewat karena dianggap sebagai “halusinasi” atau sekadar reaksi emosional. Padahal, kondisi ini nyata dan berkaitan erat dengan hormon, stres, serta keterikatan emosional calon ayah terhadap kehamilan pasangan.
Mengenal Sindrom Couvade pada Suami
Sindrom Couvade adalah kondisi psikologis di mana suami mengalami gejala mirip kehamilan saat istrinya sedang mengandung. Istilah “couvade” berasal dari bahasa Prancis yang berarti “ikut mengerami”.
Meski tidak termasuk gangguan medis formal, fenomena ini diakui dalam banyak literatur kesehatan sebagai reaksi psikosomatis yang dipicu hubungan emosional, stres kehamilan, dan perubahan dinamika keluarga.
Gejala sindrom couvade ini bisa berbeda pada setiap orang, namun umumnya meliputi:
- Mual dan muntah.
- Perubahan nafsu makan, bisa lebih banyak atau sebaliknya.
- Perubahan berat badan.
- Sakit punggung.
- Gangguan tidur.
- Mudah cemas dan lebih emosional.
- Kram perut atau kembung.
- Sakit kepala.
Semua gejala di atas biasanya muncul pada trimester pertama atau ketiga, mengikuti pola perubahan fisik ibu hamil.
Penyebab Sindrom Couvade dan Cara Mengatasinya
Ada banyak faktor yang menyebabkan munculnya sindrom couvade pada suami, di antaranya:
1. Perubahan Emosi dan Empati
Calon ayah bisa merasakan stres, tanggung jawab baru, atau rasa empati tinggi yang memicu reaksi fisik.
2. Pengaruh Hormon
Beberapa studi menunjukkan penurunan testosteron dan peningkatan kortisol serta prolaktin pada suami, terutama ketika mendekati masa persalinan.
3. Stres Kehamilan
Kekhawatiran soal keselamatan ibu dan bayi, finansial, atau kesiapan menjadi ayah dapat memicu gejala psikosomatis.
4. Hubungan yang Sangat Dekat dengan Pasangan
Ikatan emosional yang kuat dapat membuat calon ayah ikut merasakan pengalaman kehamilan.
Jika sudah terjadi, bagaimana cara mengatasi sindrom tersebut agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari suami?
1. Validasi dan Cari Tahu
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa kondisi ini nyata dan dapat terjadi pada siapa saja. Setelah itu, cari tahu mengenai sindrom ini dari sumber yang jelas dan terpercaya. Edukasi yang tepat membantu suami memahami penyebab gejala tanpa merasa ‘aneh’.
2. Kelola Stres dengan Baik
Dukung suami untuk mengurangi stres dengan melakukan aktivitas fisik atau olahraga ringan dan tidur cukup. Selain itu, berlatih teknik relaksasi seperti menarik napas dalam atau meditasi.
Jangan sungkan untuk curhat atau berkomunikasi tentang apapun yang dirasakan dengan pasangan.
3. Jaga Pola Makan
Gejala seperti mual atau perubahan nafsu makan bisa dikurangi dengan makan teratur dan memilih makanan bernutrisi.
4. Libatkan Suami dalam Perawatan Kehamilan
Mengajak suami ikut kontrol kehamilan, kelas persiapan persalinan, atau membaca buku parenting dapat membuatnya merasa lebih siap dan tenang.
5. Konsultasi dengan Psikolog atau Ahlinya Jika Diperlukan
Jika gejala terasa berat bahkan sampai mengganggu aktivitas atau berlangsung lama, segera konsultasi dengan psikolog agar kecemasan dan tekanan emosional dapat segera ditangani.