Alergi protein hewani pada bayi menjadi salah satu kondisi yang cukup sering membuat orang tua khawatir. Tak sedikit yang mengira alergi hanya dialami bayi yang sudah mengonsumsi makanan pendamping, padahal bayi dengan ASI eksklusif pun tetap berisiko mengalaminya. Mengenali tanda-tanda alergi sejak dini serta memahami cara penanganannya sangat penting agar bayi tetap nyaman dan tumbuh optimal.
Mengenal Alergi Protein Hewani pada Bayi
Alergi merupakan reaksi berlebihan dari sistem imun terhadap zat tertentu yang dianggap berbahaya oleh tubuh. Pada bayi, alergi dapat terjadi ketika sistem imun bereaksi terhadap protein makanan dan memproduksi antibodi yang kemudian memicu berbagai gejala.
Menurut dr. Rosary, Sp.A, Dokter Spesialis Anak RS Pondok Indah, protein hewani yang paling sering menyebabkan alergi pada bayi adalah susu sapi dan produk turunannya. Kondisi ini cukup sering ditemukan dan perlu dikenali sejak dini agar tidak mengganggu kenyamanan serta tumbuh kembang bayi.
Pertanyaan yang cukup sering muncul adalah, apakah bayi dengan ASI eksklusif bisa mengalami hal tersebut?
Banyak orang tua mengira bayi ASI eksklusif tidak mungkin mengalami alergi makanan. Padahal, bayi tetap dapat mengalami alergi karena protein dari makanan yang dikonsumsi ibu dapat masuk ke dalam ASI. Oleh karena itu, reaksi alergi pada bayi tidak selalu berasal dari makanan yang dikonsumsi langsung oleh bayi.
Tanda Alergi yang Perlu Diwaspadai
Tanda awal alergi umumnya muncul pada kulit. Salah satu gejala yang sering ditemukan adalah ruam merah dan gatal, terutama di area pipi atau wajah. Namun, gejala alergi tidak hanya terbatas pada kulit.
Bayi juga dapat menunjukkan tanda lain seperti muntah, rewel, menangis setelah menyusu, konstipasi, atau diare. Pada beberapa kasus, bayi terlihat tidak nyaman setelah minum ASI dan menjadi sulit ditenangkan. Karena gejalanya beragam, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi bayi.
Lalu, apakah alergi protein hewani bisa hilang seiring pertambahan usia bayi?
Menjawab hal tersebut, dr. Rosary menjelaskan bahwa sekitar 90 persen alergi terhadap susu sapi dan telur dapat menghilang seiring bertambahnya usia anak. Dengan pemantauan yang tepat, anak dapat diperkenalkan kembali pada protein hewani secara bertahap sesuai anjuran dokter. Proses ini membantu tubuh anak belajar beradaptasi tanpa memicu reaksi alergi.
Jika orang tua mencurigai bayi mengalami alergi protein hewani, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan dokter anak. Penanganan yang tepat, termasuk pengaturan pola makan ibu menyusui serta pemantauan gejala bayi, sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kenyamanan bayi.