check it now

Mengenal Lighthouse Parenting dan Dampaknya pada Perkembangan Anak

Lighthouse parenting menempatkan orang tua sebagai penunjuk arah, bukan pengendali hidup anak. Pola asuh ini dinilai membantu anak tumbuh lebih mandiri, tangguh, dan percaya diri.

Daftar Isi Artikel

Di tengah banyaknya gaya pengasuhan modern, lighthouse parenting mulai dikenal sebagai pendekatan yang menekankan keseimbangan antara memberi kebebasan dan tetap menjadi penuntun bagi anak. Pola asuh ini mengajak orang tua untuk hadir sebagai “mercusuar” yang memberi arah dan rasa aman, tanpa terlalu mengontrol setiap langkah anak.

Dengan pendekatan ini, anak didorong tumbuh mandiri, percaya diri, dan mampu mengambil keputusan sesuai usianya.

Mengenal Lighthouse Parenting

Lighthouse parenting adalah gaya pengasuhan yang memposisikan orang tua sebagai penuntun, bukan pengendali. Seperti mercusuar yang memberi cahaya dari kejauhan, orang tua tetap hadir memberi arah, batasan, dan nilai, namun tidak terus-menerus mengatur setiap pilihan anak.

Pendekatan ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Kenneth Ginsburg, seorang dokter anak dan pakar perkembangan remaja. Ia menekankan bahwa anak membutuhkan ruang untuk belajar dari pengalaman, tetapi tetap memerlukan orang tua sebagai sumber rasa aman dan panduan moral.

Prinsip utama pola asuh ini terletak pada keseimbangan. Orang tua tidak melepas anak begitu saja, tetapi juga tidak mengekang. Anak diberi kepercayaan untuk mencoba, gagal, dan belajar, sementara orang tua siap membantu saat benar-benar dibutuhkan.

Prinsip penting lainnya adalah konsistensi nilai. Orang tua menjadi contoh dalam bersikap, mengelola emosi, dan mengambil keputusan, sehingga anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari teladan sehari-hari.

Perbedaan Lighthouse Parenting dengan Pola Asuh Lain

Berbeda dengan helicopter parenting yang terlalu mengontrol, lighthouse parenting memberi ruang eksplorasi yang lebih luas. Anak tidak terus-menerus diawasi atau dilindungi dari kegagalan kecil.

Di sisi lain, pola asuh ini juga berbeda dari permissive parenting yang cenderung minim batasan. Pola asuh ini tetap memiliki aturan yang disepakati bersama, sehingga anak memahami konsekuensi sekaligus merasa dihargai.

Manfaat Lighthouse Parenting bbagi Perkembangan Anak dan Cara Menerapkannya

Pendekatan ini membantu anak membangun kepercayaan diri dan kemandirian sejak dini. Anak belajar mengenali kemampuan dirinya, mengelola emosi, serta bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.

Selain itu, anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung memiliki kemampuan problem solving yang lebih baik. Mereka terbiasa menghadapi tantangan tanpa takut gagal, karena tahu orang tua selalu siap menjadi tempat kembali.

Menerapkan lighthouse parenting bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memberi anak pilihan sesuai usianya. Misalnya, membiarkan anak memilih baju sendiri atau menentukan urutan kegiatan hariannya.

Orang tua juga perlu berlatih menahan diri untuk tidak langsung turun tangan saat anak mengalami kesulitan kecil. Biarkan anak mencoba terlebih dahulu, lalu bantu dengan pertanyaan atau arahan, bukan solusi instan.

Komunikasi terbuka menjadi kunci. Dengarkan pendapat anak, validasi perasaannya, dan jelaskan alasan di balik aturan yang dibuat agar anak merasa dilibatkan, bukan dikendalikan.

Tantangan dalam Menerapkan pada Keseharian

Setiap pola asuh tentu memiliki tantangan masing-masing, begitu pun dengan lighthouse parenting.

Menerapkan pola asuh ini membutuhkan kesabaran dan kepercayaan yang besar. Bagi sebagian orang tua, melihat anak gagal atau kecewa bisa terasa berat.

Namun, penting diingat bahwa kegagalan kecil justru menjadi bagian penting dari proses belajar. Dengan tetap hadir secara emosional dan konsisten memberi batasan, orang tua membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.

Let's share

Picture of Nazri Tsani Sarassanti

Nazri Tsani Sarassanti

Daftar Isi Artikel

Updates