check it now

Waspadai Internalizing Behavior Pada Anak!

Si kecil sering terlihat sedih, mudah rewel, dan gemar menyendiri? Waspadai internalizing behavior pada anak!

Daftar Isi Artikel

Banyaknya tekanan dan tututan sering membuat orang dewasa mengalami stres. Namun tahukah hal tersebut nyatanya juga bisa dialami si kecil, lho.

Adapun tanda si kecil mengalami stres atau depresi dapat dilihat dari gangguan perilaku dan emosinya. Hal tersebut yang sering disebut sebagai internalizing behavior.

Internalizing Behavior

Internalizing behavior merupakan gangguan emosi dan perilaku pada anak karena suatu kondisi yang ia rasakan. Internalizing behavior ditandai dengan tingkah laku yang cenderung menutup diri dan menyembunyikan perasaan, rasa cemas, stres, rasa bersalah, hingga depresi.

Bila dibiarkan, kondisi tersebut sudah pasti dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental si kecil.

Menurut Angeline Christy S., M.Psi., Psikolog, CGA, Psikolog dan Founder Tuwaga Community, internalizing behavior dapat menyerang anak sejak usia 3 tahun.

“Potensi anak mengalami gangguan ini dapat disebabkan oleh berbagai situasi dan kondisi, mulai dari lingkungan hingga kepribadian anak itu sendiri (introvert),” imbuh Angeline.

Faktor Pemicu dan Gejala Internalizing Behavior pada Anak

Masih menurut penjelasan Angeline, faktor utama yang dapat memicu anak mengalami internalizing behavior adalah pola asuh orang tua yang terlalu memproteksi anak (otoriter), sehingga hubungan antara orang tua dan anak cenderung kaku.

“Misalnya, ketika anak melakukan kesalahan, orang tua langsung memberikan punishment tanpa memberikan penjelasan terlebih dulu kepada anak,” jelas Psikolog lulusan S2 Universitas Tarumanagara.

Pola asuh tersebut juga memicu ketidakmampuan anak untuk belajar coping terhadap suatu permasalahan atau tantangan yang dihadapinya.

Lebih jauh Angeline menjelaskan, ada beberapa gejala yang dapat dikenali saat anak mengalami internalizing behavior, di antaranya gemar menyendiri, selalu terlihat sedih, mudah rewel, selalu merasa ketakutan, memiliki masalah konsentrasi, mengalami gangguan makan dan tidur, hingga sering merasa pusing atau sakit perut yang bila diperiksa ke dokter tidak berkaitan dengan penyakit apapun (psikosomatik).

Cara Mencegah dan Mengatasinya

Angeline menyarankan agar orang tua senantiasa terbuka, memberikan kasih sayang dan meningkatkan bonding agar anak terhindar dari internalizing behavior.

“Misalnya ketika orang tua melakukan kesalahan, terbukalah dan jangan gengsi untuk meminta maaf kepada anak. Selain itu, berikan alasan pada hal-hal yang dilarang untuk dilakukan dan jelaskan konsekuensi yang akan anak dapatkan bila melanggar,” jelasnya.

Selain itu, jangan sungkan untuk selalu berdiskusi dengan anak dan berikan ia kesempatan untuk mengungkapkan emosi yang dirasakannya.

Namun, bagaimana bila sudah terlanjur terjadi?

Menyembuhkan atau mengatasi anak yang mengalami internalizing behavior dapat dimulai dari orang tuanya. Orang tua sebaiknya memberikan perhatian dan kasih sayang lebih pada anak.

Berikan waktu khusus bersama dengan anak. Temani saat anak merasa cemas, hingga ia lebih tenang.

“Bila anak terlihat mengalami hal yang serius dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli guna mendapatkan penanganan dan terapi yang dibutuhkan sesuai dengan tingkat kedalaman anak mengalami internalizing behavior,” saran Angeline.

Angeline juga berpesan agar terhindar dari internalizing behavior, anak membutuhkan pola asuh yang ‘sehat’ dalam artian dapat memberinya kesempatan untuk menyampaikan pendapat, perasaan dan penerimaan dari orang tuanya dalam hal apapun.

Let's share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Nazri Tsani

Nazri Tsani