Waspadai Asfiksia

Waspadai Asfiksia

Awal kehidupan bayi memang merupakan masa paling kritis. Karenanya, perlu perhatian khusus agar dapat terhindar dari berbagai hal yang tidak diinginkan. Termasuk mewaspadai asfiksia, yang kabarnya merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir
Organisasi kesehatan dunia, WHO, mengatakan bahwa 45% dari kematian balita didominasi oleh bayi yang baru lahir. Dimana 75% diantaranya tercatat meninggal pada minggu pertama kelahiran. Sementara 25-45% lainnya meninggal pada 24 jam pertama kehidupannya.
Ketika diteliti, penyebabnya pun beragam. Mulai dari kelahiran prematur, cacat bawaan, infeksi, hingga kematian mendadak atau SIDS. Namun, tahukah Anda? Ada satu kondisi bernama asfiksia yang berdasarkan data WHO tahun 2011 ditenggarai sebagai penyebab utama kematian pada bayi baru lahir. Untuk lebih mengenal asfiksia, berikut perbincangan SBH dengan dr. Bertha Soegiarto, Sp.A.
T : Apa itu asfiksia?
J : Menurut dr. Bertha Soegiarto, Sp.A, asfiksia merupakan kondisi ketika tubuh bayi kekurangan asupan oksigen. Hal ini dapat diketahui dengan melakukan penilaian APGAR skor, yaitu suatu metode yang mengkaji kesehatan bayi dengan melihat Appearance (warna kulit), Pulse (denyut nadi), Grimace (refleks terhadap rangsangan), Activity (tonus otot), dan Respiration (usaha bernapas).
Tanda-tanda bayi mengalami asfiksia berdasarkan APGAR skor adalah kulitnya berwarna kebiruan atau pucat, denyut nadi lemah, tidak aktif bergerak, dan bayi tidak bernapas maupun menangis saat lahir.
“Bila asfiksianya berat, terkadang juga disertai kejang-kejang dan gangguan kesadaran,” tambah dr. Bertha.
Selain itu, tanda-tanda asfiksia juga dapat terlihat dari komplikasi organ yang terjadi. Dr. Bertha mencontohkan, jika ginjal yang mengalami komplikasi, maka bayi akan terlihat bengkak dan produksi urin sedikit. Sementara jika hati yang mengalami komplikasi, maka bayi akan terlihat kuning atau timbul perdarahan.
T : Apa saja penyebab asfiksia?
J :  Dituturkan dr. Bertha, pada dasarnya, asfiksia terjadi karena segala sesuatu yang menghalangi proses transfer oksigen dari ibu ke janin pada saat bayi belum lahir. Penyebabnya pun dapat ditinjau dari masa kehamilan serta proses kelahiran bayi itu sendiri.
“Asfiksia dapat terjadi ketika ada komplikasi seperti pendarahan plasenta, lilitan tali pusat, atau penyakit darah tinggi pada ibu. Selain itu, usia kehamilan yang lewat waktu yaitu lebih dari 42 minggu juga bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya,” jelas dr. Bertha.
Sedangkan jika ditinjau dari proses kelahiran itu sendiri, maka segala sesuatu yang menjadi penyulit selama persalinan dipastikan dr. Bertha sebagai penyebab asfiksia. Misalnya persalinan yang terlalu lama, persalinan dengan tindakan ekstraksi vakum, forsep, dan lain sebagainya.
T : Apa dampak yang ditimbulkan asfiksia?
J : Dikarenakan asfiksia merupakan suatu kondisi dimana tubuh kekurangan oksigen, maka sudah tentu asfiksia dapat menyebabkan gangguan fungsi organ tubuh. Karena seperti yang kita ketahui,  oksigen sangat dibutuhkan oleh semua organ tubuh.
Lebih lanjut dr. Bertha mengatakan bahwa organ tubuh yang paling sensitif adalah otak. “Dengan adanya asfiksia, maka dapat menyebabkan kerusakan otak. Seperti perdarahan yang nantinya dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan perkembangan, gangguan bicara, dan lain sebagainya,” tuturnya.
Berita baiknya, tidak semua bayi yang mengalami asfiksia selalu mengalami kerusakan organ seperti yang telah dijelaskan di atas. Ada pula bayi yang tidak mengalami efek jangka panjang. Hal ini sebenarnya ditentukan oleh seberapa lama bayi mengalami kekurangan oksigen. Semakin lama bayi tidak beroksigen, maka semakin besar kemungkinan bayi mengalami komplikasi organ yang lebih serius.
T : Lantas, bagaimana cara menangani dan mencegah terjadinya asfiksia?
J : Bertha mengatakan, asfiksia memang harus cepat ditangani sehingga dapat mengembalikan fungsi organ tubuh seoptimal mungkin dan mencegah timbulnya komplikasi. Untuk menanganinya, dokter akan menyesuaikan dengan tingkat keseriusannya. Misalnya, memberikan stimulasi pada bayi seperti menghisap area tenggorokan pada belakang mulut bayi dengan kateter. Selain itu, dapat juga dilakukan pemberian oksigen melalui face mask. Jika cara-cara stimulasi tidak berhasil, tenaga medis wajib melakukan resusitasi.
“Sebenarnya, asfiksia dapat dicegah sesuai dengan penyebabnya. Caranya dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang optimal sehingga dapat mendeteksi faktor-faktor penyebabnya  sedini mungkin,” ujar dr. Bertha mengakhiri.
 

Yuk berbagi artikel ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Daftar Isi