Vaksin Demam Berdarah, Masih Amankah Diberikan?

Kehadiran vaksin demam berdarah sempat memicu kontrovesi. Pasalnya, vaksin yang diharapkan bisa mencegah penyakit akibat gigitan nyamuk ini belakangan justru dikabarkan dapat membuat kondisi penderitanya semakin buruk. Lalu, bagaimana kabar perkembangan vaksin ini sekarang?

Seperti yang kita tahu, nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus dengue merupakan penyebab utama dari demam berdarah. Celakanya, nyamuk ini umumnya berkembang biak di daerah atau negara beriklim tropis, seperti Indonesia. Tak heran jika ketika musim pancaroba tiba, wabah demam berdarah pun kerap terjadi. Bahkan menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 3,9 juta orang di seluruh dunia yang berisiko untuk terinfeksi penyakit ini. Sebagian besar atau 75% diantaranya justru berada di negara-negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Melihat besarnya jumlah korban yang bisa diakibatkan penyakit ini, wajar jika masyarakat menanti-nantikan kehadiran vaksin penangkalnya. Akhirnya di bulan Agustus 2016, secara resmi vaksin demam berdarah pun mulai masuk ke Indonesia. Sayangnya setahun kemudian, tepatnya Desember 2017, perusahaan farmasi Perancis, Sanofi Pasteur yang memproduksi vaksin demam berdarah mengumumkan bahwa vaksin ini ternyata hanya efektif digunakan oleh orang yang sudah pernah terkena demam berdarah. Sementara bagi yang belum pernah terjangkit demam berdarah justru kemungkinan bisa memperparah kondisinya.

Benarkah demikian? Untuk mengetahui kebenarannya, Majalah SBH sengaja menemui Prof Kusnandi, Satgas Imunisasi PP IDAI (IkatanDokterAnak Indonesia). Simak perbincangannya disini.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp