Stunting, Masalah yang Merenggut Kecerdasan Anak

“Bukan hanya tinggi badan, tapi stunting juga bisa merenggut kecerdasaan seorang anak,”
Dibanding batuk, pilek atau flu, nama stunting mungkin belum begitu familiar didengar. Tapi bukan berarti stunting bisa dianggap sepele, pasalnya jika tak segera ditangani, kelak kualitas hidup anak pun kedepannya bisa terganggu.

Stunting sendiri mengacu pada kondisi di mana anak mengalami gagal tumbuh, yang ditandai dengan tinggi badan di bawah rata-rata dan diakibatkan karena kurang gizi dalam waktu lama. Selain pertumbuhan yang terhambat stunting pun juga menyebabkan kecerdasaan jadi merosot.

Masalah ini bukan isapan jempol belaka, sebab banyak anak yang telah menjadi korbannya. Riset dari Kementerian Kesehatan di tahun 2017 menyebut jika pravelensi balita stunting di Indonesia mencapai 29,6%, itu artinya hampir sepertiga balita di Indonesia menderita stunting.

“Mengapa bisa demikian? Sebab di usia 0-2 tahun atau 1000 hari pertama kehidupan itu adalah masa krusial di mana otak sedang tumbuh dengan pesat bahkan hingga 90%. Sehingga pemberian gizi yang baik adalah wajib hukumnya. Kekurangan gizi akan mengganggu kecerdasan” ujar dr. Pingkan Palilingan, SpA.

Beragam Masalah Akibat Stunting
Stunting memang tak bisa lepas dari masalah gizi. Apa yang dimakan oleh anak, itu akan sangat berpengaruh pada kesehatannya, dalam hal ini makanan bergizi rendah tak bisa mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.

Sehingga akhirnya stunting pun ditandai dengan perawakan anak yang terlihat lebih pendek dari anak seusianya dan lambat dalam belajar karena kecerdasannya terganggu. Padahal tubuh yang sehat dan otak yang cerdas seperti yang kita tahu merupakan hal vital dalam kehidupan.

“Penelitian membuktikan 25% anak yang mengalami malnutrisi atau gizi buruk, lalu ketika dewasa di tes IQ ternyata hanya berada di skor 51-70. Sementara 40% lainnya berada di angka 71-90 . Padahal seperti yang kita tahu jika level 90 saja hanya cukup untuk belajar di bangku SMP,” tegas dokter Pingkan yang sehari-hari praktek di Eka Hospital BSD.

Mengingat ada begitu banyak efek buruk akibat stunting, dokter Pingkan mengingatkan para orangtua untuk kontrol rutin ke dokter. Mengapa? Pasalnya gejala stunting sendiri sebenarnya bisa dideteksi sejak usia 3 atau 4 bulan, yang dilihat dari kenaikan tinggi bayi tidak begitu berarti, bahkan stuck atau tidak bertambah sama sekali.

Nah bila masih di bawah 2 tahun, stunting bisa diperbaiki dengan beragam saran dan perawatan atas arahan dokter.
“Jika di atas 2 tahun sudah irreversible atau tidak bisa diperbaiki. Ya gimana mau diperbaiki soalnya perkembangan otak bisa sampai 90% terjadi di usia 0-2 tahun itu kok,” sambungnya.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp