Siapa Sangka Ternyata ‘Silent Killer’ Ada Di sekitar Kita

Siapa Sangka Ternyata ‘Silent Killer’ Ada Di sekitar Kita

Demam berdarah, meningitis, flek paru dan pneumonia tergolong sebagai penyakit silent killer. Kedatangannya hanya menimbulkan gejala ringan sebelum akhirnya memburuk dan merenggut nyawa.

Nah Sahabat SBH tahu tidak jika ternyata selain penyakit, beberapa kegiatan sehari-hari pun bisa tergolong silent killer. Menurut dr Miza Dito Afri dari RSIA Tumbuh Kembang, Cimanggis Depok setidaknya ada 4 kegiatan yang jika tak diawasi dengan benar, bisa membuat anak celaka. Diantaranya:

Tersedak

Tersedak disebut-sebut sebagai salah satu kecelakaan yang masuk kategori silent killer, baik itu tersedak air susu, maupun karena menelan benda-benda kecil. “Tersedak menjadi sangat berbahaya karena masa pertolongan pertamanya relatif singkat,” papar Miza.

Efek dari tersedak bisa menyebabkan penyumbatan saluran pernapasan, sehingga  bisa memunculkan kerusakan otak hingga kematian. Untuk menghindari anak tersedak, maka ajari mereka makan dan minum secara perlahan alias jangan cepat-cepat. Jangan pula membiarkan anak makan dan minum sambil bercanda atau tiduran, serta potong makanan, terutama buah-buahan dalam ukuran kecil sesuai dengan mulut anak. Pastikan juga untuk selalu mengawasi balita, yang karena rasa penasarannya kerap memasukan berbagai benda asing ke mulutnya.

Lalu, apa saja gejala tersedak pada bayi di bawah satu tahun? Sumbatan benda asing itu biasanya menyebabkan kulit wajah bayi menjadi kebiruan, sulit bernapas, ketidakmampuan untuk menangis, lemah, hilang kesadaran, atau ketika bernapas terdengar suara lembut bernada tinggi.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperhatikan kondisi buah hati. Bila dia terbatuk dan menangis dengan keras, itu justru dapat membantu mendorong benda keluar dari jalan napas. Namun, jika anak tak bisa batuk dan menangis, maka cobalah lihat benda apa yang menyumbat saluran pernapasannya. Bila benda penyebab sumbatan itu terlihat, cobalah untuk mengambilnya dengan jari. Bila tidak terlihat jangan mencoba untuk mengoreknya atau memberinya minum karena hanya akan membuatnya tersangkut lebih dalam.

Sebuah situs kesehatan menerangkan bahwa untuk memberikan pertolongan pertama pada bayi yang tersedak, maka orangtua dapat menegkurapkan bayi di sepanjang lengan bawah dan gunakan paha atau pangkuan untuk mendapatkan dukungan. Pegang dada bayi di tangan dan rahang dengan jari. Arahkan kepala bayi ke bawah, lebih rendah dari badan. Kemudian berikan hingga 5 pukulan cepat dan kuat di antara tulang belikat bayi dengan telapak tangan yang bebas.

Jika objek tidak keluar dari jalan napas setelah 5 pukulan, balikkan wajah bayi, gunakan paha atau pangkuan untul mendukung kepala, tempatkan 2 jari di tengah tulang dada tepat di bawah puting susu. Berikan 5 dorongan cepat ke bawah, tekan dada sepertiga sampai setengah dari kedalaman dada. Lanjutkan 5 pukulan kembali diikuti dengan 5 dorongan dada sampai benda keluar.

Jika anak menjadi tidak responsif, berhenti bernapas, atau berubah biru, berikan napas buatan dan segera bawa ke dokter terdekat. Para ahli yang tergabung di situs kesehatan tersebut mengingatkan, jangan melakukan tepukan dan dorongan dada jika bayi memiliki riwayat asma. Dalam kasus ini lakukan napas buatan sembari membawa ke dokter terdekat.

Berenang

Kasus tenggelam banyak terjadi pada anak usia 1 hingga 4 tahun. Hampir setengah dari kasus meninggal karena tenggelam terjadi di kolam renang. Karena itu, orangtua jangan pernah mengendorkan pengawasan ketika anak berenang. Memiliki kemampuan berenang tidak menjamin apa pun. Untuk mengurangi risiko tenggelam, jangan pernah lupa menggunakan jaket pelampung yang pas. Namun, pengawasan tetap saja harus dilakukan. Kasus tenggelam kerap terjadi begitu saja, sementara orangtua tidak mendengar teriakan minta tolong sedikit pun.

Kecelakaan karena alat bantu jalan

Alat bantu jalan atau baby walker ternyata menjadi penyebab kecelakaan yang bisa dimasukkan ke dalam kategori silent killer. Itu sebabnya, banyak negara mengeluarkan imbauan untuk tidak menggunakan baby walker. Dengan alat bantu jalan tersebut, anak bisa bergerak dengan cepat dalam hitungan detik, sehingga kerap kali orangtua tak sempat menghentikan ancaman kecelakaan. Terjatuh dari tangga seringkali terjadi. Akibatnya buah hati bisa mengalami cidera tulang dan yang paling berbahaya cidera di kepala Menelan obat

Balita penuh dengan rasa ingin tahu. Mereka juga dikenal sebagai pengekor, ingin mencoba apa yang dilakukan orang dewasa. Menelan obat yang ada di meja, mencicipi obat kumur, kosmetik, dan sebagainya sering muncul sebagai kasus. Untuk kasus seperti itu, tidak ada cara lain kecuali orangtua lebih hati-hati meletakkan barang. Letakkan jauh dari jangkauan anak, dan beri pengertian pada mereka bahaya menelan cairan, pil, atau apa pun tanpa bertanya terlebih dahulu.

Kabel listrik

Ini termasuk kecelakaan yang juga sering terjadi dan membahayakan nyawa. Rasa penasaran atau keinginan buah hati di bawah lima tahun untuk mulai melakukan sendiri berbagai tindakan, membuat mereka kerap mencoba memasukkan steker ke stop kontak. Hati-hati, sebaiknya semua stop kontak di rumah diberi pengaman. Jangan lupa ajak bicara buah hati, terutama yang sudah berusia empat tahun, beri pengertian tentang bahaya listrik dan pemahaman tentang cara kerjanya. Tentu dengan cara dan bahasa yang sudah disesuaikan dengan usia.

Yuk berbagi artikel ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Daftar Isi