check it now

Perlukah Antibiotik Pada Balita?

Antibiotik pada balita ibarat pisau bermata dua. Bila penggunaannya tepat, antibiotik bisa menjadi penyelamat. Sebaliknya bila salah sasaran maka akan jadi bumerang.

Penggunaan antibiotik pada balita butuh kehati-hatian.

Memang, rasa panik dan was-was saat balita terserang penyakit membuat orangtua sesegera mungkin membawa anaknya ke dokter.

Berbagai resep obat yang diberikan bisa jadi langsung diminumkan, tanpa ditanyakan terlebih dahulu kandungan apa saja yang terdapat di dalamnya. 

Pokoknya, si kecil bisa segera sembuh. Padahal mungkin salah satu obat yang diresepkan adalah antibiotik.

Antibiotik itu sendiri memang tergolong jenis “obat dewa” yang paling sering diresepkan. Karena berfungsi sebagai pembunuh kuman penyakit pada tubuh, antibiotik sangat berguna bagi banyak keluhan.

Mulai dari keluhan pasca operasi sampai penyakit ringan semisal batuk dan flu.

Tapi yang perlu diingat, fungsi tersebut berlaku pada orang dewasa.

Pada anak, terutama balita penggunaan antibiotik harus rasional, aman, dan efektif alias RUM (Rational Use of Medicine).

Menurut  dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC., dokter spesialis anak dari BJ Medical Center, penggunaan antibiotik pada balita harus sangat teliti.

Pada bayi misalnya, peresepan antibiotik sebelum mencapai usia enam bulan sangat berisiko. 

Namun faktanya, pada kasus-kasus tertentu bayi yang lahir dengan gangguan fungsi alat tubuh atau menjelang operasi harus tetap diberikan antibiotik.

“Pada dasarnya antibiotik memang bermanfaat bagi banyak keluhan. Tapi harus diingat, ada beberapa penyakit pada anak yang tanpa disadari bisa sembuh sendiri tanpa perlu menggunakan antibiotik.”

dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC.

Karena itu, dokter Wiyarni yang akrab disapa dengan dr. Oei ini mengaku tidak wajib memberikan resep antibiotik pada balita, kecuali pada kasus-kasus tertentu.

“Obat yang tepat diberikan setelah diagnosisnya ada. Seharusnya penyebab penyakit dicari terlebih dahulu, bukan hanya ditanya keluhannya. Nah, setelah ditemukan diagnosis, baru bisa ditentukan apakah penyakitnya akan sembuh sendiri, menggunakan terapi non-farmakologi, mendapat antibiotik, atau harus diobservasi lebih lanjut,” paparnya.

Dokter Oei menggarisbawahi, yang perlu orangtua ketahui adalah bahwa penggunaan antibiotik pada balita hanya disarankan untuk mengobati penyakit karena infeksi bakteri, seperti infeksi telinga, radang tenggorokan akibat infeksi bakteri Streptococus, infeksi saluran kemih, tifus, TBC, radang otak (meningitis), radang paru (pneumonia), dan sebagainya.

Baca juga : Saat Anak Mengigau Karena Demam

Khusus untuk flu atau demam yang jamak terjadi pada bayi, antibiotik memang memiliki kemampuan membunuh virus tesebut. Tapi dampaknya merusak sistem kekebalan tubuh bayi dan menyebabkan bakteri yang resisten berkembang biak.

Foto: Freepik

Akibatnya, bayi malah jadi mudah sakit. Penggunaan antibiotik secara terus menerus juga bisa mengganggu fungsi hati dan memicu gejala asma pada bayi di masa depan.

Oleh sebab itu orangtua lagi-lagi harus jeli menangkap gejala penyakit pada anak. Apakah flu tersebut benar disebabkan karena virus atau sekedar pengaruh perubahan cuaca serta alergi.

“Bila ada indikasi batuk dan pilek pada bayi selama lebih dari 10-14 hari yang diikuti demam naik-turun maka perlu dicurgai adanya virus, dan boleh diresepkan antibiotik. Tapi kalau hanya batuk sesekali pada pagi atau malam hari biasanya itu karena alergi,” terang dr Oei.

Baca juga : Gejala dan Cara Mengatasi Batuk Rejan

Untuk batuk karena faktor selain virus, dokter Oei menganjurkan melakukan terapi non-farmokologi seperti istirahat, pemberian nutrisi yang tepat, dan menyesuaikan aktivitas dengan penyakit.

Bisa juga dengan memberikan obat tradisional yang lebih ramah terhadap kondisi bayi contohnya memberikan air hangat yang dicampur jeruk nipis dan madu, menjemur bayi di bawah panas matahari dan banyak minum supaya lendir lebih encer untuk keluhan pilek, serta mandi dengan air hangat untuk gejala demam.

Baca juga : 5 Cara Alami Mengeluarkan Dahak pada Bayi

Akan tetapi, bila memang terdapat indikasi penyakit yang mewajibkan anak mengkonsumsi antibiotik maka orangtua harus lebih teliti menaati aturan minum obatnya.

Pertama ketahui dan pahami efek sampingnya. Beberapa obat antibiotik menimbulkan efek samping mengantuk atau mual. Ini bisa disiasati dengan makan sebelum minum obat, atau tidak memberi antibiotik saat pagi hari. Jangan lupa juga untuk mengatur jeda waktu antara antibiotik dan minum susu. Sebab kandungan susu bisa mengurangi penyerapan beberapa jenis obat.

Untuk mempermudah takaran obat antibiotik pada balita, gunakan alat takaran yang ada pada kemasan obat, bukan sendok teh. Untuk anak di bawah dua tahun, orangtua bisa meminta pipet, kepada dokter untuk obat lebih mudah masuk ke dalam mulut balita.

“Pengobatan penyakit tidak melulu harus obat, apalagi pada bayi. Antibiotik juga efektif, asalkan orangtua harus tahu indikasi penyakit, diagnosis, penyebab, serta takaran penggunaan obat yang tepat,” tandas dokter Oei.

Let's share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Redaksi

Redaksi

Media Sang Buah Hati menawarkan perspektif keluarga modern dalam publikasi free magazine dua bulanan dan website. Setiap tahun, SBH juga menyelenggarakan Pemilihan Model Cover dan SBH Berbakat sebagai wadah ekspresi serta bakat anak-anak.