check it now

Mengenal Lebih Jauh Tentang Hamil Anggur

Sejatinya, kehamilan selalu disambut dengan gembira. Namun apa jadinya bila kehamilan yang ditunggu-tunggu ternyata merupakan kehamilan anggur?

Daftar Isi Artikel

sumber: freepik

Kegagalan pembentukan janin di rahim atau lebih dikenal dengan istilah hamil anggur seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi wanita. Pasalnya, selain bisa mengelabui, akibat yang ditimbulkan pun dapat mengancam jiwa.

Menurut dr. Rosdiana Ramli, SpOG, hamil anggur atau dalam istilah medis dikenal dengan sebutan mola hidatidosa merupakan kehamilan yang normal.

“Permasalahannya adalah cikal bakal janin yang seharusnya berkembang menjadi plasenta justru terhenti. Sel yang gagal tumbuh tersebut menumpuk menjadi tumor dengan bentuk seperti anggur. Itulah sebabnya disebut hamil anggur.” jelas dr. Rosdiana.

Umumnya ada dua jenis hamil anggur yaitu complete mole dan partial mole.

Complete mole adalah hamil yang keseluruhannya palsu. Jadi hamil anggurnya dari awal memang tidak terdeteksi. Hanya saja perutnya membesar layaknya wanita hamil. Padahal itu bukan kehamilan tetapi tumor jinak yang bersarang di tubuh.

Sedangkan pada partial mole, kehamilan awalnya memang benar-benar normal, namun kemudian perkembangannya janinnya menjadi abnormal.

Apakah hamil anggur berbahaya bagi pengidapnya?

Pada kebanyakan kasus hamil anggur, tumor yang ditemui umumnya jinak. Namun jika dibiarkan tentu bisa berkembang menjadi tumor ganas dan membahayakan nyawa pengidapnya.

“Itulah sebabnya mengapa hamil anggur perlu segera dideteksi. Sebab kondisi ini juga dapat memicu pendarahan yang sangat hebat sehingga bisa menimbulkan anemia. Selain itu, tumor pada hamil anggur yang terlambat ditangani juga memiliki kemungkinan 20% berkembang biak menjadi mola destruens atau kariokarsinoma (kanker).” ungkap dr. Rosdiana.

Secara spesifik penyebab pasti hamil anggur belum diketahui. Namun ada beberapa faktor yang diduga menjadi pemicu hamil anggur yaitu kekurangan asupan makanan yang mengandung protein, asam folat, dan karoten.

Ovum yang sudah patologis sehingga mati dan terlambat dikeluarkan sampai menumpuk juga diduga menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu ada juga dugaan karena infeksi virus serta faktor kromosom.

Bagaimana gejala hamil anggur yang biasa dirasakan wanita?

sumber: freepik

Gejala awal hamil anggur pada dasarnya sama seperti kehamilan normal. Bahkan bisa saja saat melakukan tes kehamilan hasilnya positif.

Meski demikian, sebenarnya ada beberapa gejala yang mudah dikenali pada kehamilan anggur. Misalnya pendarahan pada awal trimester pertama dan mengeluarkan gelembung cairan seperti buah anggur, intensitas mual dan muntah sangat tinggi, rahim membesar namun lebih besar dari usia kehamilan karena biasanya hamil anggur berkembang lebih cepat dari kehamilan pada umumnya.

Selain itu, tekanan darah menjadi tinggi seiring dengan kadar tiroid dalam darah yang ikut meningkat, wajah terlihat sangat pucat dan berwarna kekuning-kuningan—biasanya disebut sebagai muka mola atau mola face dan yang terpenting adalah tidak terasanya gerakan bayi serta tidak terdengar detak jantungnya.

“Bila demikian, maka cara termudah untuk memastikannya adalah dengan melakukan Ultrasonografi (USG) dan rontgen. Apabila saat di-rontgen tidak terlihat tulang janin berarti dapat dipastikan itu adalah mola hidatidosa. Bisa juga disertai dengan tes Hormon Chorionic Gonadotropin (HCG) yang dilanjutkan dengan pemeriksaan secara mikroskopis adanya cairan gelembung mirip anggur atau tidak.” lanjut dr. Rosdiana.

Biasanya wanita usia berapa yang rentan terkena hamil anggur?

Hamil anggur biasanya banyak dialami wanita yang berusia di bawah 20 tahun. Sebab pada usia tersebut, organ reproduksi wanita belum matang seutuhnya.

Selain itu, hamil anggur juga bisa dialami wanita dengan usia di atas 34 tahun, sudah memiliki anak lebih dari 3 serta pernah mengalami riwayat hamil anggur sebelumnya.

“Setelah didiagnosis mengidap hamil anggur, maka pasien langsung melakukan kuretase untuk membersihkan rahim. Sesudah itu, pasien wajib kontrol ke dokter untuk memantau kadar beta HCG agar tetap dalam kondisi normal.” tutup dr. Rosdiana.

Let's share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Redaksi

Redaksi

Media Sang Buah Hati menawarkan perspektif keluarga modern dalam publikasi free magazine dua bulanan dan website. Setiap tahun, SBH juga menyelenggarakan Pemilihan Model Cover dan SBH Berbakat sebagai wadah ekspresi serta bakat anak-anak.