Inilah Penyakit Silent Killer yang Menghantui Anak Indonesia

Diam-diam menjangkiti tubuh tanpa menimbulkan gejala yang berarti. Mungkin itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa itu penyakit silent killer. Ya, ada beberapa penyakit berbahaya yang pada awalnya terlihat sepele karena datang dengan gejala ringan,  seperti batuk, pilek atau demam biasa. Padahal sebenarnya, itu hanya permulaan karena gejala yang lebih mengancam tengah menanti di depan.

dr Miza Dito Afri dari RSIA Tumbuh Kembang, Cimanggis Depok pun tak menampik jika masalah ini memang kerap membuat orangtua  lengah. Dokter Miza  mengingatkan agar orangtua selalu waspada jika anak mengalami demam sampai lebih dari tiga hari. Sebab menurutnya, hampir semua penyakit berbahaya diawali dengan demam.

“Kedengarannya memang sepele, tapi saya memang selalu menekankan agar jangan pernah main-main dengan yang namanya demam. Mengapa? Karena hampir semua penyakit berbahaya diawali dengan demam. Tapi biasanya gejala tersebut justru kerap terabaikan, dan anak dianggap hanya menderita batuk pilek biasa,” tuturnya.

Lebih lanjut dokter Miza menjelaskan, agar saat anak demam, orangtua jangan mengambil risiko. Terlebih jika tidak ada perubahan selama 3 hari “Sebaiknya segera bawa anak ke dokter jika selama 3 hari demamnya tidak ada perubahan, sehingga apabila ada sesuatu yang membahayakan bisa segera ditangani. Biasanya, dokter akan menyarankan melakukan cek darah guna  berjaga-jaga atau mengetahui lebih jauh ada atau tidaknya kemungkinan penyakit di luar flu,” terang Miza lagi.

Lalu, penyakit apa saja sih yang sebenarnya termasuk silent killer pada anak? Berikut diantaranya :

Demam Berdarah

Demam berdarah disebut dokter Miza sebagai silent killer yang paling sering mengancam nyawa anak-anak di Indonesia. Penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti itu kerap terlambat terdeteksi. Pasalnya, gejalanya tidak langsung terlihat dan baru muncul setelah hari ke-4 hingga ke-14 dan bisa berlangsung selama satu minggu.

Biasanya, anak yang terserang demam berdarah akan merasa nyeri pada otot dan sendi, terlihat lemas, demam tinggi, tidak nafsu makan, pusing, dan terkadang muncul bintik merah. “Sayangnya, bintik merah tersebut tidak selalu terjadi. Karena itu kembali saya sarankan agar orangtua waspada bila anak mengalami demam lebih dari 3 hari,” tegas dokter Miza.

Kemudian untuk mencegah terjadinya penyakit demam berdarah, maka disarankan untuk selalu membersihkan lingkungan dengan jalan selalu menguras dan menutup  bak-bak penampungan air yang kerap dijadikan tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti. Tidur menggunakan kelambu serta tidak menggantung pakaian terlalu lama di kamar juga bisa mengurangi risiko si kecil diserang oleh nyamuk aedes aegypti.

Meningitis

Meningitis atau radang pada selaput pelindung saraf otak dan tulang belakang juga masuk dalam kategori silent killer yang perlu diwaspadai. Terlebih meningitis kerap menyerang balita dan manula yang kekebalan tubuhnya relatif lemah.

Penyakit yang satu ini biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri. Namun dibandingkan dengan yang disebabkan oleh virus, meningitis akibat bakteri sifatnya lebih berbahaya. Bila meningitis yang disebabkan virus dapat menular lewat udara, maka meningitis akibat bakteri penularannya lebih susah dan umumnya hanya melalui air liur, yang bisa saja tertransfer ke si kecil akibat bersin atau batuk langsung dari pengidapnya, Ciuman di mulut dan penggunaan alat makan yang sama dengan penderita meningitis juga bisa memicu penularannya.

Adapun gejala dari penyakit meningitis sangatlah umum. Seperti demam, pusing, leher terasa kaku dan cepat lelah. Tapi pada bayi, rasa kaku pada leher serta pusing tentu tak bisa diungkapkannya. Oleh sebab itu, apabila bayi terlihat rewel, demam, turun nafsu makannya, menjadi lebih sensitif terhadap cahaya serta berkurang refleksnya atau bahkan terserang kejang, maka orangtua harus segera membawanya ke dokter. Sebab penelitian medis menyebutkan, 10% penderita meningitis berakhir dengan kematian, dan 15% di antara yang selamat harus hidup dengan efek samping seperti kehilangan pendengaran hingga kerusakan otak.

Flek Paru

Flek paru menurut dokter Miza juga bisa masuk dalam kategori silent killer pada anak. Flek paru merupakan sebutan halus untuk penyakit tuberculosis (TB). Umumnya,  anak terserang TB karena terpapar kuman dari orang dewasa, atau tinggal di lingkungan dengan kebersihan yang kurang mendukung. Apabila tidak segera ditangani, maka infeksi TB dapat menyebar ke semua organ tubuh sehingga menyebabkan kematian.

TB pada anak biasanya ditandai dengan demam dan gejala batuk yang tak kunjung sembuh sampai hari ke21 atau lebih. Selain itu, anak yang terinfeksi TB juga terlihat lesu, cepat lelah, berkeringat di malam hari, dan yang pasti berat badannya terus turun. Untuk mencegahnya, langkah pertama yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan anak imunisasi BCG serta menjaga lingkungan selalu bersih.

Kawasaki

Seorang dokter spesialis anak asal Jepang bernama Tomisaku Kawasaki adalah orang pertama yang menemukan penyakit Kawasaki. Dan menurut dokter Miza, penyakit yang tergolong silent killer ini sampai dengan sekarang belum diketahui penyebabnya.

Secara umum, Gejala dari Kawasaki antara lain adalah demam lebih dari 5 hari, bibir, mata, telapak kaki dan telapak tangan berwarna merah. Lidah pun tak luput dari warna merah seperti stroberi. Selain itu, salah satu kelenjar di leher penderita biasanya bengkak sehingga tampak seperti gondongan. Terkadang, tampak pula ruam kecil pada kulit. Apabila anak mengalami gejala seperti itu, segeralah bawa ke dokter. Sebab bila terlambat ditangani, penyakit Kawasaki akan sangat berbahaya karena bisa menyerang jantung dan merusak arteri koroner.

Dehidrasi

Dehidrasi pada anak bisa berujung kematian. Karena itu, penting mengenali tanda-tanda dehidrasi, terutama pada bayi yang memang belum bisa mengungkapkan keluhannya. Anak yang terkena dehidrasi umumnya akan menderita demam. Di samping itu bibirnya terlihat kering, rewel atau bahkan menjadi kurang aktif. Matanya terlihat cekung, jika kulitnya ditekan akan butuh waktu lebih lama untuk kembali ke bentuk semula, serta tidak buang air kecil selama lebih dari 6 jam. Apabila ada tanda-tanda tersebut, segera bawa ke dokter untuk segera ditangani.

Pneumonia

Infeksi paru-paru atau dalam dunia medis disebut dengan pneumonia merupakan salah satu silent killer pada balita. Bahkan dari data Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dikeluarkan pada tahun 2005, kematian balita akibat penyakit pneumonia mencapai 19-26%. Penyakit pneumonia sendiri umumnya disebabkan oleh virus, bakteri atau bahkan jamur. Anak yang menderita penyakit ini umumnya akan menunjukkan gejala yang khas, diantaranya napasnya lebih cepat, demam, batuk, terlihat lesu, rewel, cepat lelah, sering mengalami kesulitan bernapas dan berat badanya tak kunjung naik atau bahkan turun. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah pneumonia adalah menjauhkan anak dari asap rokok, selalu memberikan asupan bergizi untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya serta selalu menjaga kebersihan lingkungan.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp