check it now

Inilah Akibat Sering Membentak Anak

Membentak anak timbulkan efek jangak panjang

Bentakan mungkin cara paling efektif membuat anak diam seketika kala mereka nakal atau melakukan kesalahan. Tapi sebelum membentak, pertimbangkan dulu efek jangka panjangnya.

Tak bisa dipungkiri, komunikasi adalah alat yang paling vital peranannya dalam menentukan arah suatu hubungan, apakah akan berjalan dengan harmonis atau malah sebaliknya?

Melalui komunikasi yang baik serta pemilihan kata yang sesuai dan intonasi suara yang tepat, hubungan batin yang erat antara orangtua dengan anak akan tercipta.  

Sayangnya, tidak banyak orangtua yang paham tentang hal ini. Komunikasi pun hanya sekadar dijadikan alat untuk menyampaikan apa yang diinginkan orangtua kepada sang anak.

Bahkan tak jarang karena kesal dan merasa anak susah diberi pengertian, komunikasi dalam bentuk bentakan akhirnya dijadikan pilihan.

Padahal menurut para pakar, bentakan justru menjadi salah satu bentuk komunikasi dengan anak yang sebisa mungkin harus dihindari.

Psikolog anak & keluarga, Anna Surti Ariani mengamini hal tersebut. Ia juga mengatakan bahwa bentakan memang bisa berpengaruh buruk pada anak-anak. Selain itu, bentakan juga bisa membuat ikatan batin antara orangtua dengan anak menjadi renggang.  

“Saat usia anak masih di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau membalas bentakan tersebut. Karena sikap pasif itulah, orangtua jadi tidak bisa mengukur seberapa besar dampak psikologis yang bisa ditimbulkan karena membentak,” papar psikolog yang karib disapa Nina ini.

Nina juga menjelaskan bahwa secara medis suara yang keras dan bentakan yang keluar dari mulut orangtua dapat merusak atau menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh.  Terutama pada masa “golden age” yaitu pada usia 2-3 tahun.

Dampak lanjutan dari bentakan juga kemungkinan bisa berbekas dan menjadi trauma yang akan mempengaruhi sikap serta perilaku anak ketika beranjak dewasa.  Anak yang kerap dibentak dan terkena omelan saat kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang minder, takut mengutarakan pendapat dan selalu merasa bersalah.

Disisi lain ada juga kemungkinan anak cenderung menjadi pribadi yang agresif, pemarah, egois, keras kepala, atau pembangkang akibat dibentuk oleh kemarahan orangtuanya.

“Anak cenderung akan meniru perilaku orangtuanya. Seorang anak yang selalu dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia sah-sah saja berkomunikasi dengan menggunakan bentakan, omelan, atau kemarahan,” lanjut Nina.

Solusi terbaik

sumber: freepik

Lantas, bagaimana caranya memberi peringatan yang tepat dan efektif saat anak nakal atau berbuat kesalahan?

Lebih jauh Nina menekankan untuk menghindari bentakan atau kekerasan fisik sebagai bentuk hukuman kepada anak.

“Daripada membentak atau mengancam, lebih baik tekankan konsekuensi.  Anak harus tahu konsekuensi dari setiap tindakan yang ia lakukan. Misalnya bila ia tidak membereskan mainan, maka ia tidak akan mendapat makanan ringan atau waktu bermain. Kesepakatan ini harus dilakukan dengan disiplin namun dikomunikasikan dengan santai. Ini juga dapat membentuk tanggung jawab dan kedewasaan dalam diri anak,” jelasnya

Selain itu, ada baiknya orangtua memandang kesalahan anak dari perilakunya bukan pribadinya. Sehingga apabila memberi hukuman haruslah mengacu pada perbuatannya, bukan mencela anak itu sendiri.

Celaan lewat kata-kata ‘bodoh’, ‘nakal’, dan lain sebagainya hanya akan membuat konsep diri dan harga diri (self esteem) anak menjadi lemah. Sehingga mereka akan memandang dirinya secara negatif dan lupa dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya. Jadi jangan sekali-kali katakan kata-kata negatif itu,” tegasnya.

Nina juga mengharapkan orangtua memiliki sikap yang lebih kreatif dalam menghadapi tingkah anak yang mungkin kurang baik.  Bijaknya sebelum membuat aturan, orangtua juga perlu mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak.

“Orang dewasa dengan anak-anak jelas berbeda. Mulai dari tingkah laku, cara berpikir, hingga kondisi kejiwaannya. Karenanya jangan sekali-kali menyamakan anak dengan orang dewasa dan jangan pernah menggunakan orang dewasa sebagai tolak ukurnya,” tutup Nina.

Let's share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Redaksi

Redaksi

Media Sang Buah Hati menawarkan perspektif keluarga modern dalam publikasi free magazine dua bulanan dan website. Setiap tahun, SBH juga menyelenggarakan Pemilihan Model Cover dan SBH Berbakat sebagai wadah ekspresi serta bakat anak-anak.