Haruskah Si Kecil Belajar Merangkak?

Haruskah Si Kecil Belajar Merangkak?

sumber: freepik

Bayi yang mampu berjalan lebih cepat dari tahapan perkembangan umum tentu membanggakan orangtua. Meski demikian, ternyata ada tahapan perkembangan yang wajib dilalui anak sebelum berjalan, lho.

Menurut penjelasan Dr. Rini Sekartini, SPA(K) dari Klinik Dokter Keluarga (KDK) Kayu Putih FKUI, idealnya tahap perkembangan normal anak yaitu merayap, merangkak, berdiri, berjalan, dan akhirnya berlari. Semua proses tersebut berlangsung dari bayi usia 7-17 bulan.

Namun, bagaimana jadinya bila tidak semua tahapan tersebut dilewati? Pasalnya tidak sedikit bayi yang melewati tahapan merangkak sampai ia bisa berdiri dan kemudian berjalan.

“Pada beberapa kasus memang ada bayi yang tidak melewati tahapan secara keseluruhan, termasuk melewati tahapan merangkak. Hal tersebut terjadi karena kurangnya perhatian dan awareness orangtua untuk memahami pentingnya fase merangkak.” ungkap Dr. Rini.

Selain itu, penyebab lainnya bisa karena anak kurang mendapatkan stimulus (rangsangan) atau anak yang sering dibaringkan telentang akan terlambat merangkak, bahkan mungkin tidak merangkak. Hal tersebut karena kebiasaan berbaring terlentang dapat menghambat kemampuannya merangkak.

Manfaat merangkak bagi tumbuh kembang bayi

Lebih jauh Dr. Rini mengungkapkan memang seharusnya semua tahapan tersebut dilewati bayi. Sebab ada lima kemampuan dasar yang dilatih saat bayi melakukan gerakan merangkak dengan rutin.

Pertama melatih kemampuan berpikir otak kiri dan kanan, untuk menyiapkan diri masuk ke tahap perkembangan selanjutnya.

Kedua, konvergensi (pemusatan pandangan) yang bila terganggu mengakibatkan penglihatan menjadi buram, letih, atau nyeri kepala, sehingga tidak suka membaca.

Ketiga adalah kemampuan koordinasi mata-tangan dan melatih tiga dimensi. Dengan merangkak, bayi akan melatih kemampuan melihat segala sesuatunya secara tiga dimensi. Misalnya, saat berjalan dan ada lubang di depannya, tanpa perlu melihat dengan jelas dari dekat, anak akan langsung tahu dan berupaya menghindarinya.

Keempat, merangkak dapat melatih kekuatan tangan bayi sehingga lebih kuat.

“Bayi yang melewati tahap merangkak saat memasuki usia sekolah dasar akan mengalami kesulitan berkonsentrasi, kurang fokus, tulisan tangannya jelek, gampang jatuh, konvergensi mata kurang bagus, serta koordinasi mata dan kekuatan tangannya kurang bagus.” jelas Dr. Rini.

Kemampuan setiap bayi tentu berbeda. Hal tersebut dipengaruhi oleh berat badan dan lingkungan sekitar yang dapat memotivasi si kecil untuk percaya diri dalam melewati berbagai tahapan perkembangan.

Hal yang perlu dilakukan agar bayi tidak melewati tahapan merangkak

sumber: freepik

Dr. Rini menegaskan bahwa orangtua harus berperan aktif memberikan stimulus atau rangsangan kepada anak melalui beberapa tahap.

Pertama, mulailah dengan melatih bayi tengkurap bolak balik sehingga ia mampu menopang tegak tubuhnya saat tengkurap. Untuk memudahkan gerakan anggota badan dan sendinya, biarkan kaki, lutut, dan siku dalam keadaan telanjang.

Kedua, rangsangan juga bisa dilakukan dengan menggantung mainan kesukaannya di luar jangkauan agar anak yang sedang dalam posisi tengkurap itu berusaha begerak maju untuk meraih mainannya tersebut. Berikan dorongan sedikit secara halus pada bagian bokongnya untuk merangsangnya maju.

Ketiga, orangtua bisa mengganti mainan kesukaan anak dengan sesuatu yang sangat menarik perhatiannya misalnya benda atau mainan baru akan menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan yang lebih besar dalam dirinya.

Karena rasa penasaran itulah, bayi akan berusaha untuk meraih dan memegang benda yang baru dilihatnya itu. Saat bayi sudah mulai berusaha bergerak maju ke depan, coba perlahan-lahan mundurkan benda atau mainan yang ingin diraihnya tersebut. Dengan cara seperti ini, anak tidak sadar bahwa perlahan-lahan ia sudah belajar untuk merangkak.

Saat anak mulai menunjukkan tanda akan merangkap, biarkan dia mengeksplorasi sekitarnya. Pada masa ini kita harus waspada agar anak jangan sampai terjatuh karena gerakannya sudah mulai banyak.

Orangtua harus lebih hati-hati lagi dalam menjaga anak yang sudah bisa merangkak. Saat ia sudah bisa bergerak merangkak kesana-kemari, bukan tidak mungkin bila semua benda yang ditemuinya akan dipegang atau dimasukkan ke dalam mulutnya.

“Hal tersebut wajar, jadi orangtua tak perlu khawatir. Orangtua hanya harus mengawasinya lebih ekstra. Bila perlu singkirkan benda-benda yang sekiranya berpotensi membuat bayi celaka atau melukainya. Adapun yang perlu dikhawatirkan adalah bila si kecil sudah berusia 1,5 tahun dan ia masih belum juga bisa merangkak atau berjalan. Saat hal tersebut terjadi, maka ada baiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.” tutup Dr. Rini.

Yuk berbagi artikel ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Daftar Isi