check it now

Gejala dan Cara Mengatasi Batuk Rejan

Menurut data dari badan kesehatan dunia, WHO,  setiap tahunnya di seluruh dunia terdeteksi 30 sampai dengan 50 juta kasus batuk rejan, dimana 300 ribu diantaranya menyebabkan kematian.
Penyakit seperti apa sebenarnya batuk rejan? Bagaimana gejala dan cara mengatasinya?
Berikut perbincangan SBH dengan dr. Martinus M. Leman, DTMH, Sp.A.

T: Apa sebenarnya yang dimaksud dengan batuk rejan?
J: Batuk rejan adalah istilah awam untuk penyakit Pertussis atau sering juga disebut dengan batuk 100 hari.  Dalam bahasa asing, batuk rejan disebut whooping cough. Penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak, terutama yang berusia dibawah 2 tahun. Penyebabnya adalah infeksi kuman Bordetela Pertussis.

T: Mengapa penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak? Apakah artinya batuk rejan tidak bisa di derita orang dewasa?
J: Batuk rejan pada dasarnya bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Biasanya yang sering diserang adalah orang yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang baik secara umum dan yang tidak memiliki kekebalan khusus terhadap kuman Pertussis. Itu artinya ketika daya tahan tubuh orang dewasa sedang lemah, maka ia juga bisa terkena penyakit ini. Terlebih bila saat kecil, orang tersebut tidak mendapatkan imunisasi DPT.

Secara umum, anak memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Itulah mengapa, seorang anak lebih rentan terkena penyakit batuk rejan dibandingkan orang dewasa. Apalagi bila anak itu tidak lengkap imunisasinya.

T: Seperti apa gejala dari batuk rejan?
J: Gejala yang gampang dikenali dari penyakit ini berupa batuk yang bersifat mendadak dan terus menerus.
Bahkan terkadang sampai membuat pen deritanya sulit bernapas. Gejala tersebut biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar 7 hari, dan selanjutnya penyakit akan berlangsung kurang lebih 6 sampai dengan 8 minggu. Adapun tahapan gejalanya bisa dibagi menjadi 3 bagian, yaitu tahap awal atau stadium kataralis, stadium akut paroksismal, dan stadium konvalesen.

Stadium kataralis atau tahap awal biasanya berlangsung 1-2 minggu dengan gejala seperti pilek, mata merah, mata berair, batuk kering, dan batuk tidak begitu tinggi. Pada tahap ini gejalanya memang agak sulit dibedakan dengan gejala common cold (selesma).

Sementara pada stadium paroksismal atau spasmodic yang berlangsung 2-4 minggu, frekuensi dan derajat batuknya makin berat. Dapat terjadi batuk berulang 5-10 kali tanpa henti dan diakhiri dengan upaya tarik napas yang menyebabkan Bunyi melengking. Selama batuk hebat, muka bisa menjadi kebiruan, mata menonjol, keluar banyak air mata, keluar liur, bahkan sering terjadi pecahnya pembuluh darah mata akibat batuk terlalu keras dan sering. Karena batuk yang sifatnya terus menerus itu jugalah, maka anak-anak yang menderita batuk rejan umumnya terlihat lemas dan stress.

Tahap selanjutnya adalah stadium konvalesen, yaitu stadium penyembuhan di mana gejala akan berangsur berkurang secara bertahap selama 2-3 minggu. Secara lebih spesifik, gejala dari penyakit batuk rejan sebenarnya juga dipengaruhi oleh umur dan riwayat penderitanya. Untuk anak yang berusia kurang dari 2 tahun misalnya, gejalanya bisa berupa batuk mendadak yang sulit berhenti sehingga menimbulkan sesak, muntah, atau bahkan kejang. Sementara bagi anak yang usianya lebih besar, gejalanya cenderung lebih ringan dan lebih cepat reda serta jarang sampai terjadi kejang.

T: Apakah batuk rejan merupakan penyakit menular?
J: Ya, batuk rejan adalah penyakit menular. Lebih dari itu, batuk rejan merupakan penyakit yang penularannya sangat mudah, yaitu melalui sekresi udara pernapasan, yang dapat terlontar ketika penderitanya sedang batuk-batuk. Kuman yang keluar akibat batuk-batuk tersebut kemudian terhirup oleh orang lain sehingga terjadilah penularan.

Disebutkan bahkan attack rate penyakit ini adalah 80-100% pada penduduk yang rentan. Artinya, bila ada seorang anak yang tidak lengkap imunisasinya, terlebih belum mendapatkan imunisasi DPT berdekatan dengan seorang penderita Pertussis yang sedang batuk-batuk, maka kemungkinan tertularnya adalah 80- 100%.

T: Lalu, bagaimana cara tepat merawat anak yang terkena batuk rejan?
J: Penderita Pertussis sudah pasti perlu mendapatkan perawatan dokter, khususnya untuk mengurangi gejala dan komplikasi yang terjadi. Dalambeberapa kasus, seperti pada anak-anak di bawah usia 2 tahun, orangtua perlu senantiasa mengawasi jalannya pernapasan si anak. Artinya jangan sampai saluran pernapasannya tertutup lendir.

T: Apa yang harus dilakukan agar anak-anak bisa terhindar dari batuk rejan?
J: Sebenarnya, pemberian imunisasi lengkap merupakan cara paling efektif untuk mencegah anak-anak terserang batuk rejan. Khususnya imunisasi DPT (Diphteri-Pertusis-Tetanus) yang merupakan imunisasi dasar atau wajib.
Patut di ingat, batuk rejan adalah penyakit yang banyak menyebabkan kematian pada anak-anak di negara berkembang. Karena itu, berilah anak imunisasi yang lengkap sehingga bisa terhindar dari berbagai penyakit berbahaya seperti halnya batuk rejan.

Let's share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Abdi SBH

Abdi SBH