Sehat

Rahasia Tetap Sehat Pasca Lebaran

Tuesday, 9 August 2016

Bagaimana cara menjaga tubuh agar tetap sehat pasca Lebaran? Kuncinya ternyata hanya satu. Apa itu?  

Lebaran memang momen yang paling dinanti-nantikan, baik oleh umat muslim maupun non-muslim di Indonesia. Pasalnya, bagi umat muslim, Lebaran yang menandakan hari kemenangan biasanya dirayakan dengan acara silahturahmi yang bertabur  suguhan kue dan makanan lezat melimpah. Sementara bagi non-muslim, Lebaran kebanyakan diartikan sebagai libur panjang, dimana kegiatan berburu kuliner pun dimulai.

Masalahnya, rata-rata hidangan saat Lebaran itu sarat lemak, gula, dan karbohidrat. Begitu juga dengan makanan yang banyak tersedia diluar rumah. Karena itu, Ahli Gizi Universitas Hasanuddin, Makassar Andi Imam Arundhana S Gz mengingatkan agar tetap makan secukupnya, tidak berlebih. “Jenis makanan apa pun bisa kita nikmati, tapi konsumsilah dalam jumlah yang wajar. Jangan berlebihan,” katanya.

Orang dewasa, terang Andi, hanya memerlukan sekitar 40-55 gr lemak perhari. Itu berarti, dengan mengkonsumsi 2 potong daging sapi atau sekitar 70 gr sudah memenuhi 15 gr lemak. Sisanya bisa diperoleh dari makanan lain, tapi disarankan didapat dari sumber nabati.

Untuk makanan berlemak seperti daging, dalam satu hari cukup dikonsumsi satu kali, kecuali ikan. Dia juga  mengingatkan agar berhati-hati dengan makanan pedas. Sangat disarankan membatasi konsumsi pedas dalam takaran yang bisa diterima lambung. “Di samping makanan berlemak dan pedas, makanan yang manis-manis juga harus diperhatikan. Jika ingin minum sirup atau teh, maka madu murni bisa menjadi alternatif pengganti gula yang cukup baik, khususnya bagi orang yang mempunyai masalah kencing manis atau diabetes,” jelasnya

Sebab masih menurut Andi, dampak paling mengkhawatirkan dari makan berlebih ketika Lebaran adalah naiknya kadar kolesterol dan glukosa darah secara ekstrem. Profil lipid dan kadar glukosa akan memberi dampak negatif bagi kesehatan jika terakumulasi dalam waktu yang lama dan telah menjadi behavior.

Sedangkan akibat jangka pendek sangat tergantung pada kondisi masing-masing individu. Bisa berupa sakit perut, pusing, kesemutan, mual, lelah, dan sering buang air kecil. Gejala-gejala itu masih wajar dan bisa jadi hanya respon tubuh terhadap perubahan pola makan yang ekstrem dan tiba-tiba. “Tapi sekali lagi, itu tergantung kondisi masing-masing individu,” tukas Andi.

Lemak Jenuh & Trans 

Satu lagi yang perlu diingat, hindari sumber lemak  jenuh dan trans. Karena keduanya dapat meningkatkan kolesterol jahat dalam tubuh, memicu penyakit jantung dan stroke.

Santan, terang Andi,  pada dasarnya merupakan salah satu sumber lemak yang bila dikonsumsi secukupnya bisa bermanfaat, karena juga mengandung lemak tidak jenuh, omega 3, dan omega 6. Kandungan lemak jenuh tiap 100 gr santan hanya berkisar 15-20 gr, sehingga masih aman dikonsumsi orang-orang yang kadar kolesterolnya normal. Tapi bagi yang memiliki masalah dengan kolestrol harus benar-benar membatasi.

Sumber lemak trans biasanya terdapat di kue-kue kering, cake, dan gorengan. Konsumsi lemak trans perlu dibatasi karena dibuat melalui proses hidrogenasi, sehingga tidak mudah mengalami oksidasi. Lemak trans menurut Andi lebih berbahaya dibandingkan dengan lemak jenuh. Sebab, lemak jenuh hanya menaikkan LDL kolesterol jahat tanpa mempengaruhi kadar HDL. Sedangkan lemak trans dapat menaikkan LDL dan menurunkan HDL. Akibatnya, tidak hanya kadar kolesterol jahat yang naik, tetapi risiko terkena penyakit jantung dan stroke juga meningkat.

Meski demikian, mengimbangi dengan konsumsi makanan yang dapat meningkatkan HDL bisa membantu meminimalisir dampak negatif. Misalnya, konsumsi juga  ikan, yogurt, jus alpukat, roti gandum, dan buah-buahan segar.

“Jadi kuncinya agar tetap sehat setelah Lebaran itu hanya satu. Makan secukupnya, jangan berlebih!  Intinya apa pun bisa dinikmati asal tidak berlebihan. Makan secukupnya supaya kolestrol, tekanan darah, dan berat badan tetap seimbang. Terpenting, kondisi lambung tetap sehat, meski telah menikmati aneka makanan di saat Lebaran.” pungkas Andi yang juga anggota tim peneliti Pilot Project Asia Pacific Television Food Advertising Study di Indonesia (Indonesia-Australia) tahun 2012-2013.

 

Iklan Mom and Bab

event

Blossom Of Spring @Pluit Village

14 Jan 2018 11:55 AM

Kids Winter Festival

13 Dec 2017 11:15 AM

Pakar Menjawab

Berbahayakah Makan Cokelat Bagi Ibu Hamil?

dr martina _pkr mnjawab

dr. Martina Claudia

SpOG

LATEST TOP NEWS