Sehat

Deteksi Dini Penyakit Kawasaki

Wednesday, 18 October 2017

Seperti kata orang bijak, mencegah memang lebih baik daripada mengobati. Namun ketika suatu penyakit belum ditemukan langkah pencegahannya, apa yang harus dilakukan?

Sebagian besar orangtua mungkin pernah mendengar tentang penyakit kawasaki. Penyakit yang ditemukan di Jepang pada tahun 1967 oleh Tomisaku Kawasaki ini belakangan memang semakin popular. Namanya sering terdengar menginfeksi anak balita, khususnya yang berusia 1-2 tahun. Penyakit ini kabarnya juga lebih sering ditemukan pada ras mongol. Tapi faktanya, kawasaki sekarang makin tidak pandang bulu. Selain ras mongol, ras lain pun banyak yang terjangkiti.

Dr. dr. Najib Advani, Sp.A(K). M Med (Paed) – dokter spesialis jantung anak yang sering dijuluki pakar penyakit kawasaki dari Indonesia – mengatakan bahwa sebenarnya kawasaki merupakan salah satu penyakit berbahaya yang harus sangat diwaspadai. Mengapa? Karena apabila terlambat ditangani, kawasaki dapat mengakibatkan komplikasi berat pada jantung penderitanya yang bukan tidak mungkin berujung pada kematian. Itu sebabnya, anak yang terjangkit penyakit ini harus segera ditangani. Sayangnya, tanda-tanda penyakit kawasaki tidak terlalu spesifik bagi orang awam sehingga sering terdiagnosis sebagai penyakit lain.

Kenali Fase Penyakit Kawasaki

Guna mencegah terjadinya salah diagnosis, maka orangtua diharapkan turut mengetahui fase dari penyakit kawasaki yang  terbagi menjadi 3 bagian, yakni fase akut (hari 0-10), fase sub akut (hari 11-25), dan fase konvalesen

(hari 25 > ).

Fase akut ditandai dengan demam tinggi yang mencapai 40°selama lima hari atau lebih. Selain demam, ditemukan juga tanda-tanda lainnya seperti mata merah tanpa disertai kotoran. Lalu adanya lidah stroberi, rongga mulut merah, bibir merah dan pecah. Kemudian pada telapak tangan dan kaki juga berwarna merah. Terdapat pula bercak-bercak merah pada seluruh tubuh. Di saat yang sama, penderita dapat juga mengalami pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu sisi leher.

Sementara fase sub akut ditandai dengan demam pada penderita sudah menurun. Begitu juga dengan bercak merah di tubuh sudah berkurang. Tapi biasanya ditemukan tanda-tanda seperti pengelupasan kulit jari tangan dan jari kaki. Pada fase ini risiko komplikasi pada arteri koroner dapat terjadi.

Sedangkan fase konvalesen merupakan fase penyembuhan. Fase ini terjadi setelah hari kedua puluh lima dan ditandai dengan munculnya garis melintang pada kuku kaki dan kuku tangan penderita yang dikenal sebagai Beau’s Line.

Penyebab, Pencegahan, dan Penanganan Penyakit Kawasaki

Sayangnya, sampai dengan saat ini para ahli belum mengetahui penyebab dari penyakit kawasaki. Akibatnya, langkah pencegahannya pun belum dapat dilakukan. Tapi paling tidak menurut dokter Najib, orangtua bisa melakukan pencegahan agar penyakit ini tidak terlambat ditangani.

“Kalau tidak terlambat ditangani, maka penderitanya tentu bisa segera terhindar dari komplikasi yang tidak diinginkan. Yang saya maksud dengan terlambat itu jangan lebih dari 1 minggu setelah demam baru dibawa ke dokter,” kata dokter Najib.

Lebih lanjut dokter Najib menghimbau sekaligus menegaskan agar orangtua yang menyadari anaknya memiliki gejala fase awal penyakit kawasaki langsung berobat ke dokter yang memiliki keahlian di bidang penyakit kawasaki. Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya salah diagnosa.  Sehingga jika dinyatakan bukan kawasaki pun, orangtua bisa segera menemukan pengobatan yang sesuai. Sedangkan jika berdasarkan pemeriksaan ternyata benar si anak terjangkit penyakit kawasaki, maka dokter yang menangani bisa segera melakukan berbagai langkah untuk meminimalisir komplikasi. Diantaranya dengan jalan melakukan rawat inap dan ekokardiografi oleh kardiolog anak, serta berbagai pemeriksaan lainnya sesuai dengan kondisi pasien saat itu.

Langkah selanjutnya yang biasa dilakukan dokter untuk mencegah komplikasi akibat penyakit kawasaki adalah dengan memberikan obat immunoglobulin. Pemberian obat ini disesuaikan dengan berat badan pasien. Karena 1 kg berat badan itu membutuhkan 2 gram immunoglobulin.

“Dengan demikian, jika pasien memiliki berat badan 20 kg, maka pasien tersebut membutuhkan  40 gram immunoglobulin. Nah, harga 1 gram immunoglobulin itu berkisar Rp 1.500.000,-.   Bisa dibayangkan mahalnya harga obat tersebut. Hal inilah yang memang sampai sekarang masih sering  menjadi kendala tersendiri dalam proses penyembuhan penyakit kawasaki,” jelasnya.

Lebih jauh dokter Najib juga menjelaskan bahwa ketika penyakit kawasaki terlambat terdeteksi, maka penanganannya pun akan disesuaikan dengan kondisi si pasien saat itu. Misalnya penyakit ini terdeteksi setelah terjadi kerusakan koroner, maka pasien perlu dirawat dan mendapatkan pengobatan yang lebih intensif. Bahkan jika diperlukan, terkadang pasien perlu menjalani operasi.

Adapun kabar baiknya, penyakit kawasaki ini tidak menular. Disamping itu, meski dapat kambuh, kemungkinannya hanya 3%. Karena itu sekali lagi, meski belum ada yang dapat dilakukan untuk langkah pencegahan, dokter Najib menghimbau agar paling tidak penyakit ini segera dapat dikenali sehingga dapat mencegah terjadinya berbagai hal yang tidak diinginkan.

LATEST TOP NEWS