Sehat

Cermati Bahaya Junk Food Bagi Anak

Thursday, 6 October 2016

Jangan sepelekan junk food. Sebab makanan yang satu ini, selain dapat memicu timbulnya aneka penyakit berbahaya, juga dapat menurunkan prestasi belajar anak.

Tak sedikit anak yang tak doyan makan buah, sayur, dan ikan, justru sangat gemar mengkonsumsi junk food. Padahal, kebiasaan mengkonsumsi junk food sejak kecil berpotensi untuk memicu timbulnya aneka penyakit berbahaya pada anak. Di antaranya, obesitas yang berujung pada diabetes.

Karena itu, penting bagi orangtua—terutama ibu—untuk paham betul jenis-jenis makanan yang tergolong junk food. Dipaparkan Dr. Lesty dari Salveo Clinic,  junk food adalah makanan yang tinggi kalori, yang berasal dari lemak dan gula. “Selain itu,  junk food juga rendah akan vitamin, mineral, fiber, dan protein. Intinya, nutritional value-nya sangat rendah,” tegasnya.

Junk food, lanjutnya, juga mengandung banyak kimia yang sifatnya toxic demi menciptakan rasa yang gurih dan tekstur atau tampilan yang menarik. Hal itu menjadi penting, karena sangat  mengundang selera makan anak-anak. Dr. Lesty mengingatkan, “Junk food bukan hanya burger atau fast food lainnya. Melainkan, juga soft drink seperti coke,  chips, makanan kaleng, dan sebagainya.

Diterangkannya, pada dasarnya di dalam tubuh anak terdapat hormon yang disebut Leptin, yang berfungsi untuk mengatur berat badan dengan meredam nafsu makan. Selain itu, Leptin juga bertugas mengatur metabolisme dan menjaga keseimbangan energi pada tubuh.

“Leptin  disekresikan oleh sel lemak. Semakin banyak lemak, semakin besar Leptin yang diproduksi. Kemudian, Leptin akan mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah mendapat asupan yang cukup atau kenyang, sehingga kita akan berhenti makan,” jelasnya.

Dengan makan banyak junk food, ditegaskannya, kerja Leptin menjadi  terganggu dan dapat menimbulkan masalah metabolisme. Belum lagi, ada insulin resistant, dimana insulinnya terproduksi namun tidak dapat berfungsi dengan baik, sehingga berujung pada obesitas.
Bahaya Junk Food

Seperti sudah disinggung sebelumnya, penyakit yang paling sering ditimbulkan dari gemarnya mengkonsumsi junk food adalah obesitas, gangguan kesehatan diabetes mellitus, dan cardiovascular disease—seperti hipertensi, heart failure, serta stroke. Dr Lesty kembali mengungkapkan, bahwa pada dasarnya, semua gangguan tersebut terjadi akibat dari lemak yang berlebihan, sehingga menghambat aliran pembuluh darah.

Akibat lain yang ditimbulkan dari seringnya mengkonsumsi junk food adalah   menstra disorder (menstruasi), yakni gangguan pada ovarium  yang berkembang tidak sempurna, banyak kista (polychisticovarian), dan sebagainya. “Gangguan tersebut terjadi karena regulasi hormon yang terganggu. Selain itu, mobilitas atau pergerakan orang yang gemuk juga menjadi sulit. Kepadatan tulang juga menjadi berkurang, karena kekurangan kalsium. Bahkan, gigi dan gusi juga menjadi tidak bagus,” lanjutnya.

Paling parah, anak-anak penggemar junk food berpotensi  mengidap gangguan mental. “Hal itu disebabkan karena mereka merasa minder, memiliki kepercayaan diri yang rendah, dan menjadi sasaran bullying. Beberapa gangguan mental yang bisa terjadi adalah anxiety disorder, depresi, dan lain sebagainya. Selain itu, lemak yang terlalu banyak di otak juga dapat mempengaruhi kognisi dan perilaku seseorang, sehingga menghasilkan masalah sosial,” ia mengingatkan.

Junk food juga mempercepat pubertas anak.  Sebab, ada hubungannya dengan hormon Leptin dan Insulin Resistant. Artinya, kalau produksi Leptin dan Insulin tinggi, maka dapat membuat produksi Estrogen sangat tinggi. Kalau hormon Estrogen tinggi, Mammae Gland akan berkembang lebih cepat. “Kesimpulannya, kadar Leptin yang tinggi dapat menstimulasi produksi hormon-hormon yang penting dalam pubertas,” ia menerangkan.

Bahaya lainnya, menurut studi di Amerika (US), konsumsi junk food yang berlebihan juga dapat menyebabkan penurunan prestasi belajar anak. Hal itu terjadi karena junk food memiliki nilai nutrisi yang sangat rendah, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan otak. Selain itu, junk food  juga tidak memiliki omega-3 dan antioxidant.

Lantas, seberapa sering anak diizinkan mengkonsumsi junk food agar tidak membahayakan kesehatan mereka? Dijawab Dr.  Lesty, “Makan sekali-sekali junk food sebenarnya tidak apa-apa. Yang pasti, peranan orangtua sangat penting dalam mengontrol konsumsi junk food pada   anak yang masih kecil, agar konsumsinya tak berlebihan. Orangtua yang harus menentukan batasannya sendiri. Ketika mengkonsumsi junk food pun, orangtua perlu menekankan bahwa  junk food hanya boleh dikonsumsi pada saat tertentu. Namun, ketika di rumah, mereka harus makan sehat lagi.

Untuk anak yang sudah kecanduan junk food, dikatakannya, diperlukan bimbingan dan proses yang sangat panjang antara professional dan orangtua. “Misalnya, dengan menggunakan   metode CBT atau Cognitive Behavioral Therapy, yakni terapi yang membantu mengubah perilaku dengan mengubah pola pikir anak,” sarannya.

Tips Mengurangi Kecanduan Junk Food pada Anak:

  • Orangtua perlu mendapatkan pengetahuan tentang bahaya junk food.
  • Orangtua harus membiasakan anak mereka untuk makan makanan sehat. Termasuk, membuat kreasi makanan sehat agar anak tertarik untuk makan makanan sehat.
  • Ketika sekali-sekali makan junk food, orangtua perlu mengedukasi dan menekankan pada anak bahwa makanan tersebut adalah makanan yang tidak sehat dan hanya boleh sekali-kali dikonsumsi untuk hiburan.
  • Lingkungan keluarga, termasuk orangtua, harus mendukung, karena anak menganggap mereka sebagai panutan.

 

LATEST TOP NEWS