Ragam

Vaksin Pencegah Demam Berdarah Dengue, Efektifkah?

Wednesday, 29 March 2017

DBD memang termasuk salah satu penyakit yang mematikan. Parahnya lagi, penyakit ini masih banyak ditemukan di Indonesia. Bahkan menurut data yang ada, Indonesia merupakan negara kedua setelah Brasil dengan jumlah kasus DBD paling tinggi di dunia.

Hal ini diperkuat Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI yang mengatakan bahwa DBD masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia. Bayangkan, pada tahun 2015 tercatat sebanyak 126.675 penderita DBD di 34 Provinsi di Indonesia, dan 1.229 orang diantaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding tahun 2014 yaitu penderita DBD sebanyak 100.347 dan 907 diantaranya meninggal dunia.

DBD pada Anak

Sesuai dengan namanya, DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus bernama Dengue. Virus itu sendiri memiliki 4 tipe, yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. DBD ditularkan kepada manusia melalui perantara nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Dr. Rika Oktarina Rony, Sp.A, MARS, Spesialis Anak dari RS Bethsaida, Gading Serpong menjelaskan bahwa umumnya gejala awal yang ditemukan dari orang yang terjangkit DBD adalah demam pada hari kedua sampai hari ketujuh. Demam yang dialami pun terbilang cukup tinggi, rata-rata diatas 38 derajat celcius. Gejala lainnya yaitu nyeri pada badan, tulang, belakang kelopak mata atau pun daerah perut.

Bisa juga ditemukan keluhan mual-mual pada penderita. Biasanya saat DBD yang disertai dengan penurunan kadar trombosit dapat menyebabkan perdarahan seperti bintik-bintik merah pada kulit, terjadi mimisan, BAB berdarah atau muntahnya berdarah.

Pada anak-anak, DBD menjadi sangat berbahaya di fase syok, yang biasanya terjadi pada hari keempat sampai hari keenam. Ketika itu demam anak umumnya turun sehingga orangtua kerap  berpikir bahwa anak sudah masuk tahap pemulihan. Padahal justru di saat itulah masa kritis anak terjadi. Disini dibutuhkan kewaspadaan lebih dari orangtua, karena pada fase syok sering terjadi komplikasi yang bisa menyebabkan kematian apabila terlambat ditangani.

Vaksin Dengue

Dilansir dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, pada tanggal 31 Agustus 2016 yang lalu telah disetujui izin edar Vaksin Dengue, yang didaftarkan oleh Sanofi Aventis (produsen Sanofi Pasteur, Perancis). Masuknya Vaksin Dengue menjadikan  Indonesia sebagai negara ke-6  di dunia dan ke-2 di Asia yang menyetujui beredarnya vaksin tersebut setelah Mexico, Filipina, Brazil, El Salvador, dan Costarica.

Dengan masuknya Vaksin Dengue, maka diharapkan angka penderita DBD di Indonesia dapat lebih di tekan. Tentu saja idealnya semua orang bisa mendapatkan Vaksin Dengue. Namun berdasarkan penelitian terakhir, untuk saat ini vaksin tersebut hanya efektif diberikan kepada anak dengan rentang usia 9 – 16 tahun. Vaksin Dengue itu sendiri sudah mencakup 4 tipe dari virus dengue. Harganya memang masih cukup mahal, berkisar Rp 1.300.000 untuk sekali suntik.

“Dengan harga tersebut, Vaksin Dengue harus diberikan 3 kali dengan rentang waktu per 6 bulan. Efektivitas dari Vaksin Dengue dapat mencapai 75%. Dan berdasarkan penelitian, tidak ada efek samping yang berarti dari Vaksin Dengue. Paling hanya nyeri biasa pada tempat penyuntikan. Tapi tidak akan menimbulkan demam,  kejang, ataupun bengkak,” ujar dr. Rika.

Bagi anak yang pernah mengalami DBD, disarankan juga untuk tetap mendapatkan Vaksin Dengue guna menghindari terjangkit penyakit yang sama. Namun demikian, dr. Rika juga menegaskan bahwa meski sudah mendapatkan vaksin, bukan berarti tindakan pencegahan penyakit DBD berhenti dilakukan.

“Tindakan pencegahan seperti memasang kelambu, menyemprotkan obat nyamuk, mengosongkan dan membersihkan secara rutin wadah penampungan air serta memperhatikan gizi anak juga harus terus dilakukan. Sebab dengan gizi yang baik, daya tahan tubuh anak juga akan semakin kuat sehingga bisa terhindar dari DBD,” tutup dr. Rika.

LATEST TOP NEWS