Ragam

Seluk Beluk Darah Tali Pusat

Monday, 13 February 2017

Darah tali pusat yang kaya akan sel punca diyakini mampu menyembuhkan lebih dari 70 macam jenis penyakit.
Benarkah?

Pernah dengar tentang darah tali pusat? Ya benar, darah tali pusat adalah darah yang tertinggal dalam tali pusat serta plasenta sesaat setelah bayi dilahirkan dan setelah tali pusat dipotong. Di saat kehamilan, tali pusat itulah yang berfungsi sebagai saluran kehidupan antara sang bunda dan janin.

Menurut sejumlah penelitian yang sudah teruji kebenarannya, dalam darah tali pusat terkandung sel punca atau haematopoeitic stem cell (HSCs) yang berlimpah. Dan seperti yang kita ketahui, sel punca itu sendiri merupakan sumber utama pembentukan darah dan sistem kekebalan tubuh. Itulah mengapa sel punca diyakini mampu membantu terapi penyembuhan beberapa jenis penyakit.

Cara Kerja Sel Punca

Dr. Taufik Jamaan, SpOG, Spesialis Kebidanan dari Rumah Sakit Bunda Jakarta mengatakan bahwa sel punca pada dasarnya memang mampu memproduksi sel-sel darah baru seperti sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah serta menggantikan jaringan yang rusak. Sebab, sel punca memang merupakan jenis sel yang paling murni dan belum terspesialisasi sehingga mempunyai kemampuan istimewa untuk berkembang biak tanpa batas menjadi jenis sel lain atau tetap menjadi sel punca. Kemampuan tersebut memungkinkan sel punca memperbaiki kerusakan tubuh akibat penyakit, khususnya yang berhubungan dengan kelainan darah.

Pada dasarnya cara kerja pengobatan terapi sel punca adalah dengan metode transplantasi ke organ yang rusak. Bila sudah dicangkokkan, sel punca akan berkembang menjadi sel baru sehingga bisa memperbaiki jaringan.

Lebih spesifik lagi dijelaskan bahwa transplantasi sel punca dilakukan untuk menggantikan darah dan sistem kekebalan tubuh penderita yang telah menjalani pengobatan, baik lewat kemoterapi atau radioterapi. Dalam hal ini sel punca akan dimasukan langsung ke aliran darah lalu migrasi ke sumsum tulang. Disana sel punca akan mulai berdiferensiasi menjadi tiga jenis sel darah yaitu sel darah merah, darah putih dan keping darah. Dari sinilah proses regenerasi darah penderita dan sistem kekebalannya dimulai.

Sementara terapi sel dilakukan untuk pembentukan pembuluh darah baru yang memulihkan aliran darah ke jaringan yang rusak dengan cara mengaplikasikannya secara langsung. Tapi dalam beberapa kasus, sel punca juga bisa dikembangkan di laboratorium terlebih dahulu guna membuat sel baru sesuai dengan kebutuhan penderita.

Peluang Kesembuhan Dengan Sel Punca

Dokter Taufik juga menjelaskan bahwa bila dicermati, setidaknya ada lebih dari 70 penyakit yang bisa disembuhkan dengan terapi sel punca. 70 penyakit tersebut dikategorikan dalam empat bagian yaitu kanker, kelainan darah, congenital disorder, dan immunodeficiencies. Selain empat kategori penyakit tersebut, transplantasi sel punca juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit autoimun, seperti systemic sclerosis dan multiple sclerosis.

Namun demikian, harus diingat bahwa ada banyak faktor lain yang juga ikut mempengaruhi penyembuhan suatu penyakit. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa peluang penggunaan darah tali pusat untuk diri sendiri terbilang kecil, hanya 1 : 100.000.

Selain itu ada kendala lain yang bisa saja menjadi penghambat tidak maksimalnya penggunaan sel punca. Misalnya untuk pasien dewasa. Mereka tentu membutuhkan sel punca dalam jumlah yang cukup banyak sehingga mungkin saja tidak bisa dicukupi dari sel punca yang telah dikumpulkan saat kelahirannya. Karena pada dasarnya sel punca yang harus ditransplantasikan bervariasi dan disesuaikan dengan berat badan penderita.

Secara medis hitungannya adalah sebagai berikut : setiap kilogram berat badan membutuhkan sekitar 15 juta sampai dengan 20 juta sel punca. Bayangkan bila berat badan si penderita 60 kg, maka dibutuhkan kurang lebih 900 – 1.200 juta sel punca. Sementara ekstraksi sel punca dari darah tali pusat umumnya hanya berkisar pada angka 400-900 juta saja.

Mengingat biaya penyimpanannya yang mahal , Dokter Taufik kembali menyarankan, bila memang mampu dan bayi yang dilahirkan berasal dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit kelainan darah atau bayi dengan kelahiran prematur, maka program penyimpanan sel punca di bank darah sebaiknya memang dilakukan. Sementara untuk bayi yang tidak beresiko, penyimpanan sel punca sifatnya hanya untuk tindakan preventif alias berjaga-jaga saja.

LATEST TOP NEWS