Ragam

Pentingnya Tes Mata Sejak Dini

Monday, 9 October 2017

Menjaga kesehatan mata itu penting. Karenanya, jangan segan melakukan tes mata sejak dini.

Mata seringkali diibaratkan sebagai jendela dunia. Lewat mata, seseorang bisa melihat dan belajar banyak hal. Itu sebabnya, kesehatan organ tubuh yang satu ini sangat penting untuk di jaga. Salah satunya dengan cara melakukan tes mata sejak dini.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa tes mata pada anak tidaklah diperlukan. Kecuali jika ditemukan keluhan yang spesifik, seperti sulit melihat tulisan di papan tulis atau buram saat melihat suatu objek. Padahal menurut dr. Florence M. Manurung, SpM dari Jakarta Eye Center @ Kedoya, anak-anak terutama yang berusia balita umumnya belum memahami keluhan buram atau kurang jelas melihat. Mereka kebanyakan malah beranggapan bahwa ketika dirinya tidak jelas melihat suatu objek, maka teman-temannya juga tidak jelas melihat objek tersebut.

“Di samping itu, saya juga kerap menemukan orangtua yang sebenarnya menyadari gejala kelainan mata pada anak, namun memilih mengingkari atau menolak menerima keadaan tersebut. Kondisi demikian tentu sangat mengkhawatirkan. Karena apabila terlambat ditangani, pemulihannya tentu lebih susah,” terang dr. Florence.

Menjaga kesehatan mata itu penting. Karenanya, jangan segan melakukan tes mata sejak dini.

Tes Mata

Lebih lanjut dr Florence menegaskan bahwa pemeriksaan mata anak sejak dini amatlah sangat diperlukan. Mengingat jika ditemukan masalah, maka jauh akan lebih mudah diatasi ketika anak berusia belia. Misalnya, penyakit mata malas (ambliopia), dapat diatasi sebelum anak mencapai usia 10 tahun, tapi akan lebih baik lagi sebelum anak berusia 4 tahun.

Tes mata pertama pada anak itu sendiri umumnya sudah bisa mulai dilakukan sebelum usia 3 tahun. Tetapi jika ada salah satu anggota keluarga yang menggunakan kacamata, maka di usia 1 tahun pun kesehatan mata anak  sudah bisa dicek.

“Idealnya, anak usia 3 tahun memang sudah harus melakukan tes mata. Karena faktanya ada beberapa penyakit atau gangguan mata pada anak yang harus diatasi sebelum anak berusia 4 tahun. Mengenai frekuensinya, tes mata sebaiknya dilakukan satu kali dalam setahun. Kecuali jika ditemukan kelainan mata pada anak, maka pemeriksaannya perlu lebih sering dilakukan,” jelas dr. Florence.

Adapun kondisi anak yang sudah pasti memerlukan pemeriksaanyang sudah pasti memerlukan pemeriksaan mata menurut dr Florence adalah anak yang lahir prematur atau ada infeksi selama dalam kandungan. Selain itu juga pada anak yang matanya tampak juling, anak yang sering memicingkan mata atau memiringkan kepala serta anak yang matanya goyang atau tidak fokus (nystagmus).

Untuk memberikan gambaran mengenai tes mata pada anak, maka dr. Florence memberikan penjabaran secara umum. Pertama, dokter akan melakukan pemeriksaan visus (tajam penglihatan) dengan menggunakan huruf, angka, atau gambar sesuai usia pasien. Pada bayi, pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan dengan menggunakan mainan atau wajah.

Kedua, pemeriksaan juling dan pergerakan mata. Ketiga, pemeriksaan bagian depan bola mata untuk melihat ada atau tidaknya kelainan kelopak mata, infeksi mata, katarak, atau glaukoma pada anak. Keempat, pemeriksaan bagian dalam mata atau retina.

“Umumnya, kasus kelainan mata pada anak yang paling sering ditemukan adalah kelainan refraksi, mata malas (ambliopia), dan juling. Sementara kasus yang jarang ditemui namun perlu diwaspadai adalah katarak kongenital, glaukoma kongenital, dan retinopathy of prematurity (ROP) pada bayi prematur,” ujarnya.

Deteksi Awal

 Agar kesehatan mata anak dapat lebih terjaga, maka dr. Florence juga menyarankan agar orangtua jangan lengah dan terus ikut memperhatikan tanda-tanda gangguan mata pada anak. Hal ini penting mengingat orangtua biasanya adalah orang yang paling sering bertemu dengan anak. “Ingat, selalu perhatikan gelagat anak saat melihat sesuatu. Misalnya saat melihat objek jauh, apakah  anak menyipitkan mata, memiringkan kepala, atau mendongakkan kepala? Lalu saat menonton TV, apakah anak akan maju dan mendekatkan diri ke TV? Bisa juga saat anak berjalan, apakah mereka sering menabrak benda di depannya yang seharusnya bisa dihindari? Kemudian kebiasaan mengucek mata, berkedip-kedip, atau mata merah juga perlu dicurigai,” terangnya.

“Ingat, selalu perhatikan gelagat anak saat melihat sesuatu. Misalnya saat melihat objek jauh, apakah  anak menyipitkan mata, memiringkan kepala, atau mendongakkan kepala? Lalu saat menonton TV, apakah anak akan maju dan mendekatkan diri ke TV? Bisa juga saat anak berjalan, apakah mereka sering menabrak benda di depannya yang seharusnya bisa dihindari? Kemudian kebiasaan mengucek mata, berkedip-kedip, atau mata merah juga perlu dicurigai,” terangnya.

LATEST TOP NEWS