Psikologi

Yuk Kenali Helicopter Parenting Dan Dampaknya Bagi Si Kecil

Thursday, 8 February 2018

” Maksud hati melindungi dan menyayangi anak. Tapi bila salah diterapkan, bisa jadi pola asuh yang dianut BERKEMBANG MENJADI HELICOPTER PARENTING. APA ITU? “

Pernah dengar tentang helicopter parenting? Itu lho, pola pengasuhan dimana orangtua terlalu fokus pada anaknya, sehingga yang terjadi malah overcontrolling, overprotecting dan overperfect. Dalam arti saat membesarkan anak, atas nama kasih sayang orangtua jadi bertindak terlalu melindungi dan  mengontrol sang buah hati.

Sebagai info,istilah helicopter parenting itu sendiri merujuk pada sifat helikopter yang gemar melayang-layang di udara seperti sedang mengawasi dan membayangi orang-orang dibawahnya. Hal itulah yang dirasakan oleh seorang remaja, yang pada tahun 1960-an menulis dalam sebuah buku bahwa bagaikan helikopter, orangtuanya terlalu fokus pada dirinya, bahkan terlibat dalam semua aspek kehidupannya.

Ciri-Ciri Pola Asuh Helicopter Parenting

Memang, melindungi anak agar memperoleh yang terbaik dalam hidup adalah hal yang lazim, bahkan sudah menjadi kewajiban orangtua. Namun bila itu dilakukan terlalu berlebihan, maka yang terjadi adalah bencana. Bagaimana tidak, anak yang ketika kecil terlihat pintar, menurut dan dekat pada orangtua, saat besar kelak malah tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena sudah terbiasa bergantung pada orangtua.

Rahajeng Ikawahyu Indrawati, M.Si., Psychologist dari Kasandra & Associates Psychological Practice mengamini hal tersebut. Menurutnya, sudah menjadi naluri sekaligus kewajiban dari setiap orangtua untuk menyayangi, melindungi dan memberikan yang terbaik untuk sang buah hati. “Meski demikian perlu saya tegaskan, semua harus dilakukan sesuai dengan porsinya alias jangan berlebihan. Karena sebagai orangtua, kita juga dituntut untuk mendidik anak agar siap dalam menghadapi masa depannya kelak. Kan, sudah pasti kita tidak bisa selamanya ada di samping anak untuk melindungi dan mengurusnya. Itu sebabnya, jangan sampai orangtua terjebak dalam pola asuh helicopter parenting,” urainya. Adapun pola asuh helicopter parenting bisa dikenali lewat sikap orangtua yang terlibat terlalu jauh dalam hidup anaknya. Sampai-sampai segala sesuatu yang berhubungan dengan si kecil akan diaturnya. Mulai dari memilihkan mainan yang dianggap paling cocok, memilih teman sekaligus ekstra kurikuler yang dianggap paling baik, hingga membuatkan PR dengan alasan agar si kecil bisa mendapatkan istirahat yang cukup setelah capai belajar di sekolah.

“Nah, bila sudah demikian, orangtua harus waspada, karena itu artinya mereka sudah terjebak dalam pola asuh helicopter parenting. Harap diketahui, untuk sebagian anak yang berkebutuhan khusus, seperti yang mengidap autis, ADHD atau MR, pola asuh helicopter parenting masih bisa diterapkan. Tapi bagi anak yang tergolong tidak berkebutuhan khusus, pola asuh seperti ini harus dihindari,” kata Rahajeng lagi

Dampak Helicopter Parenting

Lebih jauh Rahajeng menjelaskan bahwa anak yang ketika kecil diasuh dengan pola helicopter parenting umumnya akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri, kurang percaya dengan kemampuannya sendiri, gampang dipengaruhi orang lain, cenderung mudah putus asa, dan sulit membuat keputusan.

“Tidak hanya itu, anak juga beresiko kemampuan berpikirnya yang menyangkut analisa logika menjadi lemah akibat terlalu sering dibantu. Di samping itu, karena terbiasa diatur harus bergaul dengan siapa, maka mengakibatkan kemampuan bersosialisasinya rendah. Bahkan kelak ketika dewasa, anak akan mudah terserang depresi, sebab segala sesuatunya mungkin berjalan tidak sesempurna ketika dirinya kecil,” jelasnya lagi.

 Karena itu, Rahajeng menyarankan agar dalam mengasuh anak, orangtua menjauhi pola helicopter parenting. “Saya yakin, setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Itu sebabnya, jangan terjebak dalam pola asuh helicopter parenting. Didik anak agar mampu mandiri dan memecahkan masalahnya sendiri. Sesekali, biarkan anak ‘merasakan’ akibat dari pilihannya sendiri, sehingga mereka bisa belajar,” katanya.

Rahajeng juga mengatakan, dalam mendidik anak, orangtua lebih baik memposisikan diri sebagai pengawas sekaligus tempat berbagi pendapat. Artinya apabila orangtua mengetahui bahwa pilihan anaknya kurang baik atau kurang cocok, jangan buruburu melarangnya. Akan lebih bijak jika orangtua memberikan penjelasan terlebih dahulu, mengapa hal ini baik atau buruk. Setelah itu, biarkan anak berpikir sendiri dengan tetap diawasi.

“Dalam mengawasi gerak gerik anak juga jangan berlebihan ya. Jangan terlalu cepat merespon apa yang menjadi keinginan anak. Ingat, setiap anak pasti memiliki caranya sendiri untuk tumbuh. Orangtua memang bertindak sebagai pelindung, namun bukan berarti boleh memaksakan kehendak. Semuanya harus dibatasi, kecuali untuk cinta dan perhatian bisa orangtua berikan secara berlimpah tanpa harus terjebak dalam pola asuh helicopter parenting,” tutup Rahajeng.

LATEST TOP NEWS