Psikologi

Solusi Menghadapi Si Pembantah

Wednesday, 5 October 2016

Ada banyak penyebab yang memicu si kecil berperilaku membatah. Apa saja faktor pemicunya? Lantas, bagaimana seharusnya orangtua menghadapinya?

Salah satu perilaku anak yang kerapkali membuat “gemas” orangtua adalah membantah. Ternyata, perilaku membantah anak dapat dibedakan menjadi dua jenis. Yakni, perilaku membantah aktif dan pasif. Demikian diungkapkan psikolog anak sekaligus dosen dari Universitas Pelita Harapan, Krishervina Rani Lidiawati, M.Psi, kepada SBH.

“Membantah yang tergolong aktif adalah bantahan melalui kata-kata, membanting maupun melempar barang, atau menggunakan fisik. Sementara itu, membantah pasif adalah ketika anak memilih untuk diam saja, atau tidak mau bergerak ketika diminta melakukan sesuatu. Baik membantah secara aktif maupun pasif, keduanya muncul dari hasil observasi si kecil,” paparnya.

Ia pun mencontohkan yang paling sering dihadapi orangtua ketika anak mulai membantah, yakni ketika mereka meminta anak untuk membereskan mainannya, namun anak memilih diam saja atau urung  bergerak untuk membereskan.

“Orangtua sudah teriak-teriak, mereka tetap diam. Akhirnya, karena orangtua tidak sabar, mereka atau pengasuh memilih yang membereskan mainannya. Alhasil, anak pun menyimpulkan bahwa kalau mereka  diam, maka nanti mama atau papa yang akan membereskan. Dengan begitu, di lain waktu, anak-anak pun kembali mengulangi perilaku tersebut,” cerita Kris.

Menghadapi masalah demikian, ia pun memberi solusi. “Mintalah anak untuk bergerak. Kalau perlu dipegang tangannya, lalu digerakkan untuk memasukan mainan ke tempatnya. Ajak anak untuk membereskan bersama. Memang, butuh kesabaran dalam mendidik anak,” katanya mengingatkan.

Faktor Penyebab

Tak sedikit orangtua mempertanyakan kapan biasanya anak mulai membatah. Sejatinya, pertanyaan itu sebagai upaya prefentif orangtua dalam menghadapi anak yang mulai  berpotensi membantah. Menurut Kris, sebenarnya, tidak ada usia yang pasti yang menentukan kapan anak mulai membantah. “Namun, kemungkinannya adalah anak usia sekolah yang sudah mengenal dunia luar, memiliki orang yang mereka kagumi, dan yang sudah merasakan adanya perbedaan peraturan antara di luar rumah dengan di dalam rumah,” lanjutnya.

Indikasinya adalah   anak menjadi mempertanyakan hal-hal yang tidak sama dengan apa yang biasa mereka lakukan di rumah. Lalu, kecenderungannya, mereka pun akan menolak melakukan hal-hal di rumah dan memilih untuk mengikuti kebiasaan temannya, ataupun hal-hal yang dikatakan gurunya.

Menghadapi gejala  seperti itu, menurut Kris, pada umumnya orangtua tidak mau ambil pusing dan membiarkan gejala itu terjadi. Akhirnya,  anak pun mulai belajar untuk membantah. “Perlu diingat, anak-anak usia 4-5 tahun yang mulai kaya akan perbendaharaan kata, banyak menyerap informasi dari luar. Mereka juga mulai pandai membuat argumen-argumen untuk hal-hal yang praktis,” ucapnya

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan anak gemar membantah. Secara umum, ditegaskan Kris,  faktor-faktor yang paling riskan adalah ketika anak mendapat dunia baru, mendapat peraturan baru, orangtua tidak bisa menjadi role model, dan adanya pola asuh yang tidak konsisten antara ayah dan ibu.

“Secara lebih spesifik, pola asuh yang tidak konsisten juga tidak terbatas pada ayah dan ibu. Keberadaan caregiver yang lain, seperti kakek dan nenek, atau pengasuh juga dapat berperan dalam membentuk perilaku membantah pada anak. Misalnya, di rumah, orang tua tidak memperbolehkan anak makan banyak permen, namun kakek dan neneknya mengizinkan. Seharusnya, orangtua harus konsisten akan peraturannya, baik di dalam maupun luar rumah. Dan ketika ada perubahan peraturan, orangtua bertugas untuk menjelaskan alasannya,” urainya.

Pada dasarnya, menurut Kris, anak membantah karena mereka merasa lebih berkuasa dari orangtua  mereka. Hal itu terjadi karena orangtua yang terbiasa memberikan atau mengikuti keinginan anak. Akibatnya, bukan orangtua yang mengontrol anak, tetapi justru anak yang mengontrol orangtua.

“Misalnya, sebelum pergi ke mal, orangtua mengingatkan anak untuk tidak boleh membeli es krim. Tetapi, begitu tiba di mal, si anak lupa. Anak tetap merengek meminta dibelikan es krim, karena perkembangan kognitifnya yang belum konkret. Orangtua yang tidak mau membelikan es krim, karena malu melihat anak  menangis bahkan berteriak, akhirnya terpaksa membelikan. Dari sana, si anak belajar menyimpulkan bahwa kalau ingin sesuatu, tinggal menangis atau berteriak,” ia mencontohkan.

Kasus lainnya yang sering terjadi adalah orangtua secara tidak sadar kerapkali memberikan reinforcement pada saat anak yang sedang membantah. Artinya, ketika anak membantah, orangtua justru berpikir bahwa anak mereka sudah pintar. Sebab, sudah bisa menanggapi apa yang orangtua sampaikan. “Akhirnya, orangtua justru hanya membelai anaknya, tersenyum, atau tidak memarahi anaknya. Hal itu berdasarkan teori psikologi disebut reinforcement, karena sifatnya meningkatkan perilaku,” jelasnya.

Lantas, apakah faktor genetik turut ambil peran dalam memicu perilaku membantah anak? “Faktor genetik tidak akan muncul jika faktor lingkungan mendukung anak untuk bertumbuh kembang dengan baik. Artinya, sebenarnya, yang lebih mempengaruhi perilaku membantah itu adalah modelling. Anak melihat dari sekitarnnya, entah dari media sosial, kesehariannya di sekolah, dan lain-lain,” Kris menegaskan.

Solusi

Perilaku membantah pada anak, menurut Kris, sebenarnya masuk kategori normal. Mengapa?  Karena, pada usia 4-5 tahun atau usia SD, rasa ingin tahu anak memang sangat tinggi. Kemampuan kognitif mereka juga masih pada tahap pra-operational, dimana mereka belum mampu berpikir secara konkret, butuh contoh, dan masih ego-sentris atau tidak dapat melihat dari sudut pandang orang lain selain dirinya. Untuk itu, menjadi tugas orangtua ketika anak mendapat sesuatu yang berbeda, untuk menjelaskannya.

Ada berbagai cara dalam mendidik anak yang gemar membantah. Diungkapkan Kris, salah satu cara untuk mendidik anak yang gemar membantah adalah dengan lebih konsisten dalam menegakkan peraturan dan pola asuh. “Jadi, apa yang dikatakan orangtua, juga dilakukan orangtua. Orangtua sendiri harus menjadi model bagi anak. Peraturan antara ayah dan ibu juga harus disamakan,” ucapnya.

Merespon anak ketika sedang membantah, lanjut Kris, juga ada triknya tersendiri. Orangtua  jangan langsung memarahi, tetapi justru harus bertanya mengapa anak tidak mau melakukan ini dan itu.

Cara lainnya, sejak kecil, anak sudah harus dibiasakan berdiskusi, sehingga anak memahami  alasan di balik peraturan atau perilaku yang harus mereka lakukan. “Kesalahan yang seringkali dilakukan orangtua adalah menganggap anak masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa-apa. Padahal, melalui kemajuan teknologi sekarang, anak sudah belajar banyak dari TV, internet, ataupun teman-temannya,” ungkap  Kris.

Untuk itu, Kris menganjurkan, orangtua harus bisa mengendalikan anak sejak kecil. Sebab, jika sejak dini anak sudah terbiasa membantah secara verbal, ke;ak mereka akan semakin parah saat remaja. “Intinya adalah operant conditioning, dimana ada stimulus, ada respon. Untuk konsekuensi, responnya tidak selalu harus terus menerus berupa hukuman, namun memberi tahu kalau perilaku tersebut salah, juga bisa dilakukan,” ia mengakhiri.

LATEST TOP NEWS