Psikologi

Solusi Menghadapi Aksi Merusak Sang Buah Hati

Wednesday, 8 June 2016

Si kecil kerapkali merusak, memukul, bahkan melempar benda-benda di sekelilingnya? Jangan khawatir, tiga langkah ini dapat menjadi solusinya. Seperti apa? 

Mencermati pertumbuhan sang buah hati ketika mereka mulai menginjak usia satu hingga tiga tahun memang sangat diperlukan oleh orangtua. Sebab, di masa itu, anak-anak cenderung selalu ingin tahu akan berbagai obyek yang ada di  sekitarnya. Karena keingintahuan mereka itu pula, tak jarang berbagai benda dirusak oleh sang buah hati. Antara lain, dengan cara dilempar, diinjak, atau bahkan dibanting dan dirusak.

Lantas, normalkah tindakan merusak dari sang buah hati? Psikolog Adib Setiawan, M.Psi mengatakan, sebenarnya akan lebih baik jika anak tidak merusak suatu benda.

“Memang dalam situasi tertentu, anak akan merasa penasaran dan ingin melihat, apa jadinya jika suatu benda dibanting atau di rusak,” paparnya.

Namun, diakuinya, rasa penasaran tersebut sebenarnya bisa diarahkan. Justru yang berbahaya adalah apabila kegiatan memukul, melempar atau merusak benda dilakukan anak karena belajar dari lingkungannya.

“Ingat, anak itu peniru yang ulung. Kegiatan merusak benda atau memukul, kerap dilakukannya karena meniru. Jika kebiasaan tersebut tidak segera dihentikan, maka nantinya dapat berdampak buruk,” ucapnya.

Kebiasaan merusak, yakin Adib, biasanya dipelajari anak dari keseharian yang dilihatnya.  Umumnya, kebiasaan tersebut muncul pada anak yang tumbuh dan berkembang di lingkungan orangtua  atau pasangan yang berkonflik. Ia mencontohkan, konflik tersebut mungkin menyebabkan suami-isteri saling pukul atau saling melempar benda yang ada di sekitarnya.

Hal itulah yang membuat anak kemudian belajar memukul dan melempar atau merusak benda. “Selain itu, anak pun bisa belajar memukul dan merusak karena meniru dari game, seperti game superhero serta dari berbagai film yang ditontonnya,” ucapnya.

Solusi

Pada titik tertentu, saat orangtua mulai kesal dengan anaknya, lantaran sering memukul, melempar, dan merusak benda, maka tidak tertutup kemungkinan orangtua justru terpancing untuk mencubit  agar anak berhenti melakukan aksinya. Selanjutnya,  anak justru makin lebih “menjadi” untuk  memukul atau merusak benda-benda yang ada di sekitarnya, termasuk  memukul orangtuanya.

“Intinya, merusak benda yang dilakukan anak kebanyakan  berasal dari faktor lingkungan, bukan dari dalam anak itu sendiri. Ia melakukan itu karena meniru. Baik itu meniru dari orangtua, meniru dari film atau video, atau juga meniru dari teman-temannya. Merusak yang dilakukan anak akan tidak normal ketika anak  sudah tantrum. Dalam artian, dia merusak benda sambil guling-guling menangis. Hal itu sudah tidak normal,” lanjutnya.

Nah, dalam kondisi anak yang sedang menghadapi masa-masa “senang” merusak, maka dibutuhkan kesiapan orangtua dalam menanganinya.  Langkah pertama yang harus dilakukan orangtua, menurut Adib adalah bersikap tenang dan tidak memberikan hukuman yang bersifat fisik.

Langkah kedua, jika anak sudah terlanjur suka merusak barang dengan memukul, menginjak, dan melempar, orangtua jangan terprovokasi. Diterangkannya, orangtua harus menjelaskannya dengan tenang seraya meyakinkan pada anak bahwa merusak barang tidak boleh dilakukannya.

Selanjutnya, katakan pada anak bahwa yang boleh ia pukul adalah alat perkusi misalnya. “Jadi, kebiasaan anak merusak dengan melempar dan yang lainnya, dapat dialihkan ke hal yang positif. Antara lain dengan menendang bola, memukul perkusi, dan hal positif  lainnya,” sarannya.

Ketiga,  sebisa mungkin orangtua dapat menyeimbangkan antara kasih sayang dan larangan. Artinya, orangtua juga dituntut untuk tegas dalam menghadapi anak yang sering merusak, bahkan menangis berlebihan.

Tegas bukan berarti  otoriter dan harus memarahi. Melainkan,  mengingatkan atau menasihati anak agar berhenti melakukan kebiasaan buruknya tersebut. Tentu saja  dengan kata-kata yang datar, namun tegas. Jangan  terlalu memanjakan anak dan membebaskan mereka merusak benda-benda di sekitarnya, bahkan malah menggantinya dengan yang baru,” tambahnya.

Saat menasehati atau mengingatkan anak, menurut Adib, pastikan emosi orangtua  dalam kondisi yang sedang tidak marah. Sebab, jika orangtua memarahi anak dengan kata-kata kotor, bahkan sambil memukulnya, tentu saja akan berdampak pada kondisi psikis anak. Di antaranya,  anak menjadi trauma di waktu kecil. Selanjutnya, trauma tersebut bisa menyebabkan si anak mengalami masalah di kemudian hari.

“Bentuk trauma anak akibat dipukul orangtua adalah mereka menjadi tidak percaya diri, karena anak merasa bahwa lingkungan kurang melindunginya. Artinya, mereka akan berpikir,  orangtua saja tidak melindungi anaknya, apalagi guru dan yang lainnya. Selain itu, anak juga akan suka memukul temannya karena ia suka dipukul oleh orangtuanya. Hal itu disebabkan karena ia mengira bahwa setiap masalah harus diselesaikan dengan memukul,” tutup Adib.

LATEST TOP NEWS