Psikologi

Pahami Karakter Anak Berdasarkan Urutan Lahir

Monday, 7 August 2017

Meski terlahir dari ibu yang sama, sifat serta karakter si sulung, si tengah maupun si bungsu terkadang sangat berbeda. Apa penyebabnya?

Idealnya, setiap anak memang terlahir dengan sifat dan karakter yang unik serta berbeda. Namun dalam perkembangannya,  pengaruh lingkungan terutama keluarga juga turut berperan membentuk  pribadi anak. Bahkan, tak jarang ada yang berpendapat bahwa urutan kelahiran pun ikut menentukan karakter seorang anak. Misalnya, si sulung dianggap sebagai pribadi yang pintar memimpin. Si tengah sebagai sosok yang cuek. Sementara si bungsu kerap diidentikkan dengan anak yang manja.

Yang menjadi pertanyaan, benarkah karakter anak dipengaruhi oleh urutan lahir? Lanita, S.Psi, M.Psi, Psikolog dari Dimensi Psikologi, Gading Serpong, mengungkapkan bahwa memang benar ada pengaruh urutan lahir dengan karakter anak. Hal tersebut terjadi karena adanya harapan orangtua, keluarga, dan lingkungan yang akhirnya membentuk karakter si sulung, tengah, maupun bungsu.

“Harapan terhadap anak-anak itu yang membuat mereka jadi berbeda. Karena harapan itu secara terus menerus bahkan selama bertahun-tahun didengungkan, akhirnya akan menjadi suatu karakter, suatu perilaku, dan suatu emosi,” ungkap Lanita.

Anak Sulung

Anak pertama sekaligus sosok kakak dalam keluarga biasanya memiliki karakter yang mandiri, tegar, emosional, dan dominan. Orang tua memiliki harapan yang besar dan tuntutan yang tinggi terhadap anak sulung. Sebagai anak pertama, tentu mereka tidak memiliki contoh atau panutan dari saudara kandung. Untuk itu anak sulung terbentuk menjadi anak yang mandiri, tegar, dan tidak manja.

Menurut Lanita, emosi anak sulung biasanya lebih matang. Tapi tak menutup kemungkinan anak sulung justru menjadi sosok yang emosional. Biasanya karena adanya harapan yang begitu tinggi kepada dirinya, sehingga si anak cenderung akan memberontak.

“Anak sulung biasanya pemberang ya. Emosinya meledak-ledak. Kenapa?Karena tidak ada saingan, tidak ada kompetitor, dan belum ada saudaranya. Sehingga apa yang dia mau dia harus didapatkan,” jelas Lanita.

Bagaimana cara mengatasi karakter si sulung yang emosional? Untuk anak usia kurang dari lima tahun sampai dengan delapan tahun si sulung harus diajarkan disiplin. Caranya dengan bersikap tegas tapi penuh kelembutan saat menghadapi emosi si sulung, bukan dengan kemarahan.

Anak Tengah

Anak tengah memiliki karakter yang cukup mandiri, manja, dan super cuek tapi tetap bisa diandalkan. Harapan orangtua pada si tengah tidak sebanyak harapan terhadap anak sulung. Dalam jangka waktu tertentu hingga hadir sosok adik, anak tengah dapat diposisikan sebagai si bungsu. Sehingga karakter yang terbentuk pada awalnya adalah kemanjaan dan ketergantungan terhadap keluarga. Hal ini berdampak kepada kemandirian si tengah yang tidak semandiri anak sulung.

“Emosi anak tengah tak sekeras kakaknya. Anak tengah lebih menunjukkan emosi ke arah merengek dan merajuk. Mereka inginnya dimaklumi dan dimengerti oleh keluarga dan lingkungan,” jelas Lanita.

Saat anak tengah memiliki adik, baru sifat mandirinya muncul, bahkan terkadang bisa lebih mandiri daripada si sulung. Menurut Lanita, hal ini dapat terjadi karena harapan orang tua terhadap si sulung tidak pernah berkurang dan perhatian orang tua tercurah kepada si bungsu. Sedangkan si tengah seolah ‘terabaikan’. Pada masa tumbuh kembangnya pun dia akan menjadi orang yang mandiri dan orang yang super cuek tapi tetap bisa diandalkan.

Anak Bungsu

Anak bungsu memiliki karakter yang manja dan bergantung kepada orang sekitar. Si bungsu umumnya menjadi pusat perhatian dan sangat dilindungi oleh orangtua dan kakak-kakaknya. Ia juga selalu dimengerti, dipahami, dan dimaklumi. Hal itulah yang menjadi pencetus kemanjaannya.

Apalagi jika ada perbedaan usia yang jauh dengan kakaknya, si bungsu jadi akan sangat rentan kepribadiannya. Disatu sisi bungsu ‘diremehkan’ oleh kakaknya karena dianggap anak kecil. Sedangkan di sisi lain si bungsu di manja oleh kakaknya.

“Pada anak bungsu dikhawatirkan dia tidak bisa membuat suatu keputusan tanpa dukungan dari kakak atau orangtuanya. Karena itu treatment terhadap si bungsu tidak boleh berlebihan. Kita tetap memperlakukan si  bungsu ini dalam porsinya. Ada kalanya dia harus mengalah pada kakak-kakaknya. Ada kalanya kakak-kakak harus melindungi adiknya yang bungsu. Porsi itu harus pas. Supaya si bungsu mempunyai karakter yang matang juga,” tutup Lanita.

 

LATEST TOP NEWS