Psikologi

Merawat Buah Hati Hasil Adopsi

Wednesday, 23 May 2018

“Menjadi orangtua memang tidak semudah yang dibayangkan. Karena itu, jangan sekali-kali mengadopsi anak hanya karena alasan ‘pancingan’ semata”

Saat ini, banyak pasangan atau orangtua tunggal memilih mengadopsi anak sebagai buah hati mereka. Alasan yang melatarbelakangi adopsi itupun beragam. Ada yang melakukannya karena ingin berbagi kebahagian dengan anak yang kurang beruntung. Adapula yang menjadikan adopsi sebagai solusi karena belum dikaruniai anak.

Kartika Amelia, M.Psi, psikolog dari Human care Consulting mengatakan, bahwa sebelum melakukan adopsi, memang penting untuk mengetahui terlebih dahulu alasan atau motivasi dibaliknya. Sebab ketika keputusan mengadopsi anak sudah diambil, itu artinya si pengadopsi bertanggung jawab penuh sebagai orangtua. “Yang menjadi pertanyaan : Siapkah kita dan pasangan  memberikan cinta kasih yang tak bersyarat kepada anak tersebut nantinya? Sebab setiap anak, baik anak adopsi ataupun anak kandung, membutuhkan penerimaan dan kasih yang tak bersyarat dari figur orangtuanya,” jelasnya.

Kartika juga menegaskan bahwa sebagai orangtua, seumur hidup mereka harus menerima dengan tulus kehadiran anak adopsinya. Dengan kata lain, jangan sampai terlontar kata-kata penyesalan. “Ingatlah, proses adopsi itu sifatnya permanen, dimana anak akan selamanya menjadi bagian dalam keluarga. Karena itu jangan main-main saat memutuskan untuk melakukan adopsi,” katanya lagi.

Lebih lanjut Kartika menyarankan, agar hubungan antara orangtua dengan anak adopsi dapat terjalin dengan erat, maka diperlukan interaksi dan komunikasi yang intens, sehingga anak akan merasa aman, nyaman dan dicintai.

Tentang Status Adopsi

Masih terkait dengan adopsi, ada satu pertanyaan yang kerap muncul yaitu : Perlukah memberitahukan kepada anak mengenai asal-usulnya? Terutama bagi orangtua yang mengadopsi anak sejak bayi.

Mengenai hal tersebut, Kartika berpendapat bahwa orangtua sebenarnya wajib menyampaikan identitas anak dan jangan berusaha untuk menutupinya. “Sebab, setiap anak memang berhak mengetahui asalusulnya guna membentuk identitas diri. Akan jauh lebih baik lagi jika informasi mengenai anak adopsi itu di dengar langsung dari orangtua angkatnya, dibandingkan dari orang lain. Karena apabila suatu waktu mereka mengetahui mengenai identitas dirinya dari orang lain, dikhawatirkan akan timbul krisis identitas, rasa kecewa, dan kehilangan rasa percaya terhadap orangtua angkatnya,” ujarnya.

Lalu, kapan sebaiknya status adopsi tersebut mulai diberitahukan? Menurut Kartika, sebisa mungkin memberithukannya sejak dini dan tentu saja disesuaikan dengan daya tangkapnya. Misalnya ketika anak masih berusia di bawah 6 tahun, maka konsep adopsi bisa dikenalkan melalui cerita-cerita bergambar yang sederhana.

“Percayalah, anak yang telah diinfomasikan mengenai status adopsinya secara bertahap sejak usia dini akan memiliki konsep terkait adopsi yang lebih positif dibanding anak yang mengetahuinya secara tidak sengaja dari orang lain ataupun baru diinformasikan saat ia remaja. Dan bila setelah mengetahui statusnya, anak berulang kali mengajukan pertanyaan atau menunjukkan luapan emosi, maka orangtua harus lebih bersabar. Karena itu adalah sinyal yang diberikan anak untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka memang dicintai dan tidak akan ditinggalkan oleh orangtua angkatnya,” terang Kartika panjang lebar.

Pantang Jadikan Adopsi Sebagai ‘Pancingan’

Kembali kepada alasan atau motivasi dibalik mengadopsi anak, Kartika menyarankan agar jangan sekali-kali kegiatan adopsi tersebut dijadikan alat ‘pancingan’ untuk mendapatkan anak kandung.

“Kan sering tuh, orangtua mengadopsi anak karena belum mempunyai anak kandung. Diharapkan dengan adanya anak adopsi, maka dapat memancing lahirnya anak kandung. Nah, mengadopsi anak dengan motivasi tersebut jelas salah. Intinya, jangan jadikan anak sebagai alat untuk kepentingan orangtua. Tapi jadilah orangtua untuk anak-anak yang akan Tuhan titipkan kepada Anda,” tegasnya.

Lebih jauh Kartika mengatakan bahwa alasan ‘pancingan’ saat mengadopsi anak dapat menimbulkan bibit pilih kasih ketika anak kandung telah lahir. Padahal, kasih sayang terhadap anak adopsi seharusnya tidak boleh berubah. Karena ketika memutuskan untuk mengadopsi anak, itu artinya kita sudah harus siap memberikan kasih yang tak bersyarat serta menerimanya sebagai anak seumur hidup. Jadi sebelum memutuskan untuk mengadopsi, selami dulu alasan dibaliknya ya.

LATEST TOP NEWS