Psikologi

Menghilangkan Fobia Matematika Pada Anak

Tuesday, 9 October 2018

“ Matematika biasanya menjadi pelajaran yang paling ditakuti anak-anak. Fatalnya apabila ketakutan itu berkembang menjadi fobia, bukan tidak mungkin anak akan mogok sekolah.  ”

 Masih ingat masa-masa sekolah dulu? Mungkin ketika itu kita juga termasuk salah satu anak yang takut terhadap pelajaran matematika. Sekarang, si kecil pun bisa jadi mengalami hal yang sama.

Tak perlu heran, mathematics anxiety atau kecemasan saat bertemu pelajaran hitung-hitungan seperti matematika memang tergolong problem klasik. Lalu yang menjadi pertanyaan, apa sih penyebab ketakutan atau kecemasan itu muncul? Dan kenapa kebanyakan hanya pada pelajaraan matematika saja?

Marcelina Mellissa M.Psi, psikolog anak dari klinik Tiga Generasi menjelaskan bahwa kecemasan terhadap pelajaran tertentu sebenarnya muncul karena pengaruh dari lingkungan atau orang sekitar.

“Kebanyakan orang di sekitar kita itu kan menilai seorang anak itu cerdas atau tidak dari nilai matematikanya. Hal ini tentu menjadi beban tersendiri bagi anak-anak sehingga tanpa sadar mereka menjadi takut dengan pelajaran matematika. Padahal selain matematika, pelajaran lainnya juga tak kalah penting lho,” kata Marcelina.

Karena itu ia menyarankan agar orangtua tak perlu memarahi anaknya apabila nilai matematika yang diperolehnya kurang memuaskan. Sebab jika kemarahan atau bentakan yang diberikan, maka anak dengan cepat akan terus merekam respon negatif tersebut sehingga membuatnya lebih cemas lagi saat harus berhadapan dengan matematika. Alhasil bukannya mendapatkan nilai yang lebih baik, si anak malah semakin ingin menjauhi segala hal yang berbau matematika.

Dari Kecemasan Menuju Depresi

Lebih jauh Marcelina juga mengatakan bahwa kecemasan seorang anak dalam menghadapi pelajaran matematika bisa mendorongnya ke tahap yang lebih mengkhawatirkan seperti fobia bahkan depresi. Fobia tersebut bisa saja terjadi bila si kecil menghadapi kegagalan berulang dan membuatnya merasa putus asa karena merasa tidak pernah berhasil mencapai ekspektasi dirinya, orangtua maupun pihak sekolah.

“Nah apabila si kecil sudah masuk tahap fobia, maka ia akan mengalami yang namanya panic attack. Ciricirinya anak akan terlihat tegang, keringat bercucuran, detak jantung meningkat cepat, raut wajah takut dan meracau tidak jelas ketika dihadapkan dengan pelajaran matematika. Bila sudah demikian dan tak segera ditanggulangi, maka si kecil bisa menjadi depresi dan menolak pergi ke sekolah lagi,” papar Marcelina panjang lebar.

Berikan Motivasi dan Dukungan

Untuk itu agar anak terhindar dari tahap depresi, maka orangtua disarankan Marcelina tidak mengedepankan egonya dengan memaksa anak mencapai nilai yang sesuai ekspektasinya. Bahkan akan lebih baik lagi jika orangtua mau menghargai proses belajar anak bukan hasilnya semata.

“Sebab menurut saya, ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi seorang anak mendapatkan nilai yang baik. Bisa saja saat itu anak kesulitan mencapai nilai matematika yang bagus karena belum menemukan cara atau pola belajar yang cocok. Jadi sebaiknya jangan langsung menghakiminya kurang cerdas bila nilai matematikanya jeblok,” tegasnya.

Adapun untuk memotivasi anak, Marcelina meminta orangtua untuk bisa menciptakan pengalaman berhasil yang akan diingat oleh mereka. Misalnya dengan cara memberikan soal matematika yang kemungkinan besar bisa dikerjakan si kecil sesuai dengan kemampuannya. Pengalaman demikian menurutnya akan membuat anak jadi lebih percaya diri dan termotivasi untuk terus mempelajari matematika tanpa rasa takut.

LATEST TOP NEWS