Psikologi

Mengenal & Mengarahkan Bakat Anak

Monday, 27 November 2017

Penting mengenal bakat anak sejak dini agar dapat dioptimalkan dan menjadi bekal masa depannya kelak. Tapi, bagaimana caranya ?

Setiap anak terlahir unik.  Masing-masing datang ke dunia dengan membawa sifat dan talenta yang berbeda. Hal tersebut dikatakan Tio Renova Pratiwi, M.Psi, Psikolog Anak dari Rumah Konsultasi dan Psikologi Vida. Lebih spesifik, Tio juga mengatakan bahwa meski ada unsur faktor bawaan atau genetik, bukan berarti dapat dipastikan bakat yang dimiliki seorang anak akan sama dengan orangtuanya.

Itu sebabnya, penting untuk  terus mencari tahu, bakat seperti apa yang sebenarnya dimiliki oleh sang buah hati. Karena dengan mengenal bakat si kecil, orangtua akan bisa membantu anak mengembangkan kariernya di masa depan. Meski demikian, perlu juga dipahami bahwa untuk menemukan bakat seorang anak memang bukan perkara mudah. Diperlukan waktu juga kesabaran. Terlebih bakat seorang anak bisa terus berubah, tergantung dari pengalaman yang diperolehnya.

“Dengan kata lain, jangan terburu-buru memastikan bahwa anak berbakat pada bidang tertentu hanya karena terlihat menyukainya. Perlu observasi lebih dalam untuk proses penggalian bakat anak, sehingga kita sebagai orangtua tidak salah langkah ketika mengarahkannya. Harap diingat juga, bakat menjadi sangat penting untuk dikenali karena merupakan bekal untuk proses aktualisasi diri anak pada saat perkembangan selanjutnya ,” terang Tio.

Cara Sederhana Mengenal Bakat Anak

Lebih lanjut Tio menjelaskan bahwa langkah awal yang dapat dilakukan orangtua untuk mengenal dan mengembangkan bakat anak dapat dimulai dari memperkenalkan beragam bidang pada anak sejak dini. Kemudian, lakukan observasi dengan memperhatikan kecenderungan anak terhadap berbagai bidang tersebut. Ketika melakukan observasi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan  orangtua. Pertama, di bidang apa anak relatif terlihat menonjol dalam melakukan aktivitas.

Yang dimaksud menonjol bukan hanya karena anak cepat belajar tapi bisa juga dengan anak cepat mencari tahu atau hasil dari aktivitas yang dilakukan anak melebihi  rata-rata dibandingkan anak lain seusianya. Kedua, si kecil tidak terlihat bosan saat melakukan aktivitas atau membicarakan aktivitas tersebut. Ia sangat menikmatinya walaupun saat sedang lelah. Artinya, anak tetap dapat menjaga semangatnya serta menunjukkan respon positif saat melakukan aktivitas tersebut. Lalu yang ketiga, anak mau melakukan aktivitas itu secara berulang walaupun mengalami kesulitan. Lebih jauh lagi, Tio mengingatkan orangtua untuk memahami bahwa bakat bukanlah hanya kemampuan intelegensi (IQ) saja. Tetapi seperti yang pernah dikemukakan oleh Howard Gardner, tokoh pendidikan dan psikolog terkenal dari Amerika, bakat bisa terbagi dalam 9 kategori. Diantaranya adalah kecerdasan musikal, yaitu kemampuan anak untuk memahami, mengapresiasi, memainkan dan menciptakan musik serta memiliki kepekaan akan ritme, melodi atau nada. Ada juga kecerdasan visual, yaitu kemampuan anak untuk berpikir 2 atau 3 dimensi, termasuk pemahaman akan bentuk dan ruang serta hubungan antar benda dalam ruangan. Atau kecerdasan kinestetik, yaitu kemampuan untuk menggunakan gerak tubuh atau bergerak dengan ketepatan tinggi dan mengekspresikan ide atangan perasaan melalui gerakan tertentu.,

Mengarahkan Bakat Anak

Lalu, apa yang harus dilakukan setelah orangtua mengenali bakat anaknya? Tio menyarankan, segera setelah bakat anak terdeteksi, orangtua diharapkan dapat memfasilitasinya sehingga bakat anak dapat berkembang dengan  optimal. “Berikan perlengkapan terkait dengan aktivitas yang ingin dilakukan. Misalnya, di bidang menggambar, maka anak dapat difasilitasi dengan memberikan alat menggambar. Ikutkan juga anak dalam aktivitas yang terkait dengan bidang tertentu yang ingin dikembangkan contohnya dengan cara les .Langkah berikutnya bisa dilakukan dengan jalan mengajak anak untuk mengikuti lomba atau pameran guna menunjukkan kemampuannya,” terang Tio.

Dari keseluruhan proses tersebut, yang perlu diperhatikan menurut Tio adalah anak tidak boleh sampai merasa terpaksa untuk melakukan aktivitas yang disukainya. “Terkadang ada masanya anak merasa bosan dan ingin istirahat sejenak dari apa yang disukainya, itu wajar. Yang terpenting jangan memberikan tekanan apalagi memaksa, karena hal itu justru dapat membuat anak tidak dapat mengembangkan bakatnya secara optimal,” saran Tio.

 

LATEST TOP NEWS