Psikologi

Mengatasi Perang Saudara

Thursday, 1 December 2016

Perkelahian antar saudara ternyata tak selalu berdampak buruk. Bahkan menurut beberapa psikolog, justru ada banyak pelajaran yang bisa dipetik sang buah hati dari pertengkaran tersebut. Kok bisa?

Nina seperti kehabisan akal menghadapi 2 anaknya, si sulung Trisia (7 tahun) dan si bungsu Brandon (5 tahun). Pasalnya, mereka berdua kerap bertengkar. Entah itu karena berebut mainan atau makanan.

“Pokoknya, hal apa saja bisa mereka permasalahkan dan jadi bahan berkelahi. Parahnya lagi, perkelahian itu hampir tiap hari terjadi. Sampai terkadang papanya marah besar, karena saat pulang dari kantor dan dalam kondisi lelah, sesampainya di rumah malah disuguhi dengan pertengkaran. Tapi herannya, mereka berdua meski sudah dimarahi tidak pernah kapok,” keluh Nina.

Menurut psikolog dan konsultan pendidikan Proxima Edukreasi Ayu Windiyaningrum Mpsi, kondisi tersebut sebenarnya normal-normal saja. Anak-anak, katanya, akan selalu menemukan hal-hal kecil dalam kesehariannya untuk dipertengkarkan, seperti berebut mainan, buku bacaan, dan sebagainya. Setiap anak tentunya memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda-beda, tidak jarang bertentangan, sehingga kerap memicu pertengkaran. “Biasanya semakin besar usia anak, mereka akan semakin belajar mengenal perbedaan masing-masing, saling menghargai dan menerima. Melalui pertengkaran, anak justru bisa belajar menyesuaikan diri dan menghargai orang lain,” papar Ayu.

Jennifer Shroff Pendley PhD juga menganggap pertengkaran antarsaudara kandung wajar terjadi. Orangtua sebaiknya jangan terlalu ikut campur, supaya anak bisa belajar bagaimana menyelesaikan perselisihan dan menghormati perbedaan. Menurut Jennifer,  ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya pertengkaran dan persaingan. Berikut rinciannya, seperti dia tulis di situs kidsheath.org.

Kebutuhan

Perubahan dan perkembangan kebutuhan sering kali membuat anak cemas. Balita misalnya, secara alami protektif terhadap mainan dan barang-barang yang mereka miliki. Mereka belajar untuk menegaskan kehendak disetiap kesempatan. Tidak mengherankan jika ada saudara yang mengambil mainannya, dia akan berusaha melakukan perlawanan. Contoh lain, anak usia sekolah sering memiliki konsep kuat tentang keadilan, sehingga sering kali mereka merasa tidak mengerti, mengapa perbedaan usia bisa memunculkan perlakuan yang berbeda dari orangtua dan orang di sekitarnya. Tapi jangan khawatir, anak akan belajar secara alami, pemahaman pun akan datang seiring pertambahan usia.

Temperamen

Setiap individu memiliki temperamen berbeda yang mempengaruhi suasana hati, disposisi, dan kemampuan beradaptasi. Temperamen memainkan peran besar pada kemampuan bergaul. Misalnya, Seorang anak yang sangat lengket pada ayah atau ibu, bisa memunculkan rasa kesal pada saudaranya. Hal-hal seperti itu kerap memunculkan pertengkaran.

Kebutuhan khusus

Anak yang memiliki kebutuhan khusus, memerlukan waktu lebih lama mengontrol emosi. Mereka kemungkinan menyadari kekurangannya, dan menutut perhatian lebih agar bisa mendapatkan kenyamanan emosi.

 Panutan

Cara orangtua menyelesaikan masalah dan perselisihan menjadi contoh  bagi anak-anak. Jika anak Anda melihat orangtuanya berteriak, membanting pintu, dan terus berdebat ketika muncul masalah, maka kemungkinan besar mereka akan mengambil cara yang sama.

Apa yang harus dilakukan?

Meski pertengkaran antarsaudara sangat wajar, namun sudah pasti suasana bisa menjadi sangat tidak menyenangkan. Apa pun, Jennifer menyarankan agar orangtua tidak ikut campur, kecuali pertengkaran berisiko pada luka fisik dan psikologis. Dia menegaskan, orangtua harus memahami perbedaan antara intervensi dan usaha memisahkan, ketika pertengkaran sudah mengancam secara fisik maupun psikologis.

Tindakan intervensi bisa berisiko memunculkan masalah lain, di antaranya ketergantungan anak untuk meminta bantuan, dan bisa membuat  satu anak merasa diistimewakan, sedangkan yang lain merasa disisihkan.

Langkah yang tepat adalah mendorong buah hati untuk menyelesaikan masalah sendiri. Ingatlah bahwa perselisihan merupakan cara anak mempelajari keterampilan untuk menyelesaikan persoalan. Mereka juga belajar menghargai perspektif orang lain, cara berkompromi, bernegosiasi, dan bagaimana mengendalikan dorongan agresif.

Jika orangtua terpaksa harus terlibat, maka perlu mempertimbangkan beberapa hal. Diantaranya adalah memisahkan anak dengan pertimbangan memberi mereka ruang sampai emosi menjadi lebih tenang. Selain itu, jangan fokus mencari tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Usahakan untuk menciptakan situasi yang menguntungkan bagi keduanya. Misalnya, mereka bertengkar karena menginginkan permainan yang sama, bisa dicari jalan keluar satu permainan yang bisa dimainkan berdua. Apabila pertengkaran dan perkelahian sudah begitu parah, merusak, dan mempengaruhi psikologis seluruh keluarga, saatnya meminta bantuan profesional. Namun, Jennifer mengatakan, kasus seperti itu jarang terjadi, persentasenya sangat kecil.

LATEST TOP NEWS