Psikologi

Mengapa Si Kecil Berbohong ?

Monday, 29 May 2017

Setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang jujur, baik hati dan tulus. Namun apa jadinya jika si kecil kerap kedapatan berbohong?

Mutia kaget dan tak habis pikir, putranya Rio yang baru berusia 4 tahun kedapatan berbohong. Awalnya Mutia menanyakan, apakah segelas susu yang disediakannya telah habis diminum? Dengan bangga Rio menunjukkan gelas yang telah kosong dan berkata : “sudah habis dong bunda, Rio pintar kan,” katanya sembari memuji dirinya sendiri.

Tapi saat hendak menaruh gelas kosong ke dapur, tanpa sengaja Mutia melihat tempat minum kucing peliharannya penuh dengan susu. Segera Mutia mendatangi Rio dan menanyakan perihal susu yang ada di tempat minum si kucing. Mulanya Rio tidak mau mengaku. Tapi setelah di desak dan ditakut-takuti, Rio akhirnya mengatakan bahwa susu yang disediakan oleh Mutia memang tidak diminumnya melainkan diberikan pada si kucing.

Dalam beberapa kesempatan, kebohongan yang dilakukan oleh anak pasti akan sangat mengagetkan. Maklum, di benak orangtua, anak sering dianggap sebagai mahluk kecil yang murni dan belum tahu konsep berbohong. Alhasil saat anak kedapatan berbohong, orangtua pun shock.

Lalu, apa yang harus dilakukan saat mendapati anak berbohong? Apakah harus menegurnya dengan lembut atau justru memarahinya? Sebelum salah bersikap, ada baiknya orangtua memahami konsep berbohong pada anak terlebih dahulu. Seperti yang dijelaskan oleh Karel Karsten Himawan, M.Psi, Founder dan Psikolog di Experiencing Life Foundation (ELF), Gading Serpong. Menurutnya, dari kacamata psikologi, bohong berarti menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan sebenarnya, dan biasanya diiringi dengan motif untuk mendapatkan keuntungan.

“Sebenarnya tidak semua hal yang disampaikan dengan tidak benar itu berarti berbohong. Suatu hal baru bisa disebut bohong jika terpenuhi dua kondisi, yaitu dilakukan secara sadar dan dengan motif untuk mendapat keuntungan dari pihak-pihak tertentu,” jelas Karel.

Bohong juga dikatakan merupakan salah suatu mekanisme mental untuk melindungi diri dari halhal yang dianggap dapat menyerang.  Lebih jauh Karel mengungkapkan, umumnya kebohongan dapat dikategorikan menjadi dua yakni bohong yang prososial dan bohong yang primitif.

Bohong prososial dijelaskannya sebagai kebohongan yang dilakukan dengan tujuan untuk tidak merusak keharmonisan atau membebaskan orang lain dari hukuman. Contoh, di kelas guru bertanya pada semua anak, apakah ada yang melihat temannya mencontek. Meskipun melihat, si anak tidak mau memberitahukan pada gurunya karena ia tidak ingin hubungan dengan temannya rusak dan tidak ingin temannya dihukum.

Sementara bohong primitif merupakan suatu bentuk kebohongan yang motivasinya untuk terbebas dari jeratan hukuman atau untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Contoh, Orangtua menjanjikan pensil warna baru jika anak segera pulang ke rumah usai jam sekolah. Nyatanya, sepulang sekolah, anak bermain sebentar ke rumah temannya. Demi mendapatkan pensil warna yang baru, si anak pun berbohong dengan mengaku langsung pulang ke rumah usai jam sekolah.

“Penyebab anak berbohong tentu beragam. Namun untuk frekuensi berbohong dan kondisi apa yang membuat si anak berbohong lebih ditentukan dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang sekitarnya. Artinya, jika orangtua tidak mengambil peran yang efektif, bahkan secara sengaja maupun tidak sengaja malah mengajarkan anak untuk berbohong, maka jelas anak akan makin pandai mengasah kemampuan berbohongnya,” tutur Karel.

Usia Anak Memahami Konsep Bohong

Menurut beberapa ahli dan berbagai penelitian, pada umumnya anak mulai memahami konsep bohong sejak menginjak usia pra-sekolah atau sekitar tiga tahun. Di usia ini, pemahamannya tentang bohong masih sangat sederhana dan anak belum dapat membedakan kebohongan dan terkaan.

“Untuk anak-anak di usia ini, ia lebih mungkin berbohong hanya supaya terbebas dari hukuman dan kebohongannya pun belum canggih. Contohnya, anak yang saat ditanya orang tuanya: “kamu makan selai roti ini ya?”. Karena takut dimarahi, ia menjawab tidak, padahal di sekitar mulutnya cemong dengan selai itu,” jelas Karel.

Untuk anak usia 6-7 tahun ke atas mereka mulai mampu berbohong dan membuat orang lain percaya atas kebohongan yang mereka sampaikan. “Misal, saat ditanya ‘kamu ambil mainan itu ya?’, si anak akan mengatakan ‘tidak..’ dan menambahkan pernyataan ‘aku saja tidak tahu mainannya seperti apa’ untuk meyakinkan kebohongannya,” lanjut Karel.

Cara efektif untuk mengetahui anak yang berbohong yaitu dengan menguji konsistensi dari cerita yang disampaikan. Orang tua bisa mengajak anak duduk dan menceritakan kejadian yang menurutnya benar. Tidak perlu dicurigai dari awal, karena itu akan membuat anak merasa tidak dipercaya, merasa semakin terancam, dan semakin terdorong untuk berbohong.

Apabila dari cerita yang disampaikan, ditemukan kejanggalan, orangtua bisa mulai menatap mata anak, lalu memintanya menceritakan yang sebenarnya. Tentu dengan tetap menunjukkan sikap mengasihi, bukan menghakimi atau memarahi.

Cara Mengatasi Anak yang Suka berbohong

Seiring dengan kemampuan berpikir anak yang semakin berkembang, kepandaian berbohong pada anak otomatis juga akan ikut berkembang. Jika dibiarkan, anak akan mengalami kekebalan dari perasaan bersalah akibat berbohong. Anak akan menganggap berbohong sebagai suatu hal yang normal dan mulai menjadikannya sebagai strategi menyelesaikan segala masalahnya. Karena itu, segera atasi bila anak mulai kedapatan berbohong. Caranya, pertama, berikan kepercayaan pada si anak. Tampillah sebagai orang yang paling mempercayai si anak, meskipun kita mengetahui si anak sedang berbohong. Namun, jangan biarkan anak terbuai dalam kebohongannya. Tegur dengan baik dan penuh kasih, bukan dengan menyerang.

Kedua Tanamkan nilai-nilai moral sambil mengapresiasi kejujurannya, sekecil apapun usaha yang anak lakukan. Ketiga, menjadi teladan bagi si anak. Bukan dengan teori kosong yang disampaikan, tetapi dengan menunjukkan apa itu jujur agar anak melihat dan kelak mampu mengartikan apa itu jujur melalui kisah hidup orangtuanya.

Menumbuhkan Kepercayaan Orangtua Kepada Anak yang Sering Bohong

Memang, sulit rasanya untuk mempercayai anak yang kerap berbohong, apalagi yang setelah tertangkap berbohong kemudian meminta maaf, lalu mengulanginya lagi. Namun, hukumnya tetap sama, sebagai orang terdekat, orangtualah yang terlebih dahulu harus menunjukkan kepercayaan, sebelum anak bisa berhenti berbohong. Karena patut diingat, kecurigaan adalah pupuk yang sangat baik untuk menyuburkan kebohongan pada anak.

“Terapkan dua mode berpikir dalam diri orangtua. Pertama, mungkin hari ini si kecil akan mulai berkata jujur, sehingga saya harus punya alasan untuk mempercayainya. Kedua, mungkin si kecil masih perlu waktu untuk mempercayai saya dengan tidak perlu berkata bohong. Dengan demikian, orangtua tidak akan selalu curiga dan anak pun akan berusaha menghargai kepercayaan orangtua dengan berhenti berbohong,” tutup Karel.

LATEST TOP NEWS