Psikologi

Ketahui Peran Orangtua dalam Fase Perkembangan Anak

Thursday, 30 March 2017

Tahukah Anda? Ada 3 fase perkembangan anak sesuai dengan usianya, yaitu usia 0-6 tahun, 6-12 tahun, dan usia 12 tahun ke atas. Masing-masing fase ternyata membutuhkan penanganan yang berbeda. Apa saja?

Susi merasa pusing tujuh keliling. Pasalnya Nanda, anaknya yang sekarang berusia 8 tahun terasa semakin menjauh dari dirinya. Saat pulang sekolah dan ditanya mengenai kegiatan yang dilakukannya, Nanda hanya mengatakan : “biasa saja, tidak ada yang penting”. Setelah itu ia akan diam. Seingatnya, jawaban seperti itu mulai diberikan Nanda sekitar 6 bulan lalu.

Usut punya usut, Nanda ternyata merasa kecewa. Sebab pernah beberapa kali Susi tidak menanggapi ceritanya bahkan cenderung mengatakan “nanti saja ceritanya ya, kan tidak terlalu penting. Biar bunda masak dulu”. Tapi setelah masak, Susi lupa menanyakan kembali pada Nanda karena langsung repot mengurus adik Nanda yang baru berusia 1 tahun.

Menurut Komisioner Komnas Anak sekaligus praktisi pendidikan, Lia Latifah, kasus seperti yang dialami Susi bisa saja terjadi karena sebagai orangtua, Susi dinilai belum memahami fase perkembangan anak.  Padahal, fase-fase tersebut sangat perlu dipahami agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki daya pikir cerdas, percaya diri, bertanggung jawab, dan menghargai sesama.

Membahas peran orang tua dalam fase perkembangan anak, Lia mengejawantahkan semboyan Ki Hadjar Dewantara yang berbunyi “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” yang artinya : “di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”. Dari semboyan tersebut Lia berpendapat, peran orangtua dibagi dalam 3 fase perkembangan anak dengan penjabaran sebagai berikut:

Usia 0-6 Tahun  Orangtua Berperan sebagai Teladan

Bahwasanya sejak usia 0-6 tahun anak sudah mulai membentuk karakter dengan melihat, meniru, dan membandingkan dirinya dengan orang disekitarnya, terutama orangtua. Perlu diingat, anak di usia ini seperti spons. “Semua yang dilakukan oleh orang dewasa dan orangtua akan ditiru 100 persen oleh anak,” ungkap Lia. Untuk itu orangtua perlu menempatkan dirinya sebagai  teladan bagi anak dengan memperhatikan empat hal penting. Pertama, menjaga perkataan saat berkomunikasi dengan anak. Agar anak pun akan santun dalam berbahasa dan berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya. Kedua, menjaga perilaku dan sikap. Ketiga, dalam memecahkan masalah atau konflik, orangtua perlu menghindari pemecahan masalah yang menggunakan kekerasan, baik verbal maupun fisik. Dan yang keempat, jika orangtua melakukan kesalahan, segeralah meminta maaf ke anak. Dengan demikian anak juga belajar untuk meminta maaf terhadap kesalahan yang mereka lakukan.

Usia 6 – 12 Tahun  Orangtua berperan sebagai Sahabat

Anak usia 6 -12 tahun sudah memasuki pendidikan formal. Setelah masuk sekolah, anak akan bersosialisasi dengan teman-teman seusianya. Sangat penting bagi orangtua menempatkan dirinya sebagai sahabat bagi anak. “Sahabat adalah seseorang yang membuat kita nyaman untuk bercerita, mendengarkan, dan sosok yang dapat dipercaya. Harapannya ketika orangtua bisa berperan sebagai sahabat, nantinya anak-anak akan menemukan bahwa orang yang bisa dipercaya itu adalah orangtuanya. Jadi dia tidak akan lari atau mencari keluar dari rumahnya,” ujar Lia. Saat berperan sebagai sahabat, Lia menyarankan agar orangtua lebih mengutamakan mendengarkan. Contohnya saat anak pulang sekolah, dengarkan keluh kesah atau pengalamannya saat di sekolah. Lalu berikan respon yang baik, jangan merespon anak dengan nada yang keras atau mengomelinya. Sehingga mereka tidak akan ragu untuk selalu minta saran kepada orangtua. Anak di usia sekolah tentu saja masih dalam tahapan belajar. Mereka memiliki rasa penasaran dan mempunyai banyak pertanyaan.  Sebagai orang tua yang berperan sebagai sahabat, jawablah pertanyaan anak dengan sabar. Saat tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan anak, maka minta anak untuk memberikan waktu guna mencari tahu jawaban yang benar.

Usia 12 Tahun ke Atas  Orangtua berperan sebagai Konsultan

Saat anak beranjak remaja, mereka cenderung sulit mendengar nasihat orangtua. Mereka sudah memiliki ego dan keinginannya sendiri. Jika orangtua bertindak keras kepada anak, mereka akan semakin menjauh. Maka tempatkan diri sebagai konsultan bagi anak. “Kalau konsultan itu ketika ada pasien bertanya dia baru menjawab. Jadi jangan anak belum melakukan apa-apa sudah dilarang. Ingat, anak harus belajar menemukan masalahnya dan dapat menyelesaikan masalahnya dengan kemampuan dirinya,” tutur Lia. Terkadang, ada saatnya anak akan datang ke orangtua saat mereka merasa buntu dan tidak bisa memecahkan masalah. Saat itulah orangtua bisa memberikan saran dan pemecahannya.  Anak pun secara otomatis menjadi tahu kapan harus bergantung kepada orangtua dan kapan harus memutuskan sendiri. Selain itu, orang juga bisa berperan sebagai motivator. Anak yang beranjak remaja sudah memiliki pilihannya sendiri dalam berbagai hal, maka orangtua hanya perlu mendukung dan mendorongnya dalam merealisasikan pilihannya. “Jadi ingat ya, orangtua perlu melaksanakan peranan yang diseusaikan dengan fase perkembangan anak. Dengan demikian, buah hati kita dapat tumbuh dengan baik,” tutup Lia.

LATEST TOP NEWS