Psikologi

Kapan Si Kecil Siap Sekolah?

Monday, 8 August 2016

Sebelum memasukkan si kecil ke sekolah, orangtua harus memastikan terlebih dahulu bahwa sang buah hati memang sudah siap bersekolah. Untuk itu, kenali tanda-tandanya.

Belakangan, Nina dan Edo sering berdebat mengenai putri kecil mereka, Shifa. Pasalnya, Edo berpendapat jika Shifa yang tahun ini akan menginjak usia 2 tahun, dirasanya belum cukup umur untuk masuk sekolah. Sementara istrinya Nina memiliki pandangan lain. Baginya, dengan memasukkan anak ke sekolah sejak dini, maka akan membuat kemampuan sosialisasi sang buah hati jadi jauh lebih berkembang. “Lihat saja Sammy anaknya Mbak Grace. Sejak usia 1 tahun dia sudah dimasukkan sekolah. Hasilnya, Sammy sekarang terlihat lebih pintar dibandingkan dengan teman sebayanya. Dia juga lebih gampang bergaul dan tidak takut dengan orang,” alasan Nina. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah kemampuan setiap anak memang sama? Dan yang paling krusial adalah, sudah siapkah si kecil menghadapi dunia barunya?

Menurut Psikolog Pendidikan Krishervina Lidiawati, M. Psi dari Joyful Consultant, pada umumnya, usia kesiapan anak untuk bersekolah itu berbeda-beda. “Tapi rata-rata, anak usia 3 tahun sudah dapat masuk taman bermain, sedangkan usia 4 tahun sudah siap untuk masuk taman kanak-kanak,” katanya.

Lantas, apa tanda-tanda anak siap bersekolah? Psikolog yang akrab disapa Kris ini menjelaskan bahwa untuk dapat masuk sekolah, paling tidak si kecil sudah harus memiliki kemampuan motorik kasar. Seperti berjalan, berlari, duduk, menendang, atau naik-turun tangga. “Karenanya, jangan heran jika saat ini banyak ditemukan sekolah yang memberikan tes masuk bagi calon siswanya, dimana anak diuji kemampuan motorik kasar dan halusnya secara  sederhana,” tambahnya.

Adapun kemampuan motorik halus sederhana yang dimaksud, salah satu contohnya adalah memasukkan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya. Kemampuan ini jugalah yang nantinya akan dikembangkan lebih jauh di sekolah melalui aktivitas menggunting, menggambar, mewarnai, dan lainnya. Selain itu, kemampuan bahasa dirasakan Kris juga turut berperan dalam menilai kesiapan anak untuk bersekolah. Sebagai contoh, si kecil yang sudah siap bersekolah biasanya memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak serta mampu memahami instruksi-instruksi sederhana. “Kadang pula, ada anak yang karena melihat kakak-kakaknya bersekolah, kemudian meminta kepada orangtuanya untuk ikut bersekolah. Atau, ada juga anak yang sudah terlihat ingin bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya di lingkungan sekitar rumah. Kedua hal ini juga dapat menjadi tanda bahwa anak sudah siap bersekolah,” tambah Kris.

Pastikan Sudah Matang

Kris pun menyimpulkan bahwa sebenarnya yang dimaksud anak siap bersekolah adalah anak-anak yang secara fisik, kognitif, dan sosio-emosionalnya mulai matang. Berdasarkan definisi tersebut, Kris sangat menyayangkan karena masih banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya sejak dini tanpa benar-benar memperhatikan kematangan dari ketiga aspek tersebut. Alhasil, anak akan mengalami kesulitan memahami instruksi guru atau bahkan hanya tidur di kelas.

“Jadi intinya, jangan paksa anak bila mereka memang belum menunjukkan tanda-tanda siap bersekolah. Berikan saja stimulasi di rumah, sehingga tanpa dimasukkan ke sekolah sejak dini, kemampuan si anak juga tetap bisa berkembang,” tandasnya.

Tips Memilih Sekolah Untuk Si Kecil

  1. Pilihlah sekolah terdekat

Bagi Kris, sangat tidak manusiawi jika menyekolahkan anak yang lokasinya jauh dari rumah. Sekalipun sekolah tersebut memang terkenal baik. Alasannya, anak datang ke playgroup atau taman kanak-kanak untuk bermain. Jika terlalu jauh, maka anak akan lelah di jalan. Patut diingat, bahwa esensi dasar dari jenjang playgroup dan taman kanak-kanak hanyalah untuk mengenalkan si kecil pada dunia lain selain rumah, mengajarkan keteraturan, dan menyiapkan mereka menuju sekolah yang sesungguhnya.

  1. Pilih sekolah yang memiliki keyakinan dan aturan sama dengan di rumah

Dengan memasukkan anak ke sekolah yang memiliki keyakinan yang sama, maka mereka akan tumbuh dengan dasar iman yang lebih kuat.

  1. Pilih sekolah sesuai dengan kemampuan anak

Cari tahu kegiatan atau kurikulum dari sekolah tersebut, lalu sesuaikan dengan kemampuan anak. Misalnya, jangan memilih sekolah yang terlalu banyak aktivitas olahraga apabila si kecil lemah secara fisik. Atau lebih baik memilih sekolah yang monolingual/bilingual daripada trilingual ketika anak belum fasih dan kesulitan menggunakan bahasa ibu.

 

LATEST TOP NEWS