Psikologi

Beda Pola Asuh Antara Ayah dan Bunda, Apa Dampaknya?

Wednesday, 2 January 2019

“ Mendidik anak memang tanggung jawab bersama. Tapi faktanya, sering terjadi perbedaan pola asuh antara ayah dan bunda. Bagaimana cara mengatasinya? ”

Pernah dengar ungkapan bahwa pola asuh itu ibarat warisan? Ya, para ahli psikologi mengamini hal tersebut. Menurut mereka, pola asuh yang dibawa seorang ayah atau bunda sedikit banyak sama dengan pola asuh yang diterapkan oleh kedua orangtuanya dulu. Misalnya seorang ayah saat kecil dididik secara otoriter, maka kemungkinan besar ketika ia memiliki anak, pola asuh otoriter jugalah yang diterapkannya.

Nah yang menjadi masalah, tidak semua orang diwarisi pola asuh yang sama. Mungkin saja si ayah dididik secara otoriter, sementara bundanya saat kecil dulu dibesarkan dengan gaya asuh yang berbeda. Alhasil saat memiliki anak, akan ada perbedaan pola asuh antara mereka. Lalu, bagaimana cara menjembataninya?

Jenis Pola Asuh

Sebelum memberikan solusi tentang pola asuh yang berbeda, Alia Mufida, M.Psi yang sehari-hari berpraktik sebagai psikolog di Klinik Mentari Anakku ingin menjelaskan terlebih dahulu mengenai berbagai jenis pola asuh. Menurutnya, secara teori ada 3 jenis pola asuh, yaitu otoriter, permisif dan demokratis.

Pada jenis otoriter, anak dipaksa untuk selalu mengikuti perintah orangtua. Mereka cenderung tidak diberikan penjelasan mengapa aturan itu diterapkan. Intinya anak harus selalu ikut apa kata orang tua, jika si ayah mengatakan A maka harus A, bila ibu ingin B maka harus B. Tak ada tawar menawar sehingga inilah mengapa pola otoriter ini kerap disebut seperti tembok batu.

“Di pola otoriter terjadi ketidakseimbangan antara tuntutan dan responsif. Orangtua banyak menuntut tapi kurang responsif pada kebutuhan anak,” jelas psikolog yang akrab disapa Fidaini.
Berbanding terbalik dengan otoriter, pola asuh permisif dikenal juga dengan nama serba boleh.Di satu sisi orangtua melimpahi banyak kasih saying tapi di sisi lain aturannya begitu longgar dan tidak konsisten diterapkan.

“Aturan itukan sengaja diterapkan agar anak bisa disiplin dan tumbuh jadi pribadi yang baik. Tapi sayangnya pola asuh seperti ini cenderung mengabaikannya. Orangtua yang menganut pola asuh ini kerap beranggapan yang penting anak senang sehingga selalu mewujudkan permintaannya. Tak heran jika pola asuh permisif bisa dibilang lembek seperti kapas,” tambah Fida.

Lebih lanjut Fida mengatakan hal ini biasanya terjadi karena orangtua tidak ingin anaknya merasa sedih atau tidak mau anaknya tidak menyukai mereka, sehingga akhirnya selalu menuruti keinginan anaknya.
Terakhir, ada pola asuh yang disebut dengan demokratis. Pola asuh jenis inilah yang sebenarnya disarankan oleh banyak ahli termasuk Fida. Jenis ini digambarkan seperti pohon, dimana akarnya diibaratkan sebuah aturan, sementara anak-anak sebagai pucuknya. Diyakini dengan pola asuh yang demikian akan membuat anak-anak tetap bisa bereksplorasi namun tetap berpegangan pada batasan atau aturan yang telah ditetapkan.

Lalu, ada dampak nyata dari pola asuh demokratis terhadap anak? Fida pun menjelaskan, berhubung pola asuh demokratis memberikan kasih sayang yang cukup dan diimbangi dengan aturan yang jelas, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan juga kedepannya dapat mengambil keputusan sendiri atau dengan kata lain jadi terdorong untuk mandiri.

Mengatasi Perbedaan Pola Asuh

Kembali ke masalah perbedaan pola asuh, Fida mengungkapkan bahwa beda pola asuh antara ayah dan bunda dapat membuat anak cenderung memilih pihak mana yang bisa mewujudkan keinginannya. Akibatnya, mereka akan kehilangan respek pada salah satu orangtua yang dianggap kurang berpihak dengan dirinya.

Bila hal tersebut terus terjadi, maka kedepannya bukan tak mungkin si anak selalu mencari-cari celah aturan sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tidak disiplin. Didikan tersebut pada akhirnya juga akan terbawa ketika si kecil mulai masuk ke komunitas sosial seperti sekolah.

“Ya, karena terbiasa mengakali aturan di rumah, maka mereka juga jadi tak mau tahu soal aturan di sekolah. Itu sebabnya, selalu saja ada anak di sekolah yang kelihatannya bermasalah. Salah satu penyebabnya ya itu tadi, adanya pola asuh yang berbeda di rumah,” tegasnya.

Bila mengalami masalah tersebut, maka Fida menyarankan sebaiknya kedua orangtua buru-buru memperbaikinya dan menyatukan pola asuh yang dianut ke arah demokratis.
“Kuncinya adalah komunikasi dan diskusi. Kedua orangtua perlu paham bahwa anak butuh aturan namun jangan sampai mengekangnya. Tetap berikan kasih sayang namun juga tetap membimbing mereka dengan membuat aturan yang tentunya bertujuan agar si kecil berperilaku baik, paham normal sosial, disiplin dan mandiri,” tutup Fida.

LATEST TOP NEWS