dr fabilia pascilla

Fabiola Priscilla Setiawan

M.Psi

Ketergantungan Dengan Boneka, Wajarkah??

Ibu, anak perempuan saya yang berusia 5 tahun memiliki ketergantungan terhadap satu boneka miliknya. Kemana-mana dia harus membawa boneka tersebut. Anak saya juga senang ‘mengobrol’ dengan bonekanya. Apakah perilaku anak saya ini wajar? Perlukah saya memisahkan dengan bonekanya?

Mariana
Surabaya

Salam Ibu, Saya memahami kekhawatiran Ibu menghadapi perilaku ananda yang senang membawa dan mengobrol dengan bonekanya. Umumnya sekitar 3-4 tahun, anak mulai menunjukkan kemampuan berpikir kreatif. Hal ini terlihat melalui imaginasi mereka yang semakin kaya seiring dengan wawasannya yang juga bertambah luas. Anak dapat saja mempercayai bahwa apa yang dikhayalkannya adalah nyata, seperti juga saat ananda berbicara dengan bonekanya. Kegiatan ini dilakukan ananda sebagai bagian dari kegiatan bermainnya. Anak-anak menikmati memiliki teman khayalan (dapat berupa apa saja, termasuk boneka), karena dapat menceritakan berbagai hal tanpa perlu merasa cemas, atau malu dan tidak merasa kesepian atau takut karena ada yang terus mendampinginya (dalam hal ini boneka kesayangannya).  Tapi jangan khawatir, pemahaman anak akan perbedaan antara dunia khayal dan dunia nyata nantinya akan berkembang secara bertahap, sehingga perilaku berbicara dengan boneka umumnya akan menghilang seiring dengan pertambahan usia.

Perilaku diatas menjadi mengkhawatirkan jika  mulai mengganggu fungsi keseharian ananda, seperti mulai menarik diri dari pergaulan, tidak berminat untuk bersosialisasi dan lebih memilih untuk bersama bonekanya saja atau jika perilaku tersebut masih terlihat di atas usia 7 tahun, karena seharusnya di usia tersebut ananda sudah mampu menjalin interaksi dengan teman-teman di dunia nyata. Selain itu, ada juga anak-anak yang menunjukkan perilaku di atas sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan, menciptakan situasi yang diharapkan terjadi padanya,  mengalihkan rasa bosan, membuatnya merasa lebih nyaman, atau sebagai cara untuk menghibur dirinya dari situasi yang membuatnya merasa tidak senang.

Secara langsung melarang atau memisahkan ananda dari boneka kesayangannya tentu tidak dianjurkan, karena membuat anak tertekan, frustasi dan dapat berdampak buruk bagi kemampuan berpikir kreatif juga emosinya.  Jika Ibu menemukan adanya beberapa faktor diatas, maka sebaiknya Ibu dapat mengatasinya secara bertahap,  melalui permainan dan komunikasi yang ringan dan menyenangkan, seperti :

  1. Ibu dapat rutin mendampingi ananda saat ia bermain dan berbicara dengan bonekanya. Tujuannya, untuk mengetahui isi dan tema dari pembicaraannya tersebut juga mengenal pemikiran dan kondisi emosional ananda lebih mendalam. Di waktu yang berbeda, Ibu dapat mengangkat tema tersebut, dan membicarakannya dalam situasi yang nyaman bagi ananda. Misalnya, saat menghias kue bersama, Ibu dapat menanyakan tentang tema “teman yang mengganggu” yang ia bicarakan dengan bonekanya.
  2. Perlahan-lahan, Ibu dapat mulai mengajarkan ananda untuk membedakan hal yang nyata dan tidak nyata. Misalnya, mengunjungi pabrik pembuat boneka dan secara tenang menanyakan menurut ananda bagaimana bonekanya dibuat. Setelah itu, bicarakan apa yang dapat dilakukan oleh boneka dan manusia, sehingga ananda memahami bahwa boneka tidak dapat berbicara seperti manusia dan jika ananda ingin menyampaikan sesuatu Ibu akan senang sekali mendengarnya.
  3. Saat menyaksikan acara televisi, Ibu juga dapat membahas mengenai hal yang nyata dan tidak nyata (pura-pura). Misalnya, hewan kucing memang ada dan nyata, tapi kucing tidak bisa berbicara bahasa manusia seperti di film itu, sedangkan boneka bukan benda hidup, sehingga tidak bisa berjalan, makan, mendengar, dan juga berbicara.
  4. Secara rutin, Ibu juga dapat membuat cerita bersama-sama ananda untuk dimainkan bersama-sama. Misalnya, Ibu berperan menjadi teman baru yang mengunjunginya di rumah untuk bermain. Hal ini diharapkan dapat menggantikan kebutuhan ananda untuk berbicara dengan bonekanya.
  5. Selanjutnya, Ibu dapat memberikan waktu lebih banyak untuk berada bersama ananda, melakukan kegiatan yang menyanangkan bersama-sama, dan memberikan variasi permainan lain untuk dilakukan bersama. Selain itu, Ibu juga dapat rutin mengundang teman-teman sebaya untuk bermain di rumah atau memberikan ananda beberapa aktivitas di luar sekolah yang sesuai dengan minat dan bakatnya untuk mengalihkan ketergantungan ananda terhadap bonekanya.

june