Laporan Utama

Waspadai Kematian Mendadak Pada Bayi

laporan utama 360 x360

Bayi berusia di bawah satu tahun, terutama mereka yang masih di usia dua hingga empat bulan, sangat rentan mengalami sindrom kematian mendadak. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui apa saja penyebabnya, sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan.

Tak hanya orang dewasa yang menghadapi ancaman kematian mendadak, sang buah hati yang baru saja dilahirkan dalam kondisi sehat pun berpotensi mengalaminya. Kendati belum ada laporan resmi tentang jumlah bayi di Indonesia yang mengalami kematian mendadak, namun sejumlah sumber menyebutkan bahwa dari total angka kematian bayi di Indonesia, hampir 31%-nya disumbang oleh kasus kematian bayi yang tidak jelas penyebabnya.

Di luar negeri, seperti di Amerika, setiap tahunnya telah terjadi 2.500 kasus kematian bayi mendadak. Merujuk data yang dipaparkan di situs Health Canada, pada tahun 2005 kasus bayi meninggal karena kematian mendadak mencapai tiga bayi per minggunya. Itu artinya, angka kematian mendadak pada bayi diperkirakan sekitar 1 hingga 2 per 1.000 kelahiran bayi hidup.

Kematian mendadak pada bayi atau dikenal juga dengan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS), menurut dr. Dianto, Sp.A dari Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, biasanya terjadi saat bayi tidur dan sayangnya sampai dengan saat ini penyebabnya belum diketahui secara pasti.

“Di Indonesia, memang belum ada laporan resmi tentang SIDS. Namun, di luar negeri, SIDS sering terjadi. Saya menduga, tidak terekamnya angka resmi tentang SIDS di Indonesia disebabkan karena begitu bayi meninggal mendadak, kebiasaan orangtua disini akan segera memakamkannya, sehingga penyebabnya juga tidak bisa dipastikan,” katanya.

Lebih lanjut dr Dianto menjelaskan bahwa pada dasarnya, SIDS merupakan penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada bayi yang berusia di bawah satu tahun. Bahkan, bayi berusia di bawah empat bulan, menurutnya paling rentan menghadapi SIDS. Hal ini didukung data di seluruh dunia yang menunjukkan bahwa kebanyakan SIDS  terjadi pada usia bayi 2-4 bulan dan ketika bayi sedang dalam kondisi tertidur.

Bak silent killer, maka SIDS memang perlu diwaspadai orangtua yang baru saja memiliki sang buah hati. Sebab, pada kasus yang khas, seorang bayi berusia dua hingga empat bulan yang tampak sehat, kemudian ditidurkan oleh orangtua tanpa kecurigaan; tak berselang lama  bayi dapat ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Sayangnya, otopsi konvensional gagal menemukan penyebab kematiannya.

Diterangkan dr. Dianto  yang juga praktik di Rumah Sakit Hermina Daan Mogot,  biasanya kasus SIDS terjadi karena sumbatan pada saluran pernafasan bayi. “Hal itu bisa jadi karena faktor kondisi tidur yang tengkurap dan hidung bayi yang tertutup hingga sulit bernafas. Selain itu, bisa juga karena bayi muntah dan tersedak susu. Bahkan, bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah juga bisa mengalami infeksi pada saluran pernafasan, hingga berujung pada SIDS,” tegasnya.

Kemudian, dr Dianto juga mengatakan bahwa kematian mendadak pada bayi yang terjadi ketika bayi kekurangan nafas akibat posisi tidurnya yang menghalangi saluran pernapasan, banyak dikaitkan dengan kurangnya respons yang mengejutkan pada otak, yang mampu memicu bayi bernafas megap-megap. Dalam kondisi semacam itu, sebenarnya bayi akan menangis untuk merangsang pernapasannya normal kembali.

“Jadi perlu saya ingatkan, terkadang para ibu suka ceroboh ketika bayi mereka sedang tertidur dalam posisi tengkurap.  Tanpa sengaja tangan si ibu berada di atas bayi atau menindih bayi, sehingga bayinya mengalami kesulitan untuk bernafas lalu meninggal. Sebaiknya, ketika bayi tidur dalam posisi tengkurap harus selalu diawasi,” kata dr. Dianto mengingatkan.

Lebih jauh lagi, dr Dianto menjelaskan bahwa sebenarnya, riwayat perinatal yang rinci serta pemeriksaan intensif akan fungsi kardiorespiratorik dan neurologic mampu menghasilkan bukti-bukti bahwa bayi yang berpotensi SIDS tidak berada dalam keadaan yang normal sebelumnya. Hanya saja, banyak orangtua tidak paham sekaligus menyadari hal itu.

Lantas, apakah pernah ada sosialiasi tentang SIDS agar para orangtua paham sekaligus sadar akan bahayanya? Diuraikan dr. Dianto, biasanya tiap kali datang ke dokter anak, orangtua akan diberikan pemahaman akan SIDS. Misalnya,  dokter anak selalu memberitahukan kepada orangtua jika anak muntah, maka mereka harus berhati-hati untuk tidak membiarkan bayi dalam posisi terlentang. Sebab, hal itu akan membuat bayi tersedak.

“Sebaiknya, saat muntah, posisi bayi dimiringkan agar bisa mengeluarkan muntahnya. Kalau bayi sedang tidur, maka jangan dibiarkan dalam posisi tengkurap tanpa adanya pengawasan. Bila memang tidak bisa terus menerus diawasi, segera betulkan posisinya menjadi terlentang,” lanjutnya.

Selain karena kondisi bayi yang tidur tengkurap tanpa pengawasan hingga berujung pada SIDS, bukti statistik juga menunjukkan bahwa ada kaitan antara bayi yang terpapar tembakau selama kehamilan dengan sindrom mati mendadak pada bayi.

Tim dokter yang dipimpin Dr. Anne Chang, seorang profesor di bidang pernapasan di Royal Children’s Hospital Foundation di Brisbane, Australia, berupaya mencari kaitan antara kedua hal itu. Caranya, dengan mengamati 20 bayi sehat berusia sekitar tiga sampai lima bulan. Sebab, usia itu merupakan usia bayi yang berisiko mati mendadak.

Selanjutnya, para ahli mengamati sepuluh ibu bayi yang tidak merokok pada masa kehamilan, sedangkan yang lain merokok selama kehamilan. Melalui penelitian itu, kecurigaan para peneliti bertambah bahwa nikotin dapat berakibat pada perkembangan kunci fungsi motoris bayi. Yakni, memerintahkan otak untuk tidur dan membangunkan, serta fungsi jantung dan paru-paru.

“Bayi yang hidup terpapar asap rokok memang memiliki resiko yang lebih tinggi terkena SIDS. Dan,  salah satu faktor yang memicu SIDS adalah kebiasaan orangtua, terutama ibu yang merokok juga menggunakan obat-obatan serta alkohol,” ucap dr Dianto.

Lalu, disamping berbagai faktor yang sudah dijelaskan seperti usia dibawah 1 tahun serta bayi yang terpapar nikotin, kira-kira siapa lagi yang rentan terkena sindrom kematian mendadak pada bayi? Dijawab  dr. Dianto, mereka yang rentan tertimpa SIDS adalah bayi berjenis kelamin laki-laki, bayi yang lahir prematur, bayi yang lahir dengan berat badan rendah, bayi yang lahir saat ibu masih berusia remaja, juga bayi yang jarak kelahirannya  sangat dekat dengan kelahiran bayi sebelumnya.

Langkah Pencegahan SIDS

Mengingat cukup tingginya angka kematian bayi akibat SIDS, maka waspada sejak dini akan SIDS tentu harus disadari betul oleh orangtua, terutama ibu. Oleh karena itu, berbagai langkah pencegahan harus segera dilakukan.

Pertama, selama masa kehamilan, ibu harus rutin melakukan pemeriksaan janin juga kesehatan si ibu pada dokter kandungan. Hal itu untuk memastikan bahwa ibu dan janinnya dalam keadaan baik. Selain itu, asupan selama masa kehamilan juga harus diperhatikan, karena yang dikonsumsi ibu akan juga dikonsumsi oleh janin.

Kedua, senantiasa meletakkan bayi  dalam posisi terlentang ketika ia sedang tidur, walaupun saat tidur siang. Posisi itu adalah posisi yang paling aman bagi bayi yang sehat, guna mengurangi risiko SIDS. Termasuk, memberikan empeng pada saat bayi tengah tertidur terlentang.

Ketiga, jangan pernah menengkurapkan bayi secara sengaja ketika bayi tersebut belum waktunya untuk bisa tengkurap sendiri secara alami.

Keempat, gunakan kasur atau matras yang rata dan tidak terlalu empuk. Penelitian menyimpulkan bahwa risiko SIDS akan meningkat drastis apabila bayi diletakkan di atas kasur yang terlalu empuk, seperti pada sofa, bantalan sofa, kasur air, bulu domba, atau permukaan lembut lainnya.

Kelima, jauhkan berbagai selimut atau kain yang lembut, berbulu, dan lemas, serta mainan yang diisi dengan kapuk atau kain dari sekitar tempat tidur bayi. Hal itu untuk mencegah bayi terselimuti atau tertindih benda-benda tersebut.  Untuk itu, ada baiknya  kenakan pakaian tidur lengkap kepada bayi, sehingga tidak perlu lagi menggunakan selimut. Namun, seandainya tetap diperlukan selimut, sebaiknya pastikan kaki bayi  berada di ujung ranjangnya, selimutnya tidak lebih tinggi dari dada si bayi, ujung bawah selimut  ke arah kaki bayi dan terselip di bawah kasur atau matras sehingga terhimpit.

Keenam, jangan biarkan bayi tidur tengkurap tanpa dijaga. Hal itu harus dilakukan agar  tetap ada yang memantau bayi dan membetulkan posisi tidurnya untuk tetap dalam kondisi miring atau terlentang. Pendeknya, usahakan bayi tidak tidur tengkurap sendirian untuk waktu yang cukup lama.

Ketujuh, pastikan orang di sekitar bayi tidak merokok. Alias, jangan biarkan siapapun merokok di sekitar bayi, khususnya sang bunda sendiri. Oleh karena itu, hentikan segera  kebiasaan merokok pada masa kehamilan maupun kelahiran bayi. Sejatinya, bayi yang tercatat sebagai perokok pasif sangat beresiko menghadapi SIDS.

Kedelapan, pastikan juga bahwa setiap orang yang mengurus sang buah hati atau tempat penitipan bayi mengetahui semua kemungkinan yang mampu memicu kematian mendadak pada bayi. Sebab, setiap hitungan waktu tidur bayi mengandung risiko SIDS.

Kesembilan, jangan biarkan bayi dalam kondisi kepanasan atau kegerahan selama dia tidur. Buat dia tetap hangat, tetapi jangan terlalu panas atau gerah. Itu sebabnya, kamar bayi sebaiknya berada pada suhu yang nyaman. Pastikan juga kamar tidur bayi memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak terlalu pengap. Untuk itu, hindari kamar bayi terletak dekat dengan garasi mobil.

Kesepuluh, berikan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif pada bayi. Sebab, belum lama ini, sebuah studi di Jerman menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif sanggup menurunkan separuh angka kematian mendadak pada bayi. Bahkan, bayi yang mendapatkan ASI parsial juga memetik manfaat. Mungkin dengan menyusui, seperti juga mengempeng, bayi tidak tidur terlalu dalam.

LATEST TOP NEWS