Laporan Utama

Pentingnya Mempersiapkan Kehadiran Sang Buah Hati

laput cover

Agar segala sesuatunya berjalan dengan lancar, diperlukan sejumlah persiapan untuk menyambut datangnya sang buah hati. Tidak hanya fisik, tapi juga mental dan finansial.

Anak selalu menjadi “kado” terindah dalam sebuah keluarga. Oleh karena itu, kehadirannya selalu dinantinantikan setiap pasangan yang telah memasuki jenjang pernikahan. Tak mengherankan, jika kebahagiaan akan langsung menyelimuti ayah dan bunda, begitu mengetahui vonis dokter tentang adanya sang buah hati yang mulai bersemayam di rahim ibu.

Sayangnya, usai mengetahui akan hadirnya sang buah hati, tidak sedikit pasangan yang harus menghadapi masalah terkait kesehatan sang bunda beserta janin yang dikandungnya. Untuk itu, diperlukan sejumlah persiapan untuk memasuki masa sebelum dan saat kehamilan. Di antaranya, lewat cek laboratorium.

Diungkapkan dokter spesialis kandungan, Dr.  Mufti Yunus Spog, pada dasarnya ada dua fase cek laboratorium yang mesti dilalui, yaitu saat mempersiapkan kehamilan dan pada saat memasuki masa kehamilan. Tujuannya tentu agar kesehatan sekaligus keselamatan bunda beserta janinnya lebih terjamin.

Fase Sebelum Kehamilan

Sebelum masa kehamilan, pasangan suami-isteri dianjurkan untuk menjalani rangkaian tes hematologi (darah). Tes  yang masuk dalam kategori wajib tersebut, antara lain meliputi pemeriksaan hemoglobin, golongan darah, dan resus (rhesus) suami isteri.

Mengapa rangkaian tes itu diperlukan? Dijawab Dr. Mufti, karena perbedaan resus pada pasangan sami isteri bisa menyebabkan keguguran (berulang). “Perbedaan resus banyak ditemui pada orang Indonesia yang menikah dengan orang asing (Amerika dan Eropa). Orang Asia dan Afrika misalnya, sekitar 90%-nya  memiliki Rh (+), sedangkan orang Eropa dan Amerika, kebanyakan memiliki Rh (-),” ia menjelaskan.

Lebih jauh Dr Mufti mengatakan, selain tes hematologi atau darah rutin  yang mencakup Hb, Leucosite, Hematokrit, Trombosite, dan Hepatitis /HbSAg , idealnya sebelum kehamilan  juga dilakukan tes TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes). “Tes jenis itu  memang cukup mahal. Namun, biasanya tidak semua dokter mengharuskan. Artinya tergantung situasi dan kondisi pasangan suami isteri. Jika ada faktor  risiko yang terungkap selama anamnesa atau tanya jawab dengan pasien, barulah tes ini dilakukan. Andai positif, akan dilakukan langkah-langkah pengobatan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, selain dapat menyebabkan keguguran, Toksoplasma juga menjadi penyebab cacat kongenital. Misalnya, sang buah hati lahir dalam  kondisi  Hidrosefalus (kepala membesar),” terang doker yang berpraktek di RS Omni Alam SutraTangerang itu.

Selain itu, pemeriksaan Rubella (Cacar Jerman), terutama saat ibu dinyatakan positif hamil. Pasalnya jika tidak segera ditangani, ibu hamil yang terkena Rubella berpotensi keguguran atau melahirkan bayi yang cacat. Tanda-tanda calon ibu terserang Rubella itu sendiri antara lain adalah panas tinggi dan kulit kemerahan. “Pemeriksaan Cytomegalovirus dan Herpes juga diperlukan, karena bisa menyebabkan risiko yang sama, yaitu keguguran dan bayi lahir cacat,” tambah Dr. Mufti.

Selain itu, setiap dokter kandungan juga akan melakukan prosedur tanya-jawab mengenai riwayat penyakit keluarga pasien. Bila dalam proses tersebut sudah diketahui ada hal-hal yang beresiko, misalnya dalam keluarga ada penderita Talasemia, punya riwayat hepatitis, gula darah, dan sebagainya, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium tambahan sesuai dengan kebutuhan pasien. “Idealnya semua tes dilakukan. Tapi karena biayanya lumayan tinggi, maka bisa pilah berdasarkan faktor  resiko,” sarannya.

Fase Saat Kehamilan

Pada saat emasuki fase kehamilan, menururt Dr. Mufti, sejumlah tes laboratorium juga masih perlu dilakukan. Pada umumnya, dokter merekomendasikan tiga kali tes. Pertama adalah  tes pada trimester pertama atau ketika usia janin 0-12 minggu. Pada masa itu, tes yang diperlukan adalah hematologi dan TORCH. Pemeriksaan TORCH saat hamil menjadi sangat penting. Sebab, Toksoplasma yang tidak berdampak  saat calon ibu belum hamil, akan menjadi berbahaya di masa kehamilan. “Artinya, risiko kesehatan ibu dan bayi menjadi lebih besar. Oleh karena itu, jika diketahui sejak dini, maka bisa dilakukan pengobatan untuk menyelamatkan kandungan,” lanjutnya.

Kedua, tes pada trimester kedua  atau ketika kandungan berusia 12 minggu ke atas hingga 28 minggu. Menurut Dr. Mufti, kecenderungan calon ibu saat hamil adalah kekurangan zat besi, kalsium, dan sebagainya. Kondisi itu  menjadi pendorong diperlukannya kembali tes darah (hematologi), termasuk pengecekan gula darah.  Sebab, tingginya gula darah saat kehamilan juga bisa menjadi penyebab kematian bayi dalam kandungan.

Tes urine perlu dilakukan pada trimester kedua untuk mengecek kandungan protein. “Tes urine ini biasanya disarankan jika ibu hamil memiliki kecenderungan peningkatan tekanan darah, hingga keluar dari batas normal. Kondisi seperti ini bisa menyebabkan PreEklampsia dan Eklampsia yang dapat membahayakan nyawa ibu dan janin,” tegas Dr. Mufti.

Ketiga, tes pada trimester ketiga atau saat janin berusia 28 minggu ke atas. Pada rentang waktu tersebut, dikatakan Dr. Mufti, idealnya dibutuhkan juga tes laboratorium Hematologi dan tes urine. Tujuannya,  untuk benar-benar mempersiapkan kelahiran yang aman bagi keselamatan ibu dan janin.

Di luar dari mengikuti rangkaian tes tersebut, disarankan Dr. Mufti,  ibu hamil juga harus melakukan pemeriksaan kandungan ke dokter atau pun bidan. “Idealnya, kandungan diperiksa setiap bulan. Tapi jika tidak memungkinkan, ibu hamil paling tidak harus melakukan pemeriksaan kandungan minimal empat kali di masa kehamilan. Pemeriksaan bisa dilakukan satu kali di trimester pertama, satu kali lagi di trimester kedua, dan dua kali pemeriksaan di trimester ketiga,” tutupnya.

Nutrisi dan Kebiasaan di Masa Kehamilan

Di samping pemeriksaan dan segala macam tes tersebut, ibu yang sedang mengalami kehamilan juga harus mempersiapkan makanan sehat sekaligus bergizi untuk dikonsumsi. Sebaiknya saat hamil, hindari makanan yang banyak mengandung bahan pengawet, makanan pedas, berminyak, dan berlemak.

Dikatakan oleh Dr. Mufti, pada prinsipnya, embrio dan janin menerima semua nutrisi langsung dari ibunya. Karena itu, penting untuk mengetahui jenis nutrisi yang baik sehingga bisa membuat pertumbuhan janin lebih optimal. “Biasanya, bila konsumsi nutrisinya cukup, maka ibu hamil akan mengalami penambahan berat badan di trimester awal minimal 1 kg. Sementara di trimester kedua, berat badan akan bertambah minimal 2 kg. Sedangkan di trimester ketiga, berat badan bisa bertambah minimal sampai 6kg,” ujarnya.

Secara umum, menurut Dr. Mufti, kebutuhan metabolisme ketika hamil sekitar 75.000kg kalori, dibagi dalam waktu 250 hari. Jadi, selama masa hamil harus ada 300kg kalori/hari terpenuhi. Sedangkan untuk protein, harus mencapai 12garam/hari. Lalu, lanjut ke nutrisi pendukung yang harus didapat Ibu dan bayi, yaitu asam folat 600 microgram/hari, zat besi 35mg/hari, kalsium 600mg/hari, vitamin C 85mg/hari, dan zinc 20mg/hari.

“Hal ini perlu diperhatikan dengan baik, karena dengan terpenuhinya asam folat, vitamin B6, B12, dan vitamin lainnya bisa membantu untuk menghindari penyakitpenyakit yang mungkin bisa diderita bayi nantinya,” sarannya.

Lebih jauh, Dr Mufti juga menyarankan agar ibu hamil selalu melakukan olahraga. Tentunya yang tergolong aman seperti renang dan jalan kaki. Dan ketika kandungan telah memasuki usia di atas tujuh bulan, senam hamil bisa menjadi pilihan olahraga yang paling tepat.

“Saat hamil, cara tidur di trimester kedua dan ketiga juga harus diperhatikan. Sebaiknya, hindari tidur telentang. Akan lebih baik jika ibu hamil tidur miring, terutama ke arah kiri. Karena dengan tidur miring ke kiri, janin akan mendapatkan aliran darah dan nutrisi yang maksimal,” tegasnya.

Hal lain yang harus diperhatikan untuk mempersiapkan datangnya sang buah hati adalah mengubah gaya hidup. Misalnya yang tadinya suka merokok dan minuman beralkohol, jauh-jauh hari ketika kehamilan baru masuk tahap rencana, kebiasaan tersebut sebaiknya sudah dihentikan, baik dari pihak suami maupun istri. “Ketika baru berencana untuk hamil saja kebiasaan buruk itu sudah harus dihentikan, apalagi saat hamil. Patut diingat, buah hati yang sehat akan lahir dari ayah dan ibu yang gaya hidupnya sehat,” tegas Dr. Mufti.

 

Pentingnya Persiapan Mental dan Finansial

Selain persiapan fisik seperti yang telah dijelaskan di atas, persiapan mental sekaligus finansial juga diperlukan guna menyambut hadirnya sang buah hati. Mengapa? Sebab, saat dinyatakan hamil, maka akan ada banyak biaya yang harus dikeluarkan. Mulai dari biaya untuk mengikuti serangkaian tes, hingga produk susu, vitamin, dan nutrisi yang perlu dikonsumsi di masa kehamilan sampai biaya persalinan. Begitu juga dengan kebutuhan mental. Sejatinya, ibu yang mampu mempersiapkan diri sebelum hamil, maka secara mental ia tidak akan berat untuk menjalani kehamilannya.

 

Persiapan Finansial

Strategi mengatur keuangan pra kehamilan perlu direncanakan jauh-jauh hari, sehingga berbagai biaya yang akan dikeluarkan kelak, tidak akan membuat kaget saat seorang ibu dinyatakan hamil. Sebab, membicarakan masalah keuangan bukan sekadar kaya atau tak mampu. Akan tetapi, seberapa amankah finansial pasangan suami-isteri? Mengingat,  memiliki momongan bukan semata perkara membeli susu.

Mulyono, Financial Educator Independent,  berpendapat bahwa perlu adanya pengelolaan dana segar dalam mempersiapkan rencana kehamilan. Menurut beliau, makin cepat dana dipersiapkan, semakin kecil investasi yang harus disiapkan nantinya. Sebab,  Mulyono meyakini bahwa begitu memasuki masa kehamilan, akan ada banyak dana yang dibutuhkan, mulai dari  pra kehamilan, awal kehamilan, melahirkan, bahkan sampai pasca melahirkan. “Jika pasangan tersebut telah merencanakan keuangan dengan baik, maka kebahagiaan dalam menyambut datangnya anggota keluarga baru akan lebih terasa tanpa harus dipusingkan oleh masalah keuangan,” jelasnya.

Keperluan-keperluan lainnya yang mesti dipersiapkan, ditambahkan Mulyono, di antaranya pemeriksaan rutin ke dokter/bidan, pemeriksaan laboratorium, kebutuhan vitamin, serta tambahan gizi dalam makanannya, seperti susu khusus ibu hamil. “Porsi dana yang perlu ditabung relatif, bergantung perolehan pendapatan per bulan. Tapi setidaknya, pasangan perlu menabung sekitar 40-50 persen dari pendapatan per bulan untuk mempersiapkan datangnya sang buah hati,” kata Mulyono.

Bagi pasangan yang sedang mempersiapkan kehamilan, ada baiknya mulai memotong pengeluaranpengeluaran yang sifatnya hanya gaya hidup. Tak ada salahnya juga untuk membuat tabungan tersendiri untuk pembiayaan persalinan nanti. “Meskipun pasangan suami isteri sudah benar-benar kaya dan sejahtera, jika tidak memiliki pola manajemen keuangan yang teratur, maka kekayaan belum tentu bisa menjadi jaminan,” Mulyono mengingatkan.

Jika telah terbiasa menyisihkan dana untuk tabungan, lanjut Mulyono, maka buatlah alokasi khusus untuk biaya masa kehamilan dan melahirkan. “Jangan disatukan dengan tabungan jangka pendek seperti untuk liburan atau membeli gadget baru. Jika belum menyiapkan sama sekali, maka berhematlah mulai sekarang. Kurangi pengeluaran seperti makan di luar, belanja fashion, dan hiburan lainnya. Yang perlu diperhatikan adalah memprioritaskan untuk dana kebutuhan hamil dan melahirkan,” tegasnya.

Setelah melahirkan, diakui Mulyono, tidak berarti pengeluaran akan berhenti. Sebaliknya, justru biaya kebutuhan hidup akan bertambah karena buah hati  memerlukan asupan pangan yang bergizi. Kebutuhan bayi seiring dengan bertambahnya usia juga akan semakin besar.

“Ada baiknya jika mulai menambah dana darurat (Emergency Fund) minimal enam kali pengeluaran keluarga per bulan. Misal, pengeluaran per bulan Rp 10 juta, maka dana darurat yang dibutuhkan sama dengan Rp 60 juta. Sebab biasanya, anak balita masih rentan kesehatannya. Jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, maka dana darurat itu bisa digunakan untuk kebutuhan tersebut, tanpa harus mengganggu keuangan sehari-hari. Sedangkan jika hadir anak kedua dan seterusnya, maka sebaiknya dana darurat  juga ditambah sampai dengan maksimal 12 kali pengeluaran per bulan,” saran Mulyono.

Persiapan Mental

Selain fisik dan finansial, hal lain yang tak kalah penting dipersiapkan begitu mengetahui  adanya kehamilan adalah mental. Dra. A. Kasandra Putranto, Psikolog Kasandra & Associates, mengemukakan,  persiapan mental sangat diperlukan selama hamil, mengingat akan terjadi perubahan pada tubuh ibu hamil, akibat dari adanya janin di dalam kandungan. “Apabila tidak ada kesiapan mental maka bisa berakibat stres pada ibu hamil,  sehingga hal tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan janin,” katanya.

Merujuk sebuah penelitian,  10% ibu hamil yang depresi akan menularkan biokimia kesedihannya kepada janinnya. Hal itu tentu saja akan meningkatkan hormon stres dan aktivitas otak janin. Selain itu, ketika calon bunda tidak mempersiapkan diri sebelum hamil, maka secara mental ia akan berat untuk menjalani kehamilannya.

Oleh karena itu,  ibu hamil  dapat melakukan hal-hal yang membuat dirinya nyaman dan tenang dalam menjalani proses kehamilan. Usahakan  juga agar kondisi emosi ibu hamil selalu stabil. Misalnya, dengan banyak tertawa, menghindari stres berlebihan, serta selalu berusaha untuk menciptakan suasana nyaman dimanapun ia berada. “Di sini pentingnya peran suami. Ketika mengetahui istrinya hamil, seorang suami harus siap memberikan perhatian lebih kepada istrinya, agar kondisi kejiwaan ibu yang tengah hamil tersebut bisa lebih stabil,” tutup Kasandra.

LATEST TOP NEWS