Laporan Utama

Mengenal Tahap Perkembangan Balita

laput_1

Perkembangan setiap balita memang berbeda-beda. Meski demikian, penting bagi orangtua untuk mengenal tahapannya. Sehingga jika terjadi gangguan atau keterlambatan, bisa segera terdeteksi dan ditangani.

Pernahkah kita merasakan waktu begitu cepat berlalu? Terlebih saat dikaitkan dengan perkembangan si kecil. Wahh.. waktu sepertinya benar-benar terbang. Ya, baru kemarin rasanya si kecil lahir ke dunia dan terlihat menangis tidak berdaya. Tahu-tahu sekarang mereka mungkin sudah bisa tengkurap atau bahkan berjalan.  Tak jarang kita jadi bertanya-tanya, setelah ini, kemampuan baru apalagi yang bisa si kecil lakukan?

Memang, pada dasarnya perkembangan setiap anak berbeda-beda. Ada yang bisa tengkurap di usia 2 bulan, ada pula yang baru bisa melakukannya di usia 3 bulan. Ada yang bisa berjalan di usia 9 bulan, ada pula yang baru mampu berjalan di usia 1 tahun. Meski demikian, penting bagi orangtua untuk mengenal tahapannya. Sehingga jika terjadi suatu keterlambatan yang mencurigakan, maka bisa segera dideteksi dan ditangani sejak dini.

Tahap Perkembangan Balita & Jenis Stimulasi Yang Tepat

Dr Liza Meliany SpA dari Rumah Sakit Permata Depok mengatakan, bahwa sebelum membahas lebih dalam tentang tahap perkembangan balita, penting bagi orangtua untuk membedakan terlebih dahulu antara istilah pertumbuhan dan perkembangan. Pasalnya, masih banyak orangtua yang rancu dan menganggap jika istilah pertumbuhan dan perkembangan itu sama.

“Perlu diketahui, pertumbuhan itu merupakan istilah yang merujuk pada bertambahnya ukuran fisik  dan tubuh seorang anak yang dapat dipantau lewat pengukuran berat badan, panjang atau tingginya serta lingkar kepalanya. Sementara perkembangan adalah bertambahnya kemampuan seorang anak, yang terdiri dari kemampuan gerak kasar,  gerak halus, bicara dan bahasa, kognitif, serta kemampuan bersosialisasi dan kemandirian. Nah, keduanya, baik pertumbuhan maupun perkembangan harus berjalan seimbang,” jelasnya.

Lebih lanjut dokter Liza menjelaskan bahwa secara umum balita memiliki beberapa tahap perkembangan yang harus distimulasi agar maksimal. Berikut tahapannya :

Usia 2 bulan

Di usia dua bulan pertama kehidupannya, si kecil umumnya sudah bisa tersenyum kepada orang lain dan memperhatikan wajah orang yang menatapnya. Tak hanya itu, bayi juga sudah bisa menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Jika diperhatikan, mereka juga sudah mulai bisa  mengangkat kepalanya.

Guna mengoptimalkan kemampuannya tersebut, orangtua bisa menstimulasinya dengan mengajak bayi bicara, membacakan buku atau menyanyikan lagu. Sesekali tunjukkan juga gambar-gambar untuk bayi dan ceritakan tentang gambar tersebut.

Menengkurapkan bayi dan memberikan mainan berwarna cerah juga perlu dilakukan. Bantu si kecil untuk belajar mengangkat kepalanya saat tengkurap  dengan menunjukan mainan yang berwarna cerah dihadapannya.

Usia 4 bulan

Diusia 4 bulan, si kecil biasanya sudah mulai mengoceh dan senang bila diajak bermain. Permainan sederhana seperti cilukba bisa membuatnya ikut menampilkan ekspresi wajah dari orang yang mengajaknya bermain. Tak jarang si kecil juga bakal memperhatikan kemana arah mainannya bergerak dan mencoba meraihnya dengan salah satu tangannya. Dalam posisi tengkurap, mereka juga mulai dapat mengangkat badannya.

Di tahap ini, orangtua bisa menstimulasi si kecil dengan mengajaknya bicara, menirukan suaranya dan menunjukan senyum serta kegembiran ketika ia bersuara. Sementara untuk melatih kemampuan inderanya, berikan gelang bayi atau yang biasa disebut rattle.

Usia 6 bulan

Nah di usia setengah tahun ini kemampuannya akan semakin meningkat dan menakjubkan. Bayi akan mulai mengenali wajah orang-orang terdekatnya, memberikan respon ketika namanya dipanggil atau menoleh ketika ada suara yang memicu perhatiannya. Keingintahuannya juga terbangun, di mana mereka akan tertarik terhadap benda-benda yang ada disekitarnya dan mencoba meraihnya. Bayi juga sudah mulai bisa berguling, duduk tanpa bantuan dan bisa memindahkan benda yang dipegangnya dari satu tangan ke tangan yang lain.

Adapun stimulasi yang bisa diberikan pada usia ini adalah dengan ikut menemaninya bermain di lantai dan letakan mainan yang berada di luar jangkauannya agar ia berusaha meraihnya. Berikan respon atas aksinya itu, misalnya ikut tersenyum atau tertawa. Saat si kecil melihat sesuatu, tunjuk dan bicarakan apa yang dilihatnya itu.

Usia 9 bulan

Mendekati usia 1 tahun, makin banyak yang bisa dilakukan oleh bayi. Misalnya sudah mulai menirukan suara atau gerakan, menggunakan jari untuk menunjuk benda, merangkak, dan belajar berdiri sambil berpegangan. Jika jatuh, bayi akan bangkit untuk kembali berdiri. Hebatnya lagi, ia juga mulai dapat memegang benda diantara jari telunjuk dan ibu jari. Tapi umumnya, di usia tersebut mereka mulai takut terhadap orang asing atau orang yang baru pertama kali dilihatnya.

Agar perkembangan di tahap ini maksimal, berikan stimulasi dengan cara bermain. Misalnya bermain cilukba atau petak umpet. Ajak juga si kecil bicara tentang berbagai benda, hewan atau sesuatu yang menarik perhatiannya. Karena sudah mulai aktif bergerak, maka sebaiknya tempatkan si kecil di ruangan yang luas sehingga mereka dapat bergerak dengan aman.

Usia 1 tahun

Ketika menginjak usia tahun pertama kehidupannya, buah hati umumnya akan mulai mengucapkan kata yang selama ini ditunggu-tunggu, yaitu panggilan untuk orangtuanya dengan sempurna, seperti mama dan papa. Di samping itu, mereka juga mulai bisa merespon perintah yang sederhana, membenturkan mainannya, bahkan mulai melangkah dengan cara berpegangan.

Stimulasi yang cocok di usia ini adalah memberikan kertas dan krayon untuk permainan corat-coretnya. Berbagai mainan yang bisa mengeluarkan suara dan balok-balokan juga cocok diberikan kepadanya. Sesekali, ajak si kecil bernyanyi sambil menari.

Usia 18 bulan (1,5 tahun)

Jelang usia 2 tahun, si kecil mulai mengerti perintah sederhana, seperti “ambil mainannya,” atau “tendang bolanya,”. Kemajuannya juga makin terlihat dari aktivitas makan dan minumnya. Ya, mereka mulai bisa minum dari gelas atau makan dengan sendok. Si kecil juga sudah mulai bisa bermain dengan melibatkan khayalannya, seperti pura-pura memberikan makan pada boneka kesayangannya.

Di usia ini, orangtua bisa mengajari berbagai nama benda, bagian tubuh atau hewan-hewan melalui gambar. Ajak juga si kecil melatih kemampuan motoriknya lewat permainan balok atau puzzle serta belajar menendang atau melempar bola.

Usia 2 tahun

Jika usah masuk usia 2 tahun, kira-kira apa saja sih kemampuan yang bisa si kecil lakukan? Ternyata, di usia 2 tahun mereka biasanya sudah bisa mulai mengenali gambar atau benda yang disebutkan, merangkai kalimat yang berisi 2-4 kata, menendang bola dengan lebih sempurna, berlari dan menggambar lingkaran serta garis lurus.

Stimulasi yang cocok untuk mereka adalah mengajarinya melakukan berbagai hal yang sederhana, seperti merapikan mainan dan menyebut bagian-bagian tubuh, nama binatang atau bendabenda yang ada disekitarnya. Biasakan juga si kecil untuk menyebut apa yang diinginkannya bukan hanya dengan menunjuknya saja.

Usia 3 tahun

Di usia ini si kecil biasanya mulai meniru apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orangtua maupun teman bermainnya. Si kecil juga sudah mulai bisa untuk memakai dan melepas pakaiannya. Kosa katanya pun semakin bertambah banyak. Disamping itu, balita di usia ini juga sudah bisa menyebut nama, usia dan jenis kelaminnya sendiri dan mengenali siapa nama temannya. Soal bermain, ia bisa membangun menara lebih dari 6 balok.

Sementara untuk memaksimalkan perkembangannya, orangtua bisa mendorong si kecil untuk bermain dengan teman-temannya. Ajarkan juga permainan yang mengasah kecerdasannya, seperti bermain sambil berhitung. Berikan kertas dan krayon untuk menggambar dan ajarkan naik-turun tangga dengan baik.

Usia 4 tahun

Di masa terakhir usia balita ini, akan semakin banyak hal yang yang bisa si kecil lakukan. Misalnya bermain dan bekerja sama dengan anak lain, menyebutkan apa yang ia suka dan tidak suka, menyanyikan lagu, menyebutkan warna dan angka, melompat dan berdiri satu kaki, menggunakan gunting dengan pengawasan, menangkap bola dan teramat senang mempelajari hal baru.

Stimulasi yang cocok pada usia ini adalah membacakan cerita atau dongeng. Hanya saja ketika sudah sampai di tengah cerita, biarkan si kecil melanjutkan kisah dongengnya. Untuk mengasah ingatannya, minta si kecil menyebutkan berbagai warna yang ada di sebuah gambar serta bermain tebak nama benda yang ada di rumah. Ajak juga  mereka bermain di luar rumah, misalnya ke taman. Menurut dr Liza, di usia ini anak juga sudah boleh dibiarkan memilih baju apa yang ingin ia kenakan, apa yang ingin ia makan dan permainan apa yang ingin dia mainkan.

Tahap Perkembangan Psikologis Balita

Bukan hanya dari tahap perkembangan yang kasat mata, perkembangan psikologis balita sejak lahir pun perlu diperhatikan. Menurut Irma Gustiana A, M. Psi, Psi (Psikolog anak dan keluarga) dari Klinik Psikologi Ruang Tumbuh, sebuah teori Psikososial Erikson menjelaskan tentang tahapan perkembangan psikologis manusia. Dalam teori tersebut, Irma menerangkan bahwa setidaknya ada tiga tahapan perkembangan psikologis pada balita, yaitu :

Tahap Percaya Versus Tidak Percaya

Umumnya tahap ini dimulai sejak si kecil berusia 0-18 bulan. Pada fase perkembangan ini kepercayaan seorang  bayi sangat bergantung pada kualitas dari hubungannya bersama dengan orang yang mengasuh dirinya. Bila di masa ini si kecil berhasil membangun kepercayaan diri, maka ia akan merasa bahwa dunia adalah tempat yang aman. Sebaliknya, pola asuh yang tidak konsisten, mengabaikan perasaan anak atau menolak memberikan kasih sayang dapat mendorong terciptanya perasaan yang tidak percaya diri. Anak akan membentuk sifat mistrust atau rasa tidak percaya pada dunia.

Tahap Otonomi Versus Malu & Ragu-ragu

Tahap selanjutnya terjadi di usia 18 bulan sampai 3 tahun. Di usia tersebut, anak memerlukan kebebasan untuk mengeksplorasi diri dan lingkungannya guna mengembangkan sikap mandiri dan percaya diri. Hal ini bisa dimulai dengan mengajari anak mengenai toilet traning dan memilih pakaian sendiri. Ketika sudah berhasil melewati tingkat ini, si kecil akan merasa aman dan percaya diri. Sementara jika tidak berhasil, maka mereka akan merasa malu dan ragu-ragu.

Tahap Inisiatif Versus Rasa Bersalah

Pada rentang usia 3-5 tahun, balita masuk tahap ini. Di usia pra-sekolah tersebut, anak mulai menunjukan kekuatan dan kontrolnya lewat permainan dan interaksi sosial. Anak yang berhasil melewati tahap ini akan merasa mampu dan kompeten dalam memimpin. Sebaliknya anak yang tidak diberi kepercayaan umumnya akan mudah merasakan perasaan bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif.

Lebih jauh Irma menambahkan bahwa masa balita disebut juga sebagai masa keemasan atau golden age. Diperkirakan hampir sekitar 80% dari apa yang dilihat, dirasakan, didengar atau dialami oleh anak akan terserap dengan cepat.

Hal ini bisa terjadi karena di masa inilah perkembangan otak berlangsung dengan pesat sehingga tentunya orangtua diharapkan dapat memberikan asupan gizi sekaligus kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi diri dan lingkungannya sebaik mungkin.

Sesuai dengan stimulasi yang dijelaskan oleh dr Liza, Irma sebagai psikolog pun sepakat bahwa untuk mendukung masa keemasan ini, perlu stimulasi yang cukup agar anak berkembang dengan optimal. Seperti dengan mengajaknya berkomunikasi, membacakan buku dan membujuknya untuk banyak bergerak agar fisiknya aktif.

Nah agar perkembangan si kecil bisa lebih sesuai harapan, maka Irma menegaskan jika kesehatan mental pun perlu jadi perhatian. Terlebih ditenggarai, bentuk kekerasan baik verbal maupun non verbal dapat membawa dampak buruk, termasuk bagi kesehatan mentalnya. Karena itu sebagai orangtua, Irma menyarankan agar lebih memperhatikan  kata-kata yang kita ucapkan. Semaksimal mungkin hindari kata-kata yang penuh kritikan negatif pada seorang anak, termasuk juga melecehkan kemampuan yang dimilikinya. Sebab hal ini justru bisa membuatnya ketakutan, tertekan dan cemas sehingga perkembangannya bisa terganggu.

“Anak yang mengalami kejadian kurang menyenangkan.

dengan kekerasan verbal akan membuatnya menjadi pribadi yang rendah diri, sakit hati, berpikiran negatif tentang dirinya dan tidak merasa bahagia. Bukan tak mungkin anak jadi melawan orangtuanya, kurang konsentrasi dan mengalami mimpi buruk,” jelas Irma.

Bahkan jika pengalaman tersebut berlangsung terusmenerus, masalah yang ditimbulkan bisa semakin runyam. Masih menurut Irma, ketika anak sudah tumbuh lebih besar, maka hal ini mungkin saja membuat si anak mengalami depresi dan memicunya untuk kabur dari rumah. Dan yang paling dikhawatirkan tentu adalah melakukan tindakan kriminal yang berbahaya bagi dirinya dan orang lain.

Itu sebabnya Irma menyarankan untuk memanfaatkan momen emas atau golden age seorang anak dengan baik, bukan dengan kata-kata maupun perlakuan buruk yang membuat tumbuh kembangnya terganggu.

LATEST TOP NEWS