Laporan Utama

MENGENAL SELUK BELUK DONOR ASI

SUSU

ASI memang makanan paling sempurna bagi bayi. Namun, amankah ASI yang didapatkan dari pendonor? 

Belakangan, makin banyak ibu yang menyadari akan kehebatan dan manfaat ASI. Tak heran jika akhirnya mereka berlomba-lomba ingin menyusui bayinya sendiri. Sayangnya, ada beberapa kondisi yang memang membuat seorang ibu menjadi belum atau tidak memungkinkannya memberikan ASI kepada sang bayi. Diantaranya karena si ibu mengalami stress berat, mengidap sakit tertentu, atau penyebab lainnya. Akibatnya, banyak yang dengan terpaksa beralih ke susu formula.

Padahal, menurut Hesti Kristina P. Tobing, SKM, CIMI, IBCLC, ketua Ikatan Konselor Menyusui Indonesia, penggunaan susu formula pada dasarnya sangat berbahaya, baik bagi sang bayi maupun ibunya.

“Berdasarkan data dari World Alliance for Breastfeeding Action, bayi yang mengkonsumsi susu formula berisiko mengalami berbagai penyakit seperti asma, alergi, infeksi telinga, obesitas, IQ dan daya kognitif lebih rendah, infeksi saluran pernapasan, dan lain sebagainya. Sementara ibu yang tidak menyusui berisiko mengalami osteoporosis, kanker payudara, indung telur dan rahim, hipertensi dan lain-lain,” jelas Hesti

Untunglah, saat ini sedang marak kegiatan ‘Donor ASI’. Seperti halnya dengan donor darah dan donor-donor lainnya, donor ASI memang merupakan suatu kegiatan memberikan ASI kepada bayi lain yang membutuhkan. Dengan demikian, risiko penyakit yang harus ditanggung bayi dapat lebih diminimalisir.

Donor ASI Berdasarkan Kepercayaan

Sejatinya, donor ASI di Indonesia memang masih menitikberatkan pada kebudayaan dan kepercayaan. Salah satu contohnya, bagi masyarakat yang beragama Islam, melakukan donor ASI akan sama artinya dengan membentuk ikatan keluarga.

Lebih lanjut, Hesti menjelaskan, bahwa dalam agama Islam dikenal istilah “anak susuan” atau “ibu susuan. “Dan ketika seseorang sudah menjadi anak atau ibu susuan, maka anak akan dianggap menjadi ‘anak’nya sendiri, sehingga kelak tidak boleh menikah dengan anak atau sanak saudara terdekat ibu susuan,” jelasnya.

Aturan ini juga telah resmi dikeluarkan oleh MUI, dimana seorang ibu yang menyusui anak secara langsung selama 5 kali berturut-turut sampai kenyang akan otomatis menjadi ibu susuan. Selain aturan resmi MUI, ada pula yang beranggapan bahwa tidak perlu menunggu sampai 5 kali, ibu yang menyusui anak orang lain secara otomatis akan langsung menjadi anak-ibu susuan. Tak sedikit pula yang mengatakan bahwa ASI yang diberikan secara tidak langsung (diperah) juga akan membentuk ikatan anak-ibu susuan. Sementara di luar agama Islam (seperti: Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu), kaidah tentang anak-ibu susuan tidak berlaku.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka untuk melakukan praktik donor ASI di Indonesia pada dasarnya perlu lebih berhati-hati karena harus memperhatikan latar belakang kebudayaan dan kepercayaan dari calon pendonor ataupun keluarga penerima donor. Sehingga nantinya dapat terhindar dari masalah-masalah yang tidak diinginkan.

Seleksi Calon Pendonor

Lebih lanjut Hesti mengatakan, idealnya pendonor ASI memang tidak boleh dipilih sembarangan dan harus melalui proses seleksi yang cukup ketat. Dengan demikian, si penerima donor tidak ikut terjangkiti berbagai penyakit yang mungkin saja di idap oleh pendonor.

Proses seleksi itu sendiri biasanya dilakukan oleh Bank ASI dan terdiri dari 2 tahap pemeriksaan, yaitu screening secara lisan maupun tulisan serta screening laboratorium. Pada tahap pertama, calon pendonor akan diwawancara ataupun diminta mengisi formulir seputar riwayat kesehatan, gaya hidup, hingga tumbuh kembang bayinya sendiri. Jika dinyatakan ‘lulus’, maka calon pendonor akan melanjutkan tahap berikutnya.

Pada tahap kedua, calon pendonor akan diuji kesehatannya melalui pemeriksaan laboratorium, yang meliputi pemeriksaan darah untuk uji HIV, hepatitis, sifilis, ataupun virus-virus yang dicurigai dan berpotensi menimbulkan masalah pada bayi. Setelah ‘lulus’ tahap ini, barulah calon pendonor dinyatakan sah dan diperbolehkan mendonorkan ASI-nya.

“Tapi sayangnya, di Indonesia sendiri belum ada Bank ASI. Sehingga proses pemeriksaan yang mendetail seperti itu relatif belum diberlakukan,” ungkap Hesti.

Karena itu, secara lebih sederhana Hesti memberikan rincian kriteria seorang ibu hingga bisa dianggap ‘lulus’ sebagai pendonor, yaitu apabila bayi si pendonor tumbuh sehat dan berkembang dengan baik. Calon pendonor tidak mendapat transfusi darah dalam 12 bulan terakhir dan tidak menerima transplantasi organ dalam 12 bulan terakhir. Calon pendonor tidak mengkonsumsi alkohol, obat terlarang, ataupun rokok. Tidak mengidap penyakit seperti TBC, HIV, hepatitis, sifilis, dan lain-lain, serta tidak memiliki atau berhubungan seksual dengan pasangan yang berisiko.

Sterilisasi ASI

Setelah lolos dari berbagai kriteria tersebut, sebenarnya ada satu tahap lagi yang menurut Hesti perlu dilakukan, agar ASI yang didonorkan secara tidak langsung (di perah), aman dikonsumsi oleh bayi.

“Biasanya sebelum didonorkan, ASI yang telah diperah akan disimpan di dalam botol penyimpanan, untuk kemudian ditaruh di dalam freezer. Setelah itu, ASI baru akan didistribusikan kepada bayi-bayi yang membutuhkan. Nah, saat akan digunakan, ASI harus disterilisasi terlebih dahulu melalui proses pasteurisasi guna mematikan kuman-kuman yang ada. Sehingga ASI layak dan aman bagi bayi yang menerima,” jelas Hesti panjang lebar.

Adapun proses pasteurisasi dapat dilakukan dengan 3 metode, yakni pasteurisasi holder, pasteurisasi pretoria, dan flash heating. Untuk pasteurisasi holder, biasanya dilakukan oleh bank-bank ASI  karena membutuhkan perlengkapan industrial. Sementara dua metode lainnya yaitu pasteurisasi pretoria, dan flash heating paling lazim dilakukan di rumah. Secara lebih rinci, Hesti menjelaskan prosedurnya sebagai berikut:

 Flash heating

  • Letakkan ASI sebanyak 50 ml dalam wadah terbuka, seperti botol selai atau botol kaca.
  • Letakkan botol selai/kaca dalam panci aluminium berisi air. Panaskan di atas kompor
  • Saat air mulai mendidih, segera angkat ASI dari panci dan tutup botol selai/kaca
  • Diamkan beberapa saat hingga ASI dapat diminum bayi

Pasteurisasi Pretoria

  • Didihkan 450 ml air dalam panci aluminium
  • Setelah mendidih, segera matikan kompor dan masukkan botol selai/kaca berisi ASI sebanyak 50 ml ke dalam panci berisi air mendidih tersebut
  • Diamkan selama 20 menit
  • Lalu angkat dan diamkan selama beberapa saat hingga ASI siap diminum bayi

“Jadi harus selalu diingat ya, sebelum digunakan, ASI perah yang disimpan wajib disterilisasi terlebih dahulu lewat proses pasteurisasi. Mengenai kandungan gizinya jangan khawatir. Sebab sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa proses pasteurisasi tidak akan menghilangkan elemen nutrisi yang esensial pada ASI. Seperti vitamin, immunoglobulin A (IgAs), antibodi, dan lainnya,” kata Hesti panjang lebar.

Teknik Penyimpanan ASI yang Benar

Berbicara tentang penyimpanan ASI, Hesti kembali menuturkan, agar dapat bertahan dalam jangka waktu lama, maka diperlukan pengetahuan tentang teknik penyimpanan ASI yang benar. Karena, ketahanan dari ASI itu sendiri sudah pasti dipengaruhi oleh suhu dan tempat penyimpanannya.

“ASI pada dasarnya aman disimpan dalam jangka waktu lama. Meski demikian harap diketahui, semakin lama disimpan maka semakin banyak pula enzim atau antibodi dalam ASI yang akan rusak. Tapi tetap saja, hal itu masih jauh lebih baik dibandingkan menggunakan susu formula,” tegasnya.

Untuk itu, Hesti memberikan tabel lama ketahanan ASI sesuai dengan tempat penyimpanan dan suhunya.

 

Tempat dan Suhu Penyimpanan ASI

Lama Ketahanan ASI

Suhu kamar (25)

 4 jam

Suhu kamar + wadah tertutup

6 jam

Ruangan ber-AC + wadah tertutup

8 jam

Wadah air dingin

10 jam

Wadah dengan es batu

12 jam

Termos es/ ice pack/ cooler bag

8-24 jam

Cooler/Pendingin di kulkas

2×24 / 3×24 /5×24 jam

Freezer dalam kulkas 1 pintu

2 minggu – 2 bulan

Freezer dengan kulkas 2 pintu

3-6 bulan

Freezer khusus untuk membekukan

1 tahun

 

“Tapi jangan salah kaprah ya. Meski dapat disimpan dalam jangka waktu lama, bukan berarti seorang ibu harus stok ASI sebanyak-banyaknya. Akibatnya, ketika lemari es sudah penuh dengan stok ASI dan bayinya membutuhkan, maka yang digunakan adalah stok pertamanya. Ini jelas salah. Sebab ibarat pabrik susu, bayi harus selalu mendapatkan produk yang paling baru, dan ASI sebaiknya disimpan hanya sebagai persediaan ketika sedang benar-benar dibutuhkan,” kata Hesti menutup percakapan.

 

Mitos Dan Fakta Seputar Asi

Ada banyak mitos yang beredar sehubungan dengan ASI. Bagaimana faktanya? Berikut penjelasan dr. Meida Tanukusumah, Sp.A dari RS. Medistra, Jakarta

 Ukuran payudara mempengaruhi banyaknya ASI yang diproduksi

Faktanya : Ukuran payudara tidak berpengaruh terhadap banyaknya produksi ASI, karena produksi ASI dipengaruhi oleh kelenjarnya. Sementara besar dan kecilnya payudara dipengaruhi oleh kadar lemak dalam jaringan payudara.

Puting payudara yang tenggelam tidak bisa mengeluarkan ASI

Faktanya : Bentuk puting hanyalah bagian dari bentuk luar. Sementara ASI dihasilkan oleh kelenjar yang ada di dalamnya. Namun, ibu memang bisa mengalami kesulitan dalam menyusui dengan puting yang tenggelam. Untuk mengatasi hal tersebut, saat ini tersedia beberapa alat bantu dan cara yang dapat digunakan untuk membantu ibu agar tetap dapat menyusui dengan baik.

ASI yang dimasak hingga mendidih atau dijemur di bawah terik sinar matahari akan berubah menjadi darah

Faktanya  : ASI tidak akan berubah menjadi darah dan ASI tidak boleh dimasak hingga mendidih juga tidak boleh dijemur di bawah sinar matahari karena akan merusak kandungan gizi didalamnya.

Jumlah ASI yang diproduksi salah satu payudara akan lebih banyak dibandingkan payudara lainnya

Faktanya   : Kedua payudara memiliki kelenjar penghasil susu yang sama, sehingga seharusnya jumlah ASI yang dihasilkan pun sama. Namun, memang ada 2 faktor yang membuat produksi ASI menjadi banyak, yaitu banyaknya hisapan dan banyaknya pengosongan. Semakin sering dihisap, hormon prolaktin akan terangsang dan membuat produksi susu meningkat. Sehingga, memang disarankan untuk menyusui secara bergantian antara payudara kanan dan kiri. 

ASI membantu tubuh kembali langsing pasca melahirkan

Faktanya    : Menyusui dapat membantu kontraksi rahim kembali menyusut ke ukuran semula, sehingga bentuk perut ibu akan semakin ramping.

Jika Ibu sakit, maka bayi dapat tertular melalui ASI

Faktanya   : Tergantung dari penyakitnya. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Namun pada umumnya, penyakit seperti flu, diare, dan lain sebagainya tidak akan menular via ASI, justru sebaliknya bayi akan mendapatkan antibodi.

ASI dapat menyembuhkan nyeri pada puting atau payudara

Faktanya    : ASI dapat menjadi pelembab alami dan steril. Namun, tetap ada faktor-faktor lain yang diperlukan dalam proses penyembuhan, seperti perawatan luka dan proses menyusui (posisi dan pelekatan bayi pada payudara ibu) yang benar.

Kehamilan membuat Ibu tidak dapat melanjutkan pemberian ASI

Faktanya   : Ibu dapat tetap memberikan ASI selamat kehamilan. Kehamilan dan melanjutkan pemberian ASI memerlukan beberapa pertimbangan medis dan klinis. Sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

 

 

LATEST TOP NEWS