Laporan Utama

Mengenal Ragam Metode Persalinan

360 360 Persalinan

Belakangan, selain normal dan caesar, ada banyak istilah lain yang digunakan untuk menyambut persalinan. Apa saja? Kenali lebih jauh yuk..

Melahirkan memang selalu menjadi salah satu momen yang paling ditunggu. Maklum, setelah menanti 9 bulan lamanya, datangnya bayi mungil yang menggemaskan sudah pasti dipandang sebagai suatu keajaiban.

Uniknya, dengan semakin berkembangnya teknologi dan informasi, tidak hanya persalinan secara normal dan caesar saja yang di kenal. Ada juga istilah lain yang berhubungan dengan persalinan dan makin popular, seperti water birth, lotus birth, dan lain-lain. Agar lebih jelas, simak ulasannya dan kenali makna dari istilahnya.

Persalinan Normal

Bisa dibilang, persalinan normal merupakan persalinan yang paling ideal. Prosesnya alami dan minim risiko. Dimana secara spontan bayi akan lahir karena sudah cukup umurnya. Lewat persalinan normal, tubuh akan memberikan sinyal penyembuhan yang berdampak pemulihannya bisa lebih cepat. Bahkan biasanya sekitar 6 jam pasca persalinan, ibu sudah bisa berjalan. Selain itu, persalinan normal juga terbukti bisa merangsang kelenjar susu agar segera aktif memproduksi kolostrum dan air susu. Dengan demikian, bayi dapat segera menikmati ASI pertamanya. Dalam persalinan normal, terdapat beberapa tahapan. Mulai dari adanya kontraksi, bukaan fase laten, bukaan fase aktif, hingga lahirnya bayi ke dunia lewat vagina dengan posisi kepala terlebih dahulu tanpa bantuan alat apapun. Untuk menjalani persalinan normal, calon ibu tentu perlu mengetahui dengan pasti bahwa dirinya dalam kondisi sehat dan tidak ada faktor penyulit persalinan, baik dari pihak ibu sendiri maupun janin. Di samping itu, persalinan normal juga memerlukan kesiapan mental. Sebab persalinan normal umumnya memberikan rasa nyeri, terutama bila si Ibu tegang. Waktu yang dibutuhkan untuk bersalin dari pembukaan satu sampai lahirnya bayi juga cukup lama. Biasanya kurang lebih 10 sampai dengan 18 jam. Meskipun demikian,ada juga yang melahirkan dibawah 10 jam karena pada dasarnya setiap proses kelahiran itu memang unik. “Untuk menghadapi persalinan normal, hal paling utama yang harus disiapkan memang mental sekaligus tekad calon ibu yang dari awal sudah berniat melahirkan secara normal. Terkadang, ada calon ibu yang belum apa-apa sudah merasa takut dan tegang. Padahal semakin kuat rasa takutnya, maka semakin kaku jalan kelahiran si bayi.

Alhasil saat ada kontraksi, kepala bayi akan turun sehingga membuat ibunya lebih merasa sakit,” jelas dr. Mery, SpOG, MKes dari Eka Hospital. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa persalinan normal paling minim risiko. Biayanya pun lebih murah. Dan yang terpenting, bayi yang dilahirkan secara normal biasanya memiliki daya tahan tubuh terhadap alergi yang lebih tinggi dan risiko terjangkit penyakit asmanya lebih rendah

Persalinan Dengan Bantuan Alat

Terkadang persalinan normal tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Misalnya saja karena calon ibu sudah kehabisan tenaga, sementara si bayi belum juga mau lahir. Dalam kondisi demikian, dokter biasanya memutuskan melakukan persalinan dengan bantuan alat demi keselamatan calon ibu dan sang bayi. Memang, jalan lahirnya tetap dari vagina. Tetapi harus dilakukan dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep. Dengan bantuan alat tersebut, calon ibu tak perlu mengejan. Hanya saja karena menggunakan alat, maka risiko cedera yang dapat menimpa bayi pun jadi lebih besar.

Persalinan Caesar

Dulu, banyak yang merasa takut saat harus melakukan persalinan lewat operasi caesar. Namun sekarang, persalinan dengan cara ini justru banyak diminati karena diyakini dapat meminimalisir rasa sakit saat melahirkan. Lewat persalinan caesar, tanggal cantik untuk menyambut kelahiran sang  buah hati pun kerap bisa dipilih. Adapun persalinan caesar  itu sendiri merupakan proses melahirkan bayi melalui insisi atau irisan pada daerah perut dan daerah rahim. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan operasi caesar juga tergolong singkat, kurang lebih hanya sekitar 1 jam. Saat di operasi, tentu si ibu tidak akan merasa sakit karena ada pembiusan. Rasa nyeri berkepanjangan baru muncul setelah reaksi obat bius yang diberikan habis. Sebelum teknologi kedokteran berkembang seperti sekarang, pembiusan dalam operasi caesar dilakukan secara menyeluruh. Tapi kini, cukup hanya bagian pinggang ke bawah saja yang dibius sehingga ketika proses operasi dilakukan, calon ibu tetap sadar dan dapat mendengar percakapan para dokter serta perawat yang terlibat. Tak cuma itu, jika dulu sayatan operasi caesar hanya dapat dibuat vertikal, dari bawah pusar kearah kearah tulang kemaluan, maka sekarang sayatan kebanyakan dibuat horizontal atau mendatar dari kiri ke kanan di bagian atas kandung kemih. Dengan sayatan horizontal, maka resiko terjadinya pendarahan dapat lebih diminimalisir. Proses penyembuhannya juga bisa lebih cepat dan dari segi estetika, bekasnya jauh lebih enak dilihat dibandingkan sayatan vertikal.

Idealnya, persalinan caesar dilakukan karena adanya indikasi tertentu.  Misalnya saja karena calon ibu mengidap hipertensi, atau penyakit lainnya yang membuat ia tidak mungkin melakukan persalinan normal. Selain itu, bisa juga karena ukuran bayi yang terlalu besar, sementara ukuran panggul calon ibu kecil atau posisi bayi menjelang dilahirkan sungsang. Diluar alasan kesehatan tersebut, persalinan secara caesar disarankan tidak dilakukan karena bukannya tanpa risiko.  Justru menurut kebanyakan dokter, risiko dari operasi caesar bisa saja lebih besar daripada bersalin dengan cara normal. Diantaranya adalah potensi terjadinya pendarahan menjadi dua kali lipat lebih besar dibandingkan persalinan normal. Sebab  persalinan dengan operasi sudah pasti dilakukan dengan jalan membuka luka pada rahim. Bolak-balik membuka dinding rahim dan perut juga berisiko mencedarai organ tubuh lain. Bahkan terkadang  ada saja pembuluh darah yang sulit dijahit hingga memungkinkan terjadinya pendarahan. “Lepas dari itu semua, kembali saya ingatkan agar calon ibu mempersiapkan mentalnya. Sebab persalinan caesar itu kan biasanya sudah direncanakan. Nah, yang sudah terencana biasanya membuat lebih deg-degan. Terlebih biaya yang harus dikeluarkan juga lebih mahal dibandingkan dengan persalinan normal,” jelas dr. Mery lagi.

Gentle Birth

Bagi masyarakat awam, istilah gentle birth selalu dikaitkan dengan water birth atau home birth. Padahal menurut Yesie Aprillia S.Si,T, M.Kes, Founder Keluarga Gentle Birth, Penggiat dan Praktisi Gentle Birth di Indonesia, istilah gentle birth itu sendiri sebenarnya mengacu pada sebuah filosofi proses persalinan yang tenang, penuh kelembutan dan memanfaatkan semua unsur alami dari tubuh seorang manusia. “Sebenarnya, gentle birth itu filosofi yang mengarahkan bagaimana seorang ibu, bayi, dan keluarga mendapatkan pengalaman yang positif saat persalinan. Prinsip dari gentle birth adalah persalinan yang mengutamakan keamanan lalu kenyamanan. Jadi gentle birth benar-benar mengacu kepada menghormati tubuh wanita dan bayi sebagai manusia yang sesungguhnya. Jangan salah, dengan filosofi seperti itu, bukan berarti gentle birth  anti operasi caesar, anti tindakan, atau anti intervensi,” jelas Yesie. Lebih lanjut Yesie menjelaskan bahwa gentle birth pada dasarnya dapat diaplikasikan sejak pasangan merencanakan kehamilan. “Ketika orang belum hamil dan dia tidak mempersiapkan sebaik-baiknya, bisa jadi sel yang masuk ke dalam rahimnya adalah sel kemarahan, kebencian, kesedihan, dan itu yang akan tumbuh subur. Hal tersebut sudah pasti dapat menyebabkan birth trauma. Nah, perlu diketahui bahwa trauma yang paling berat dalam kehidupan manusia adalah birth trauma yang terjadi semasa dalam kandungan,” sambung Yesie. Adapun persiapan gentle birth di masa kehamilan mencakup fisik maupun mental calon ibu. Persiapan fisik meliputi latihan pernapasan, olahraga ringan, pijat, dan konsumsi makanan sehat. Mental ibu pun perlu disiapkan dengan jalan melakukan relaksasi hypno-birthing, meditasi, afirmasi positif, dan menjaga ketenangan jiwanya sehingga akan berpengaruh terhadap kesuksesan gentle birth. Berikut beberapa keuntungan yang menurut Yesie bisa didapat seluruh anggota keluarga dengan menerapkan filosofi gentle birth :

 Bagi Ibu :

  • Ibu merasa lebih puas dan diberdayakan.
  • Ibu tidak merasakan trauma baik dalam proses kehamilan hingga pertolongan persalinan.
  • Ibu dapat bersalin dengan tenang bebas dari ketakutan dan kecemasan.
  • Ibu dapat “berkuasa” dan memegang kendali penuh atas dirinya dan tubuhnya sendiri.
  • Ibu dapat mengelola dan mengendalikan rasa sakit ketika kontraksi.
  • Kurang atau bahkan tidak ada intervensi medis dalam persalinan.
  • Ibu lebih siap mental dan spiritual sehingga risiko postpartum blues sangat minim, bahkan tidak ada. • ASI ibu lancar.
  • Ibu dapat melewati persalinan dengan nyaman, tenang, bahkan tanpa rasa sakit.
  • Ibu terlindungi dari intervensi medis yang tidak perlu.
  • Dengan gentlebirth proses persalinan pun lebih lancar karena ibu sangat relaks dan tenang

Bagi Bayi :

  • Bayi sedikit sekali mendapatkan trauma, dan ini sangat baik bagi perkembangan psikologisnya kelak. • Bayi lebih pintar, lebih tenang, dan dapat bekerja sama dengan ibunya.

Bagi Ayah & Keluarga :

  • Merasa lebih puas.
  • Merasa lebih diberdayakan dan hubungan (bonding) antara ayah, ibu, dan anak sudah terjalin erat sejak     dalam kandungan dan ini sangat berdampak positif      pada pola pengasuhan kelak. Lepas dari itu semua, Yesie mengungkapkan bahwa untuk pasangan yang memilih melahirkan dengan filosofi gentle birth, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:  1. Membuka wawasannya dan memiliki keinginan        untuk mempelajari filosofi gentle birth. 2. Mencari dukungan yang positif tentang kehamilan         dan  persalinan. 3. Mengkomunikasikan pentingnya gentle birth        dalam proses kehamilan dan persalinan kepada        keluarga dan tenaga medis yang membantu. 4. Selalu mau bertanya dan berdiskusi dengan orang-      orang yang sudah menjalani gentle birth agar bisa      mendapatkan gambaran nyata dari gentle birth.

Water Birth

Pada dasarnya. water birth merupakan metode alternatif dari persalinan normal. Sesuai dengan namanya, persalinan ini dilakukan di dalam kolam yang diisi dengan air. Dilansir dari waterbirth.org, air pada water birth harus dijaga dan dipantau pada suhu yang nyaman bagi ibu, biasanya antara 3238 derajat Celsius. Suhu air tidak boleh melebihi 38 derajat Celcius karena dapat menyebabkan peningkatan suhu inti tubuh ibu, yang kemudian dapat menyebabkan denyut jantung bayi meningkat. Kembali dijelaskan oleh Yesie, water birth memiliki beberapa manfaat untuk ibu seperti mengurangi nyeri, meningkatkan efek relaksasi, meningkatkan privasi dan kontrol diri, serta mengurangi trauma lahir. Sedangkan bagi bayi, melalui metode persalinan water birth, hangatnya air yang menyerupai air ketuban yang sangat akrab baginya saat di kandungan dapat membantu mempermudah  transisi dari jalan lahir. Meski demikian, patut dicatat, jika calon ibu memilih persalinan dengan metode water birth, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter atau bidan terlebih dahulu. Tanyakan, apakah calon ibu benar-benar bisa menjalani persalinan secara normal, dalam arti tidak ada faktor penyulit, baik dari pihak ibu maupun bayi. Jangan malas juga untuk terus mengedukasi diri mengenai proses persalinan water birth. Mulai dari persiapannya hingga masuk masa persalinan. Dengan demikian, calon ibu akan tahu, kapan saat  yang tepat untuk masuk ke kolam. Dan yang terpenting, pastikan kolam serta air yang akan digunakan untuk water birth dalam kondisi steril. Ingatlah, meski terlihat mudah, pengawasan dari pihak medis tetap diperlukan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Lotus Birth

Belum lama ini tersiar kabar bahwa Andien, salah satu penyanyi ternama Indonesia, memilih melahirkan buah hatinya dengan metode water birth. Usai sang buah hati lahir ke dunia, Andien pun melanjutkannya dengan metode lotus birth. Adapun lotus birth merupakan suatu metode yang semakin dikenal oleh masyarakat, dimana diyakini bahwa segala sesuatu harus kembali kepada kearifan lama (back to nature). Karenanya setelah dilahirkan, tali pusat sang bayi yang terhubung dengan plasenta tidak langsung di potong, melainkan dibiarkan mengering dan terlepas sendiri secara alami dalam waktu 3 sampai dengan 10 hari setelah lahir. Pada Lotus Birth, setelah seluruh proses persalinan selesai, plasenta haruslah dicuci bersih dengan air hangat lalu dikeringkan dengan handuk secara lembut. Kemudian, plasenta diletakkan dalam wadah terbuka atau dibungkus kain dengan jarak yang tak jauh dari bayi. Wadah atau kain yang digunakan tentu harus memungkinkan terjadinya pertukaran udara, sehingga plasenta mendapatkan udara dan mulai mengering serta tidak berbau busuk. Terkadang, ada juga yang menggunakan garam laut guna mempercepat proses pengeringan plasenta. Metode lotus birth itu sendiri diyakini dapat membuat bayi tumbuh lebih tenang, tidur lebih nyenyak serta mampu menghisap ASI dengan lebih baik dibandingkan bayi lain yang tali pusatnya digunting. Tapi patut diingat, lotus birth juga memiliki sejumlah risiko karena plasenta yang mengandung darah tentu rentan terjangkit infeksi, terlebih bila tidak dirawat dengan bersih.

Hypnobirthing

Hypnobirthing merupakan metode yang memandu calon ibu mempersiapkan kelahiran bayinya  secara normal dalam keadaan damai dan luar biasa indah. Dijelaskan oleh Yesie, metode ini didasarkan pada keyakinan, ketika seorang ibu siap untuk melahirkan, baik secara fisik, mental dan spiritual, ia dapat mengalami sukacita dan mampu melahirkan bayinya dengan lebih mudah dan lebih nyaman. Hypnobirthing juga mengajarkan calon ibu untuk membebaskan dirinya dari membatasi pikiran dan emosi yang menyebabkan rasa takut dan sakit saat proses persalinan sedang berlangsung. Dengan menerapkan metode hypnobirthing, sebenarnya seorang ibu tidak dalam kondisi tertidur tetapi dalam keadaan relaksasi yang mendalam – terjaga, sadar, dan sepenuhnya dalam kendali. Banyak yang percaya bahwa selain dapat memberikan  kenyamanan dan mengurangi rasa stress saat melahirkan,

LATEST TOP NEWS