Laporan Utama

MENGENAL PROGRAM BAYI TABUNG

docter_lap-utama

Bagi yang belum memiliki momongan, jangan pupus harapan dulu. Sebab berkat kemajuan tekhnologi, ada sebuah program yang bisa membantu menghadirkan sang buah hati.

Kehadiran buah hati tentu menjadi dambaan setiap pasangan yang sudah menikah. Sayangnya, tidak semua pasangan dapat dengan mudah memperolehnya. Bahkan beberapa diantaranya tidak memiliki kapabilitas untuk memiliki keturunan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pasangan yang telah belasan tahun menikah, namun belum juga dikaruniai bayi.

Secara lebih spesifik, sejumlah data juga telah membuktikan bahwa di Indonesia, prevalensi pasangan yang tidak subur atau mengalami infertilitas adalah 10-15% dari 40 juta pasangan yang subur. Meski demikian, jangan terlalu khawatir. Karena berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini pasangan-pasangan yang mengalami infertilitas memiliki peluang untuk memperoleh keturunan. Salah satunya lewat  in vitro fertilization (IVF) atau yang akrab disebut dengan program bayi tabung.

Indikasi Perlunya Program Bayi Tabung

Berdasarkan namanya, IVF merupakan proses fertilisasi atau pembuahan yang terjadi di luar rahim ibu, yaitu dengan cara mempertemukan sel sperma dan sel telur pada medium kultur yang dilakukan di laboratorium. Setelah pembuahan terjadi, maka sel tersebut akan segera dikembalikan ke dalam rahim.

Menurut dr. Arie Adrianus Polim, D. Mas, SpOG (K), dokter spesialis kandungan yang juga merupakan konsultan Fertilitas Endokrin Reproduksi di RS Bunda, Jakarta Pusat, ada 3 indikasi yang dapat dijadikan patokan perlunya melakukan program bayi tabung. Pertama, adanya masalah pada tuba saluran telur wanita. Dimana jika kedua salurannya tertutup, proses fertilisasi secara natural tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan sehingga perlu bantuan manusia.

Kedua, adanya masalah pada sperma pria, yaitu kelainan-kelainan sperma yang berat seperti pergerakan yang lemah, bentuk abnormal, atau jumlah yang terlalu sedikit. Ketiga atau terakhir adalah adanya kasus-kasus yang penyebabnya tidak diketahui atau disebut pula unexplained infertility. Dalam dunia kedokteran, kasus ketidaksuburan seseorang dapat dikategorikan sebagai unexplained infertility, jika hasil rangkaian pemeriksaan pada dirinya tidak menunjukkan kelainan apapun.

Syarat Program Bayi Tabung

Lalu, apa yang harus dilakukan ketika ada pasangan yang ingin mengikuti program bayi tabung? Menjawab hal tersebut, dr Arie mengatakan bahwa poin yang paling penting dan harus dipastikan terlebih dahulu ketika ada yang ingin mengikuti program bayi tabung adalah pasangan tersebut merupakan pasangan yang sah alias statusnya memang suami istri. “Hal ini diperlukan untuk menghindari adanya jual-beli sel sperma atau sel telur,” jelasnya.

Sebab, meskipun di beberapa negara proses jual-beli sperma atau sel telur merupakan hal yang legal, di Indonesia sendiri hal-hal terkait jual-beli sperma, sel telur, atau rahim merupakan hal yang ilegal dan dianggap amoral.

Langkah berikutnya setelah memastikan kedua belah pihak adalah pasangan suami-istri yang sah, maka pasangan itu harus dipastikan siap secara mental guna menjalankan setiap prosedur yang diperlukan selama proses program bayi tabung berlangsung. “Prosedurnya sendiri dimulai dengan melakukan screening,” ungkap dr. Arie.

Screening yang dimaksud meliputi berbagai macam tes. Seperti pemeriksaan darah bagi suami dan istri, guna melihat apakah ada kelainan atau infeksi pada tubuh masing-masing. Selain itu ada juga pemeriksaan sel sperma bagi pihak pria. Sementara pada wanita akan dilakukan pemeriksaan hormon. Jika kondisinya normal, maka sang calon ibu akan disuntik hormon setiap hari hingga sel telurnya matang.

“Penyuntikkan hormon dilakukan dengan tujuan memberi stimulasi pada sel telur agar dapat diambil sebanyak-banyaknya. Begitu sudah matang, sel telur akan disedot keluar, atau diaspirasi. Setelah itu, baru akan dilakukan proses fertilisasi di laboratorium. Biasanya pada hari ketiga atau kelima, proses fertilisasi akan menghasilkan embrio yang akan segera ditransfer ke dalam rahim calon ibu,” jelasnya.

Terdengar sangat sederhana bukan? Meski demikian, dr. Arie juga menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan program bayi tabung. Salah satunya adalah faktor usia, terutama dari pihak wanitanya. Karena semakin berumur, maka jumlah sel telur yang dihasilkan oleh wanita akan semakin terbatas.

Secara lebih rinci, dr. Arie bahkan menyebutkan tingkat keberhasilan program bayi tabung berdasarkan usia calon ibu. Dibawah 30 tahun, maka tingkat keberhasilannya bisa mencapai 60%. Usia antara 30-35 tahun 40%. Di atas 35 tahun 25-30%. Sementara diatas 40 tahun, tingkat keberhasilannya hanya 15%.

“Intinya semakin tua seorang wanita, maka semakin rendah tingkat keberhasilannya, karena jumlah sel telur yang dihasilkannya semakin sedikit dan kualitasnya juga semakin berkurang,” terangnya.

Risiko Bayi Tabung

Pada dasarnya, program bayi tabung menghasilkan banyak anak kembar. Bahkan menurut dr. Arie, kemungkinan dihasilkannya anak kembar bisa mencapai angka 20%. Hal ini dapat dimaklumi, karena guna meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung, maka embrio yang ditanam dalam rahim calon ibu biasanya berjumlah dua atau lebih. Sehingga tak heran jika semua embrio berhasil berkembang, bayi kembarlah yang akan di dapat.

“Sementara untuk sisa embrio yang ada dan tidak dimasukkan ke dalam rahim ibu biasanya akan disimpan melalui teknik pembekuan embrio. Dengan begitu, ketika pasangan ingin kembali melakukan proses bayi tabung, prosedur dapat dilakukan secara lebih singkat, yaitu tanpa penyuntikan hormon dan pengambilan sel telur,” tutur dr. Arie.

Mengenai risiko program bayi tabung sendiri diungkapkan dr. Arie tidaklah banyak. Umumnya  efek samping yang terjadi hanyalah sakit kepala, mual, perubahan mood, dan tidak nyaman karena harus disuntik setiap hari. Sedangkan efek samping lain yang bisa terjadi adalah Ovarian Hyper Stimulation Syndrome (OHSS). Sindrom ini disebabkan oleh adanya kadar hormon yang berlebihan. Dimana pada wanita yang memiliki sel telur yang banyak, ketika disuntik mengalami reaksi lebih ekstrim dan menyebabkan overstimulasi. Reaksi-reaksi tersebut biasanya dalam bentuk kembung, begah, nyeri ringan, dan mual.

Namun terkadang, adapula wanita yang mengalami reaksi berat seperti munculnya cairan pada paru-paru hingga kesulitan bernapas. Atau munculnya cairan pada perut sehingga membengkak secara signifikan. Akan tetapi, dr. Arie kembali menegaskan, kejadian tersebut sangat jarang terjadi, rata-rata hanya sekitar 1-2% dari seluruh pemakai program bayi tabung.

“OHSS memang merupakan efek samping yang umum terjadi dari terapi kesuburan. Tapi biasanya, gejala ringan itu akan hilang dengan sendirinya setelah satu minggu. Sementara yang berat memang perlu perawatan di rumah sakit,” tambah dr. Arie.

Lebih lanjut, walaupun program bayi tabung terbilang pilihan paling efektif untuk mengatasi infertilitas, tapi menurut pengalaman dr. Arie, banyak pasangan di Indonesia yang belum mengetahuinya.

“Buktinya, tak sedikit pasangan yang datang ketika umurnya sudah menua. Padahal begitu usianya sudah diatas 35 tahun, tingkat keberhasilannya ya lebih rendah seperti yang sudah saya jelaskan diatas,” tegas dr. Arie.

Walau begitu, dr. Arie juga mengakui, bahwa selain karena ketidaktahuan tentang program bayi tabung, banyak juga yang terhambat masalah biaya. Maklum, biaya program bayi tabung itu sendiri memang terbilang tidak murah, yaitu sekitar 50-70 juta per siklus. Ini pun tergantung dari pusat kesuburan mana yang akan yang digunakan.

Lepas dari masalah biaya, dr. Arie juga menjelaskan bahwa sampai dengan saat ini sudah ada 23 pusat bayi tabung di Indonesia. Sayangnya, angka tersebut masih dirasanya sangat kurang mengingat jumlah penduduk Indonesia yang tinggi. “Bila dilihat dari jumlahnya memang masih belum sebanding dengan jumlah pasangan tidak subur yang ada di Indonesia. Untuk itu saya berharap pusat bayi tabung di Indonesia dapat lebih diperbanyak,” kata dr. Arie lagi.

Untuk teknologinya sendiri, ada beberapa pusat bayi tabung di Indonesia yang telah memiliki PGS (preimplantation genetic screening) , teknologi hasil adopsi dari Australia. Melalui PGS, memungkinkan calon orangtua mendeteksi kelainan kromosom pada embrio yang akan ditanam, sehingga dapat segera diambil langkah yang tepat. “Tapi harus diakui, teknologi PGS memang belum digunakan oleh seluruh pusat bayi tabung di Indonesia. Hanya ada beberapa saja yang sudah memilikinya,” tutup dr Arie.

Tips Meningkatkan Keberhasilan Bayi Tabung

1. Konsumsi Makanan Bergizi

Sebelum dan saat menjalani program bayi tabung, sebaiknya konsumsilah makanan yang bergizi tinggi. Gandum, alpukat, olive oil dan kacang-kacangan adalah beberapa makanan yang sangat disarankan. Guna menstabilkan hormon, pilih juga bahan makanan organik. Hindari makanan instan, junk food dan berbagai bahan makanan yang kemungkinan mengandung merkuri tinggi seperti kerang.

2. Hindari Rokok dan Kafein

Rokok dan kafein memiliki banyak efek buruk, terlebih bagi yang sedang mengikuti program bayi tabung. Karenanya, hindari sejauh mungkin.

3.  Jangan Stress

Usahakan untuk selalu berpikir positif. Jangan terlalu banyak memikirkan hal negatif  yang belum tentu akan terjadi. Karena pikiran negatif hanya akan menimbulkan stress yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan program bayi tabung.

4. Berdoa

Agar lebih tenang, berdoalah selalu. Memasrahkan segala sesuatunya kepada Tuhan merupakan pilihan yang sangat tepat dan bijaksana.

LATEST TOP NEWS