Laporan Utama

Mengenal dan Mencegah Resistensi Antibiotik

laput anti

Bila digunakan sesuai aturan, antibiotik memang berkhasiat membasmi infeksi bakterial serta mempercepat penyembuhan suatu penyakit. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang tidak tepat sasaran justru dapat menimbulkan kondisi yang kerap disebut resistensi antibiotik. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan resistensi antibiotik? Mungkinkah menjangkiti anak-anak?

Siapa yang tak kenal antibiotik? Obat yang satu ini memang kerap menuai kontroversi. Pasalnya,di satu sisi antibiotik dikenal sebagai obat paling mujarab untuk menyembuhkan berbagai infeksi akibat bakteri. Namun di sisi lain, antibiotik kabarnya merupakan salah satu obat keras yang dapat menimbulkan berbagai efek samping pada beberapa organ tubuh, seperti gangguan saluran cerna, ginjal, fungsi hati, darah, dan lain sebagainya. Pada bayi serta anak-anak, resiko efek samping tersebut tentu jadi lebih tinggi, mengingat fungsi organ tubuh mereka yang belum tumbuh dengan sempurna. Tapi jangan khawatir, efek samping dari antibiotik tersebut ternyata baru timbul apabila pemakaiannya berlebihan, irasional serta tidak tepat sasaran.  Dikatakan tidak tepat sasaran jika antibiotik digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang tidak disebabkan bakteri. Radang tenggorokan akibat virus misalnya, tentu tidak akan mempan dimusnahkan dengan antibiotik.

Sementara dikatakan pemakaiannya berlebihan dan irasional apabila antibiotik digunakan tidak sesuai dengan dosis dan jangka waktu yang telah diberikan dokter.  Itu sebabnya, antibiotik tidak bisa dibeli secara sembarangan, perlu resep dari dokter untuk menebusnya. Dan biasanya, dokter akan meresepkan antibiotik untuk mempercepat proses kesembuhan pasien dengan berbagai pertimbangan, seperti tingkat infeksi, efek samping, riwayat alergi terhadap jenis antibiotik tertentu, atau kondisi pasien secara umum. Lebih jauh, dokter akan meresepkan antibiotik dalam bentuk tablet, kapsul atau cairan selama ada indikasi infeksi bakteri yang dilengkapi dengan bukti empiris atau laboratorium, lengkap dengan pemeriksaan penunjang lainnya. Karenanya, bila memang dibutuhkan, antibiotik sebenarnya sah dan aman diberikan, termasuk untuk anak-anak maupun bayi yang baru lahir. Itu pun dengan catatan penggunaannya harus tepat dan tidak boleh berlebihan.

Memahami Resistensi Antibiotik

Lalu, apa jadinya bila antibiotik digunakan secara sembarangan? Selain dapat menimbulkan efek samping pada organ tubuh seperti telah disebutkan di atas, penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat sasaran juga dapat menimbulkan kematian pada kuman baik dan berguna yang ada dalam tubuh. Akibatnya, tempat yang semula dihuni oleh kuman baik akan diisi oleh bakteri jahat atau jamur sehingga menimbulkan kondisi yang lazim disebut superinfection.

 Parahnya lagi, penggunaan antibiotik yang tidak tepat juga dapat menimbulkan resistensi antibiotik yaitu suatu kondisi dimana bakteri mengubah mekanisme dalam menanggapi penggunaan antibiotik, sehingga bukannya mati, bakteri dalam tubuh malah bermutasi dan menjadi resisten atau kebal terhadap antibiotik.  Akibatnya, tubuh yang terinfeksi bakteri yang resisten tersebut tentu akan lebih sulit diobati. Dosis dan jenis antibiotik yang diberikan untuk menghadapinya juga harus lebih kuat. Efek sampingnya pun otomatis lebih meningkat tanpa diimbangi efektifitas obat.

Kondisi yang demikian sudah pasti sangat mengkhawatirkan. Terlebih untuk anak-anak yang notabene daya tahan tubuhnya masih belum terbentuk dengan sempurna. Sebab seperti yang dijelaskan oleh DR. Dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, resistensi antibiotik yang melonjak drastis,nantinya dapat meningkatkan angka kematian akibat infeksi bakteri. “Menurut data yang ada, resistensi antibiotik di semua bagian dunia terus meningkat. Bakteri baru yang resisten selalu muncul dan menyebar secara global setiap hari, serta mengancam keberhasilan pengobatan penyakit. Penyakit infeksi umum seperti pneumonia, TBC, sepsis dan gonore menjadi lebih sulit ditangani, dan kadang-kadang justru tidak mungkin lagi, karena antibiotik yang tersedia menjadi kurang efektif,” kata dr. Wikan. Dampak lainnya, biaya pengobatan juga menjadi lebih tinggi, perawatan di rumah sakit berkepanjangan dan angka kematian meningkat. Contohnya, di seluruh Uni Eropa, bakteri yang resistan terhadap antibiotik saat ini diperkirakan menyebabkan 25.000 kematian dan menelan biaya kesehatan lebih dari US $ 1,5 miliar setiap tahunnya. Lebih lanjut, dr. Wikan menjelaskan bahwa di negara di mana antibiotik dapat dibeli tanpa resep, kemunculan dan penyebaran resistensi menjadi lebih buruk. Demikian pula, di negara tanpa pedoman pengobatan standar, antibiotik sering diresepkan berlebihan  (over prescribed) oleh petugas kesehatan dan digunakan berlebihan (over used) oleh masyarakat.

“Jika tidak ada tindakan segera, tanpa disadari kita sedang menuju era pasca antibiotik, dimana infeksi umum dan luka ringan dapat sekali lagi menjadi penyebab kematian pasien, seperti jaman dahulu, sebelum antibiotik ditemukan ,” lanjut dr. Wikan. Karena itu, dr Wikan kembali menekankan perlunya dipahami benar bagaimana resistensi antibiotik dapat terjadi. Lebih lanjut dijelaskan dalam Centers for Disease Control and Prevention(CDCP), di tubuh manusia terdapat beragam bakteri dan beberapa diantaranya merupakan bakteri yang resistan terhadap antibiotik. Ketika penderita penyakit mengonsumsi antibiotik, maka obat itu akan ‘membunuh’ bakteri yang menyebabkan penyakit juga bakteri baik yang melindungi tubuh dari infeksi. Dalam kondisi demikian, bakteri yang resisten terhadap antibiotik mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang biak. Akibatnya, ketika penderita penyakit menggunakan antibiotik secara tidak tepat dan berulang, maka secara tidak langsung, mereka mendorong pengembangan bakteri resisten antibiotik pada tubuh mereka. “Saat bakteri sudah resisten, maka dampak jangka pendeknya penyakit infeksi tidak teratasi, keluhan dan tanda klinis pada penderita tetap ada. Dampak jangka panjangnya, penyakit semakin berat, perawatan semakin lama, biaya semakin mahal dan kemungkinan gagal pengobatan, termasuk meninggal semakin besar,” terang dr. Wikan. Lalu, siapa sebenarnya yang paling rentan terhadap resistensi antibiotik? dr. Wikan menjelaskan, resistensi antibiotik tidak murni ditentukan oleh faktor usia, sehingga bisa saja terjadi pada anak ataupun orang dewasa. Namun demikian, riwayat penggunaan antibiotik sebelumnya justru lebih menentukan tingginya risiko resistensi bakteri. Dengan kata lain, semakin sering anak mengkonsumsi antibiotik, maka semakin besar kemungkinan timbulnya bakteri resisten dalam tubuhnya. “Oleh sebab itu, penggunaan antibiotik pada anak seharusnya lebih berhati-hati, rasional dan hanya sesuai indikasi medis saja. Penggunaan antibiotik yang berulang dan tidak sesuai indikasi medis akan meningkatkan risiko terjadinya resitensi antibiotik pada anak, yang kadang justru jauh lebih berbahaya dibandingkan penyakit infeksinya itu sendiri,” tegas dr. Wikan.

Penyebaran Resistensi Antibiotik

Membahas mengenai penyebaran resistensi antibiotik, maka perlu dipahami bahwa yang menular bukanlah resistensinya, tetapi bakterinya. Nah, bakteri yang telah resisten antibiotik itu dapat menular dari satu manusia ke manusia lainnya. Tak hanya antar manusia, CDCP juga menerangkan bahwa bakteri resisten pada hewan juga kemungkinan dapat menular ke manusia. “Resistensi antibiotik tidak murni disebabkan dari aspek kesehatan manusia, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk faktor pertanian, peternakan dan kesehatan hewan. Karena itu, penggunaan antibiotik secara bijaksana, tidak berlebihan dan tepat sasaran bukan hanya berlaku dalam lingkup kesehatan manusia, tetapi juga pada lingkup pertanian, perkebunan, peternakan dan kedokteran hewan,” tutur dr. Wikan lagi. Agar dapat lebih mudah dipahami, maka dapat dijelaskan bahwa penyebaran resistensi antibiotik dari hewan ke manusia lain dapat terjadi dengan urutan sebagai berikut : Hewan sering diberi antibiotik secara tidak tepat, akibatnya bakteri resisten pada daging hewan dapat menyebar ke manusia jika daging yang akan dikonsumsi tidak dibersihkan dan dimasak dengan benar. Pupuk atau air yang terkontaminasi kotoran hewan dan bakteri resisten antibiotik digunakan untuk irigasi tanaman pangan, akibatnya bakteri resisten antibiotik dapat menetap di tanaman pangan yang dikonsumsi manusia.

Membatasi Penyebaran Resistensi Antibiotik 

Berdasarkan penjelasan tersebut, dr Wikan kembali menekankan pentingnya penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan secara benar, guna menekan resistensi antibiotik. Namun demikian, diperlukan tindakan tambahan lain oleh berbagai pihak secara serentak, untuk mencegah meluasnya resistensi antibiotik. Adapun pencegahaan secara umum dapat dilakukan dengan jalan menjauh dari pasien yang sedang sakit, meningkatkan daya tahan tubuh, menggunakan alat pelindung diri, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara teratur, juga memberikan imunisasi pada anak sesuai usia. Jangan lupa, cuci daging, buah dan sayur yang akan dikonsumsi  sampai bersih pada air yang mengalir dan masak secara benar. “Bagi orang tua yang masih khawatir dengan resistensi antibiotik, mulailah ajarkan anak tentang kebersihan diri dan pentingnya menjaga stamina atau daya tahan tubuh. Usahakan jangan terlambat memberikan imunisasi sesuai usia dan patut digarisbawahi bahwa antibiotik hanya boleh dikonsumsi sesuai resep dokter. Misalnya saat ada anjuran dihabiskan, maka pastikan menghabiskan antibiotik walaupun anak sudah terlihat sehat. Karena saat anak tidak menghabiskan antibiotik, maka kuman tidak mati tuntas dan berisiko berubah menjadi kuman yang kebal obat ,” kata dr. Wikan.

 Dr Wikan juga mengatakan bahwa jangan sekali-kali seseorang meminum antibiotik milik orang lain, walaupun penyakit yang diderita sama. Karena antibiotik seseorang belum tentu sesuai dengan kondisi tubuh orang lainnya.  Jangan pula menebus resep antibiotik lama bila suatu saat anak terlihat menderita gejala penyakit yang sama. Lalu, perlukah menghindari atau menolak antibiotik? Dr. Wikan m e n e ga s ka n bahwa antibiotik bukan untuk dihindari atau ditolak. Sebab selama ada indikasi yang menunjukkan fakta bahwa antibiotik memang harus diberikan untuk pengobatan, maka dokter akan meresepkan dosis yang sesuai. “Kalau pasien masih ragu misalnya, maka pasien memiliki hak untuk mencari pendapat dokter lain (second opinion). Pasien pada dasarnya juga berhak bertanya secara detail mengenai antibiotik dan obat yang diresepkan. Jangan takut pula untuk menanyakan informasi tambahan mengenai penyakit yang diderita. Apa penyebabnya atau bagaimana pengobatannya. Intinya saat konsultasi bisa bertukar pikiran langsung dengan dokter,” ujarnya. Terakhir dr. Wikan juga menghimbau para dokter, apoteker dan petugas kesehatan lainnya untuk  berperan mencegah infeksi dengan memastikan tangan, instrumen medis dan lingkungan rumah sakit bersih serta memberikan vaksinasi terbaru kepada pasien (up to date). Utamakan juga untuk meresepkan dan mengeluarkan antibiotik ketika benar-benar dibutuhkan, pada dosis dan durasi pengobatan yang tepat.

LATEST TOP NEWS