Laporan Utama

Kunci Mendidik Anak di Era Digital

lapu 360

Tak bisa dipungkiri, meski memberikan banyak kemudahan, era digital juga membuat orangtua harus berusaha ekstra keras dalam mendidik dan membesarkan sang buah hati, agar kelak tak salah langkah. Bagaimana caranya?

Tak bisa dipungkiri, meski memberikan banyak kemudahan, era digital juga membuat orangtua harus berusaha ekstra keras dalam mendidik dan membesarkan sang buah hati, agar kelak tak salah langkah. Bagaimana caranya? 

Beda era tentu berbeda pula pola asuh yang dapat diterapkan orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Termasuk di era digital ini yang ditandai dengan hadirnya beragam perangkat digital serta jaringan internet yang mumpuni.

Memang, harus diakui jika era digital teramat sangat memberi banyak kemudahan di beragam aspek kehidupan. Namun dibalik semua itu, bila salah menerapkan pola asuh, maka bukan tak mungkin ‘buah’ yang seharusnya tumbuh dengan subur dan sehat malah berkembang sebaliknya.

Karena itu, wajib hukumnya bagi orangtua untuk mencari dan menemukan pola asuh yang tepat. Agar nantinya anak dapat tetap tumbuh normal dan sesuai harapan di tengah derasnya arus informasi dan berkembangnya teknologi serta semakin ketatnya persaingan.

Plus Minus Era Digital

Athalia Sunaryo, M.Psi., Psikolog dari Lifespring Counseling and Care Center mengatakan bahwa di era digital ini, anak-anak umumnya sudah melek teknologi bahkan mungkin lebih ahli dibandingkan dengan orang dewasa atau orangtuanya. Mereka juga kaya akan beragam informasi dari berbagai belahan dunia. Tinggal klik atau menyentuh layar smartphone, maka berbagai informasi yang diinginkan dalam sekejap sudah ada di depan mata.

Selain itu, melalui aplikasi tertentu atau permainan video, kreativitas anak juga jadi lebih terlatih. Namun sayangnya, dibalik manfaat positif yang  didapatkan, terdapat juga dampak negatif yang akhirnya akan mempengaruhi aspek-aspek perkembangan anak, termasuk kemampuan sosialisasi anak.

“Kita tentu sering melihat anak usia dini yang sedang asyik bermain smartphone atau tablet. Mereka seakan tidak peduli dengan suasana sekitar. Padahal untuk anak usia dini, mereka seharusnya lebih banyak bersosialisasi dan belajar lewat panca indera,” kata Athalia.

Parahnya, kondisi yang demikian kerap tidak disadari oleh orangtua. Bahkan banyak diantaranya malah  beranggapan memberikan konten belajar melalui layar smartphone, tablet, atau televisi justru sudah menjadi suatu keharusan agar anak tidak ketinggalan jaman. Terlebih anak yang diberi smartphone atau tablet akan menjadi lebih tenang dan ‘tidak mengganggu’ kesibukan orangtuanya.

“Hal ini tentu sangat memprihatinkan karena sederhananya, smartphone atau tablet itu hanya memberikan stimulasi pada indera penglihatan dan pendengaran anak saja. Sementara indera lainnya tidak tersentuh. Contoh, anak kita melihat jeruk di tablet dengan kita memberinya buah jeruk asli, tentu akan berbeda sekali manfaatnya. Jika di tablet si kecil hanya bisa melihat bentuk dan warnanya, tapi saat  memegang buah jeruk asli, maka anak bisa melihat warna buah dan bentuknya sekaligus menyentuh tekstur jeruk. Anak juga dapat mencium aroma dari jeruk saat dikupas. Sehingga mereka bisa mendapatkan berbagai macam stimulasi hanya dari satu buah saja,” tutur Athalia panjang lebar.

Selain masalah stimulasi, Athalia juga melihat bahwa dengan makin eratnya hubungan anak dengan smartphone atau tabletnya, maka semakin jauh ikatan batin antara orangtua dengan anak. Akibatnya, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan bukan tidak mungkin  mengalami keterlambatan bicara karena kemampuan berbahasa atau bersosialisasinya kurang diasah lewat interaksi sosial secara langsung sejak dini.

Lebih lanjut juga dijelaskan, ketika anak mulai memasuki usia sekolah, maka permasalahan yang sering ditemui akibat penggunaan tablet yang tidak bijaksana saat usia dini adalah lemahnya kemampuan motorik anak. Masih menurut Athalia, anak yang sudah dikenalkan smartphone atau tablet sejak dini umumnya hanya terbiasa  menggunakan beberapa jarinya saja untuk menyentuh layar. Alhasil ketika anak diajak belajar menulis atau kegiatan lainnya yang membutuhkan kemampuan motorik, mereka sering mengeluh bahkan menolak dan frustasi karena merasa terlalu sulit.

“Ya, di era digital yang serba instan ini, kesabaran dan daya juang anak juga bisa terpengaruh. Misalnya saat mereka bermain game dan mencapai level yang sulit, maka anak cenderung untuk restart permainan atau memilih permainan lain. Biasanya mereka juga cepat bosan dengan berbagai aktifitas yang tidak melibatkan smartphone, karena anak tahunya hal yang menyenangkan itu ya hanya yang berhubungan dengan smartphone saja,” ujar Athalia.

Selanjutnya Athalia juga mengatakan bahwa seharusnya kemajuan teknologi di era digital ini dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan yang jauh. Misalnya orangtua bekerja di luar kota, maka dapat menggunakan fasilitas video call untuk terus menjalin komunikasi intensif dengan anak.

Bukan malah sebaliknya, kemajuan teknologi saat ini justru seringkali menjauhkan yang dekat. Sebagai contoh, ketika berkumpul bersama keluarga, si ayah sibuk melihat berbagai berita di smartphone-nya. Sementara ibu sibuk dengan media sosial, dan anak sibuk main game. Otomatis tidak ada interaksi di dalam keluarga sehingga percuma juga berkumpul.

Alhasil sekali lagi anak jadi makin tertutup dan cenderung lebih dekat kepada smartphone atau teman-temannya. Hal ini tentu sangat berbahaya, sebab smartphone atau temanteman sebaya bisa menjadi sumber informasi yang salah. Tak sedikit bukan, anak yang terjerumus ke pornografi atau aliran sesat akibat terpengaruh informasi yang didapat dari internet maupun teman sebaya?.

Karena itu diharapkan orangtua dapat terus menjalin hubungan yang hangat dan dekat dengan anak. Sehingga anak tahu bahwa sumber informasi yang benar itu adalah orangtua, bukan internet ataupun teman sebaya.

“Untuk mendekatkan diri dengan anak itu tidak susah kok, yang terpenting berilah contoh kepada si kecil tentang penggunaan gadget yang bijaksana. Dalam arti saat berkumpul bersama keluarga, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jauhkan gadget dan jalin kebersamaan dengan anak lewat cerita atau aktifitas lain yang menyenangkan. Dengan demikian orangtua bisa menjadi panutan yang baik,” ujar Athalia.

Menelaah Pola Asuh Orang Tua

Lalu, apa lagi yang harus dilakukan agar orangtua tak salah langkah dalam mendidik anak di era digital? Terlebih dahulu Athalia menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap orangtua tentu memiliki naluri untuk mendidik, membesarkan, melindungi, dan mendampingi anak dalam tumbuh kembangnya. Naluri tersebut diikuti dengan pengalaman pengasuhan yang didapatkan mereka sendiri sewaktu kecil. Berangkat dari naluri dan pengalaman tersebut, orangtua harus menetapkan terlebih dahulu, pola asuh seperti apa yang akan diterapkan kepada sang buah hati.

Sejatinya, pola asuh itu sendiri tak hanya terbentuk secara internal, perlu diperhatikan juga pengaruh eksternalnya. Semisal tuntutan kebutuhan hidup masa kini yang mengharuskan ayah dan ibu bekerja sehingga kebersamaan orangtua dan anak berkurang. Pengasuhan pun menjadi terbagi dengan orang yang dipercaya untuk mengasuh anak dikala orangtua berkerja. Guna menyiasatinya,  orangtua perlu memberikan penjelasan mendalam kepada orang yang dipercaya mengasuh si kecil mengenai pola asuh yang akan diterapkan pada anak. Dengan demikian tidak terjadi dualisme.

Athalia juga menjelaskan bahwa bila ditilik dengan seksama, pola asuh orangtua jaman sekarang umumnya lebih bersifat permisif. Dalam arti apa yang diminta oleh anak cenderung akan dikabulkan. Hal ini tentu tidak lepas dari perasaan bersalah orangtua akibat sedikitnya waktu yang bisa mereka berikan pada sang buah hati. Sehingga sebagai gantinya, orangtua akan melimpahi anak dengan berbagai barang. Di samping itu, orangtua jaman sekarang juga kerap membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain.

“Sebagai contoh, bila anak si A misalnya ikut les musik, maka kita juga merasa si kecil di rumah harus ikut les yang sama. Atau bila anak si A diberi tablet, maka kita juga ingin memberikan barang yang sama kepada anak. Kondisi dengan pola asuh seperti itu tentu tidak sehat, karenanya harus segera diperbaiki,” tutur Athalia.

Lebih lanjut Athalia menekankan bahwa di era digital ini, tanggung jawab pengasuhan harus selalu berada di tangan orangtua, bukan di teknologi. Itu sebabnya, yang bisa mendampingi, menenangkan, dan menyenangkan anak seharusnya orangtua bukan gadget. Contohnya, saat anak tantrum jangan langsung menenangkan dengan memberikan gadget, ada baiknya orangtua menemukan cara lain yang lebih tepat untuk menenangkan anak.

Meski demikian, Athalia kembali mengingatkan bahwa teknologi juga memiliki banyak sisi positif, karenanya jangan dijadikan sebagai barang haram. Justru memperkenalkan anak kepada teknologi  di era digital ini sudah menjadi suatu keharusan. Hanya saja dalam prakteknya, orangtua harus lebih bijaksana dan siap memberikan batasan-batasan. Sebagai contoh, si kecil boleh bermain gadget hanya pada akhir minggu saja, itu pun diberi batasan waktu, 2 atau 3 jam. Selain itu, selalu periksa konten yang dilihat atau dimainkan oleh anak. Pastikan konten tersebut sesuai dengan usia si kecil.

“Ingat ya, jika ingin membatasi penggunaan gadget, alihkan dengan kegiatan lain yang sepadan. Jangan katakan : “Adik berhenti main game, ayo belajar”. Dua kegiatan tersebut tentu tidak sebanding. Lebih baik carikan kegiatan alternatif lain yang menyenangkan untuk anak seperti bermain board game atau bermain di taman. Intinya, orangtua perlu memfasilitasi anak dengan kegiatan alternatif  yang menarik. Akan lebih baik lagi jika kegiatan itu bisa dilakukan bersama dengan keluarga,” tutup Athalia.

LATEST TOP NEWS