Laporan Utama

Kenali Diabetes Pada Anak & Ibu Hamil

laput_nov

Dulu, diabetes selalu dikaitkan sebagai penyakitnya kaum lanjut usia. Tapi sekarang, ibu hamil bahkan anak-anak pun lumrah terjangkiti. Karena itu, kenali seluk beluknya agar dapat ditangani sejak dini.

Restu dan Vendi kaget luar biasa. Pasalnya seminggu lalu, Dion, jagoan kecil mereka yang berusia 10 tahun tiba-tiba mengalami sesak napas disertai muntah-muntah. Setelah dibawa ke rumah sakit dan menjalani serangkaian pemeriksaan darah, anak tunggal mereka itu didiagnosis menderita penyakit Diabetes Tipe 1. Hal ini tentu sangat mengejutkan, bahkan sempat membuat stress. Terlebih sejak Dion lahir, tidak ada riwayat penyakit yang berarti. Asupan gizi yang mereka berikan pun tergolong sempurna. Tapi mengapa Dion bisa terkena diabetes? Apa yang salah?

Mengenal Diabetes

Menurut dr. Leny Puspitasari, Sp.PD dari Diabetic & Metabolic Clinic – Siloam Hospital Lippo Village, diabetes pada dasarnya merupakan suatu penyakit atau suatu gangguan metabolik yang ditandai dengan gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemi) yang bisa disebabkan karena gangguan kerja insulin, kurangnya produksi insulin, atau pun keduanya. Insulin itu sendiri merupakan hormon yang mengatur keseimbangan kadar gula darah dalam tubuh. Membahas mengenai diabetes, dokter Leny mengatakan, tidak bisa terlepas dari dua tipe utamanya, yakni Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2. Di samping itu, terdapat juga Diabetes Gestasional, serta Diabetes Tipe Lainnya yang merupakan kondisi diabetes diluar tiga tipe sebelumnya. Agar tak salah persepsi, yuk kenali lebih lanjut tipe-tipenya.

Diabetes Tipe 1

Sampai dengan saat ini, penyebab pasti Diabetes Tipe 1 belum diketahui. Namun diduga, faktor genetik atau keturunan ikut berpengaruh terhadap munculnya penyakit ini. Selain itu, infeksi virus dan rusaknya sel pankreas juga dapat menyebabkan timbulnya Diabetes Tipe 1.

“Secara medis Diabetes Tipe 1 terjadi karena kekebalan tubuh seseorang telah keliru menyerang kelenjar pankreas, sehingga sel-sel pankreas yang seharusnya memproduksi insulin rusak. Biasanya, Diabetes Tipe 1 ini lebih dikenal sebagai diabetesnya anak-anak. Mengapa? karena penderita diabetes tipe ini kebanyakan berusia dibawah 40 tahun dan terdeteksinya pun umumnya saat mereka masih usia anak-anak atau remaja,” jelas dokter Leny. Masih menurut dokter Leny, Diabetes Tipe 1 terkadang cukup sulit untuk dikenali dan biasanya baru terdeteksi setelah terjadi ketoasidosis diabetik, yaitu suatu kondisi dimana gula darah sangat tinggi dan produksi insulin sangat rendah. Saat hal itu terjadi, penderitanya akan merasa sesak napas hingga hilang kesadaran.

Ketika dilakukan cek darah, barulah diketahui bahwa seseorang terkena Diabetes Tipe 1. Itu sebabnya, dokter Leny menyarankan agar orangtua selalu memperhatikan tumbuh kembang anaknya secara lebih cermat. Dengan demikian, gejala Diabetes Tipe 1 bisa dideteksi sejak dini. Adapun gejala Diabetes Tipe 1 dapat dikenali dari beberapa kondisi. Seperti semakin seringnya si kecil merasa haus dan buang air kecil, meningkatnya napsu makan secara ektrem yang tidak diimbangi dengan peningkatan berat badan anak, adanya keluhan penglihatan yang kabur atau buram serta semakin seringnya si kecil mengalami kelelahan atau rewel. Khusus pada anak perempuan, gejala Diabetes Tipe 1 juga dapat dikenali dari adanya infeksi jamur pada vagina. Lebih lanjut dokter Leny mengatakan, bahwa sebenarnya sulit untuk mencegah Diabetes Tipe 1. Karena selain berhubungan dengan faktor genetika, Diabetes Tipe 1 juga berhubungan dengan auto imun tubuh. Itu sebabnya, ketika seseorang sudah terdiagnosis Diabetes Tipe 1, maka yang harus dilakukan adalah mencegah terjadinya komplikasi dengan terus rutin menggunakan insulin.

Disinilah diperlukan kedisiplinan orangtuadalam merawat anaknya yang mengidap Diabetes Tipe 1. Mereka mau tidak mau harus terus memantau dan membimbing si anak guna menjaga kadar gula darahnya. Dalam hal ini dokter yang menangani akan memberikan panduan menu makan harian dan dosis insulin. Sementara orangtua di rumah bertugas sebagai pelaksananya. Dan patut diingat, selain harus mematuhi menu makan harian dan dosis insulin, anak yang menderita Diabetes Tipe 1 juga harus aktif bergerak dan rajin olahraga,” jelas dokter Leny panjang lebar.

Diabetes Tipe 2

Fakta membuktikan, sekitar 90% penderita diebetes di dunia mengidap Diabetes Tipe 2. Dijelaskan oleh dr. Leny, Diabetes Tipe 2 disebabkan karena adanya resistensi insulin atau gangguan kerja insulin yang mengakibatkan terjadinya penurunan produksi insulin. Pada umumnya, penderita diabetes tipe ini berada pada usia tua. Namun demikian, tetap tidak menutup kemungkinan seseorang berusia muda juga bisa terjangkit Diabetes Tipe 2. Sebab, faktor utama penyebab Diabetes Tipe 2 adalah gaya hidup.

Biasanya, orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas lebih berisiko untuk terkena penyakit Diabetes Tipe 2. Pola makan yang berlebihan dan jarang beraktivitas maupun berolahraga juga menjadi pemicu dari diabetes tipe ini. Hampir sama dengan Diabetes Tipe 1, gejala Diabetes Tipe 2 juga dapat dikenali dari seringnya orang yang terjangkiti merasa haus, sering buang air kecil, kerap merasa lapar, dan penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas. Empat gejala tersebut merupakan gejala klasik dari Diabetes Tipe 2. Lalu ada lagi gejala lainnya seperti berkurangnya massa otot, pandangan kabur, luka yang lama sembuh dan kerap merasa lelah.

“Jika seseorang menemukan satu atau dua gejala diabetes seperti yang sudah saya sebutkan tadi, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Atau jika tidak ada gejala sama sekali namun memiliki keturunan diabetes, maka perlu waspada juga dengan kontrol secara berkala. Sebab apabila ada anggota keluarga yang terkena diabetes, maka risiko seseorang terkena penyakit yang sama bisa mencapai enam kali lipat,” tutur dr. Leny. Kembali ke Diabetes Tipe 2, dokter Leny mengatakan bahwa bila dibandingkan dengan Diabetes Tipe 1, maka jenis pengobatan Diabetes Tipe 2 sebenarnya lebih bervariasi. Dalam arti Diabetes Tipe 1 hanya bisa dikontrol dengan menggunakan insulin. Sementara pada penderita Diabetes Tipe 2, kadar gula dalam darah masih bisa dikontrol dengan menerapkan pola hidup sehat serta minum obat secara rutin.

“Kuncinya, penderita Diabetes Tipe 2 itu disarankan tidak mengonsumsi makanan yang terlalu tinggi indeks glikemiknya. Kalau indeks glikemiknya tinggi, berarti akan ada kondisi di mana gula darah naik terlalu cepat. Nah, gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah itulah yang nantinya akan meningkatkan  risiko terjadinya komplikasi,” jelasnya.

Diabetes Gestasional

Berbeda dengan dua tipe diabetes sebelumnya, Diabetes Gestasional merupakan jenis diabetes yang umumnya hanya terjadi pada ibu hamil. Diabetes jenis ini biasanya lebih sering dialami oleh ibu hamil yang memiliki riwayat diabetes pada keluarganya. Selain itu, Diabetes Gestasional juga kerap dialami oleh ibu hamil yang memiliki riwayat keguguran berulang serta mempunyai tubuh yang gemuk. Kurangnya aktivitas ketika hamil disinyalir juga menjadi salah satu penyebab timbulnya Diabetes Gestasional. Umumnya, diabetes jenis ini hanya terjadi pada masa kehamilan alias akan hilang setelah melahirkan. Namun tak menutup kemungkinan, ibu yang pernah mengidap Diabetes Gestasional  akan mengidap Diabetes Tipe 2 di kemudian hari.  “Diabetes tipe ini memang tidak bisa dicegah, namun dapat segera diatasi bila terdeteksi sejak dini. Sayangnya secara awam gejalanya memang sukar untuk diperhatikan. Karena itu, cara yang paling tepat ya dengan rajin kontrol ke dokter kandungan.

Biasanya dokter kandungan akan melakukan cek gula darah saat kehamilan masuk pada minggu ke-24. Jika ternyata ditemukan Diabetes Gestasional, maka dokter akan langsung melakukan terapi insulin,” kata dr. Leny. Lalu, apakah bahaya yang mungkin menimpa janin akibat ibu terkena Diabetes Gestasional? Dr. Leny menjelaskan, pengaruh Diabetes Gestasional dapat menyebabkan bayi lahir besar atau kelebihan berat badan. Di samping itu, bayi juga bisa lahir dalam kondisi hipoglikemia atau gula darah rendah. Tak menutup kemungkinan pula, penyakit itu dapat diturunkan kepada bayi dalam bentuk Diabetes Tipe 1.

Diabetes Tipe Lain

Sementara Diabetes Tipe Lain merupakan kondisi diabetes diluar tiga tipe yang sudah dijelaskan di atas. Diabetes jenis ini bisa terjadi akibat seseorang mengonsumsi obat yang memiliki efek samping meningkatkan gula darah. Selain itu, Diabetes Tipe Lain juga bisa terjadi akibat naiknya hormon yang kerjanya berlawanan dengan insulin. Salah satu contohnya adalah diabetes yang muncul pada penyakit kelebihan hormon tiroid.

Tepat Mencegah Diabetes

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, penyakit Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 adalah penyakit jangka panjang yang tidak bisa disembuhkan. Artinya, seumur hidup penderitanya haruslah minum obat atau melakukan suntik insulin sesuai dengan anjuran dokter. Selain itu, diperlukan juga komitmen penderita untuk menjaga gaya hidup yang sehat. Maka untuk menghindarinya, perlu dilakukan tindakan pencegahan sejak usia dini. “Yang utama, usahakan anak tidak terlalu gemuk sejak lahir. Kadang kita orang tua merasa senang saat melihat anak gemuk, padahal kegemukan pada anak berisiko mempercepat timbulnya Diabetes Tipe 2,” ujar dokter Leny.

Selain itu, dokter Leny juga menyarankan agar anak dibiasakan mengonsumsi makanan yang jumlah kalorinya terkontrol. Sekalipun anak merengek minta camilan, pilihlah makanan yang sehat dan kaya serat. Contohnya, saat anak minta camilan manis pilihlah untuk memberikan buah. Sajikan buah potong daripada jus buah yang telah dicampur dengan gula.

Di samping pola makan, perlu dipantau juga aktivitas anak. Pastikan anak banyak melakukan aktivitas di luar seperti bermain sepeda, bermain bola, atau lompat tali.  Dengan kata lain, jangan biarkan anak hanya  terpaku pada permainan gadget yang umumnya sangat minim gerakan. “Satu hal lagi, perlu diperhatikan juga pada anak yang sudah terlanjur memiliki tubuh gemuk, lakukanlah screening pada mereka secara berkala, paling tidak setahun sekali. Supaya bila terdeteksi diabetes bisa segera ditangani ,” kata dr. Leny lagi.

Anjuran Gaya Hidup Penderita Diabetes

Lebih jauh dokter Leny menganjurkan  kepada seluruh penderita diabetes untuk menghindari makanan dengan indeks glikemik yang tinggi. Hal ini dilakukan guna menghindari kenaikan gula darah terlalu cepat. Caranya bisa dimulai dengan memilih karbohidrat yang tepat. “Karbohidrat itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu sederhana dan kompleks. Karbohidrat sederhana lebih cepat dipecah selama proses pencernaan sehingga kadar gula darah dapat meningkat lebih cepat. Contoh karbohidrat sederhana adalah nasi putih, roti putih, dan kentang goreng. Sementara karbohidart kompleks membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna sehingga lebih aman.

Adapun karbohidrat kompleks terdapat pada nasi merah, roti dari biji-bijian utuh, atau kacang polong,” katanya lagi. Di samping memilih karbohidrat yang tepat, penderita diabetes juga memerlukan asupan makanan yang bernutrisi. Karenanya harus rajin mengonsumsi sayuran dan buah-buahan, yang merupakan sumber vitamin, serat dan antioksidan. Ikan dan makanan laut juga wajib masuk menu harian, karena ikan kaya akan protein yang mengandung omega 3.

Tapi patut diingat, sebisa mungkin hindarilah menyajikan ikan dengan cara digoreng. Sementara untuk camilan, dokter Leny menganjurkan agar penderita diabetes  beralih ke kacang-kacangan yang kaya akan protein namun tak mengandung lemak jenuh. Susu yang tinggi kalsium tapi rendah lemak juga bisa dikonsumsi. “Setelah menjaga pola makan, hal lainnya yang perlu dilakukan oleh penderita diabetes adalah melakukan olahraga. Usahakan untuk melakukan olahraga ringan seperti jalan pagi, bersepeda atau berenang secara teratur, dengan intensitas waktu paling tidak 150 menit per minggunya. Khusus anak-anak, berikan aneka permainan yang melibatkan fisik dan jangan biarkan mereka hanya bermain gadget atau menonton televisi,” tutup dokter Leny.

LATEST TOP NEWS