Laporan Utama

Cara Jitu Membimbing Si Ekstrovert dan Introvert

lap uta 360

Ingin memaksimalkan potensi yang dimiliki sang buah hati ? Kenali dulu preferensi sosialnya, ekstrovert atau introvert-kah si kecil ?

Setiap anak terlahir unik atau berbeda. Bahkan anak kembar identik sekalipun, tidak akan memiliki kepribadian dan fisik yang sama persis. Itu sebabnya, penting mengenal dan memahami kepribadian setiap anak. Dengan demikian orangtua bisa mengetahui, metode dan pola asuh seperti apa yang harus diterapkan agar potensi dalam diri anak bisa lebih maksimal.

Pada umumnya, dalam kehidupan sosial terdapat dua tipe besar kepribadian. Pertama adalah orang yang supel dan sangat mudah berbaur dengan lingkungan sekitarnya, lazim disebut si ekstrovert. Sedangkan tipe yang kedua adalah orang yang memilih berinteraksi dengan orang tertentu dan membutuhkan waktu cukup lama untuk berbaur atau disebut si introvert.

Nah, saat membahas mengenai dua tipe tersebut, terdapat banyak stigma dalam masyarakat yang sebenarnya belum tentu benar. Ada mitos yang mengatakan bahwa anak introvert sudah pasti pemalu dan besarnya nanti pasti hanya akan menjadi kutu buku. Ada juga yang mengatakan bahwa anak ekstrovert sudah pasti lebih pintar dibanding anak introvert. Benarkah?

Untuk mengupas lebih dalam mengenai ekstrovert dan introvert pada anak, maka SBH mewawancarai Direktur dan Pendiri Petak Pintar – Center for Learning Problems, Annelia Sari Sani, S.Psi, Psikolog.

Mengenal Ekstrovert dan Introvert

Menurut Annelia atau akrab disapa Anne, ekstrovert dan Introvert sebenarnya adalah preferensi sosial atau preferensi berelasi dengan orang lain. Dijelaskan olehnya, setiap anak sejak lahir sudah memiliki ciri-ciri atau keunikan masing-masing, termasuk preferensi sosial tersebut. Tentu saja preferensi sosial ini akan menjadi salah satu hal yang berkontribusi pada kepribadian anak kelak.

“Sebelum menjelaskan lebih lanjut, penting untuk saya luruskan bahwa ekstrovert dan introvert itu pada dasarnya hanya merupakan preferensi. Jadi bukan kelainan atau suatu hal yang sifatnya satu positif atau yang satu negatif. Tidak seperti itu. Dua-duanya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,” terang Anne.

Lebih jauh Anne menjelaskan bahwa ekstrovert merupakan preferensi sosial dimana anak memiliki kecenderungan untuk senang berinteraksi serta berelasi dengan banyak orang dan menyukai aktivitas sosial. Maklum, anak ekstrovert umumnya memang mendapatkan energi dan kesenangannya ketika berhubungan dengan banyak orang.

“Selain itu, anak ekstrovert juga cenderung suka berdiskusi, senang menjadi pusat perhatian, dan akan sangat aktif dalam kegiatan sosial. Ketika anak ekstrovert berada dalam lingkungan sosial, ia juga akan memiliki inisiatif untuk memulai interaksi dan tidak akan ragu menyapa duluan. Misalnya : ‘Tante namanya siapa? Kenalin aku Yosua’. Atau saat ia sedang bersama temanteman sebayanya, maka dengan mudah si kecil berbaur dan berani mengajak anak lain untuk masuk ke dalam lingkungan sosialnya,” jelas Anne.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa kelebihan atau kekuatan anak ekstrovert adalah  supel, sangat mudah beradaptasi, dan mudah bergaul. Itu sebabnya, anak ekstrovert memiliki keterampilan sosial yang lebih baik dan mampu menilai situasi sosial serta mengetahui harus bersikap seperti apa di sebuah lingkungan sosial tertentu. Namun dibalik kelebihannya, anak ekstrovert cenderung memiliki kualitas pertemanan yang tidak terlalu dalam. Hal ini disebabkan karena begitu banyaknya teman yang ia miliki. Di samping itu, anak ekstrovert juga memiliki kelemahan mudah merasa kesepian yang pada akhirnya dapat membuat energinya menurun serta mempengaruhi motivasi hidupnya.

Sementara anak introvert dijelaskan oleh Anne sebagai anak yang lebih senang berelasi dengan pendekatan yang mendalam satu lawan satu. Anak dengan preferensi sosial introvert tidak akan merasa kesepian saat sendirian. Justru  anak introvert cenderung mendapatkan energi ketika dia sendirian atau bersama orang-orang tertentu yang dekat dengannya.

Berbanding terbalik dengan anak ekstrovert, anak introvert umumnya memiliki ciri-ciri menyukai kegiatan yang solitude, memilih untuk berinteraksi dengan teman yang sedikit namun akrab, dan merasa nyaman walaupun sedang sendiri. Dalam lingkungan sosial, anak introvert memiliki kecenderungan untuk menunggu disapa terlebih dahulu oleh orang lain atau lawan bicara. Saat ada orang yang berinisiatif melakukan pembicaraan, anak introvert pasti akan menjawab. Tapi bila tidak disapa, maka ia hanya akan diam sembari mengamati keadaan sekitar.

Dari ciri-ciri tersebut, anak introvert menurut Anne lebih mandiri. Mereka bisa survive tanpa harus ada dukungan yang besar dari lingkungan sosial. Namun kelemahan dari anak introvert adalah mereka sering disalah mengerti. Anak introvert juga sering dianggap tidak sociable dan cuek dengan lingkungan sosial sekitarnya. Padahal mereka bukan tidak peduli dengan interaksi sosial, hanya saja mereka memiliki preferensi untuk menjalin hubungan yang dekat dengan beberapa teman yang membuat mereka merasa senang dan aman.

“Tapi harus diingat, mengenali kepribadian anak apakah ekstrovert atau introvert itu tidak bisa secara langsung. Perlu observasi mendalam. Terlebih anak jika dilingkungan rumahnya cenderung ‘ramai’ karena merasa nyaman sehingga susah untuk dibedakan apakah dia ekstrovert atau introvert. Sekali lagi, perlu kajian yang lebih mendalam dari orangtua,” tuturnya.

lap utama

Mengatasi Permasalahan Anak Ekstrovert dan Introvert dalam Kehidupan Sosial

Anne juga menjelaskan bahwa preferensi sosial bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Karena setiap orang itu memiliki ciri khas pribadi masingmasing. Namun saat seseorang masuk ke lingkungan sosial, maka tak bisa dipungkiri akan muncul harapanharapan lingkungan tentang bagaimana seseorang harus bersikap dan berinteraksi. Disinilah diperlukan adaptasi dari masing-masing individu.

Bagi Anne, mengatasi harapan lingkungan sosial terhadap anak yang masih kecil harus dimulai dari orangtua atau orang dewasa di sekitar anak. Orang dewasalah yang perlu memberikan anak ruang untuk mengeksplorasi preferensi sosial mereka. Biarkan anakanak bersikap sesuai dengan preferensinya, bukan sesuai dengan kemauan orangtua ataupun orang dewasa disekitarnya.

“Kita yang dewasa di lingkungannya yang perlu mengenali anak. Misalnya : Oh iya anak ini introvert, dia butuh waktu untuk bisa hangat sama kita, tidak secepat anak yang ekstrovert.. Sebaliknya anak ini ekstrovert sehingga kalau dia nggak dapat relasi yang memadai, maka dia tidak akan puas dan akan terus mencari relasi lain,” jelas Anne lagi.

Untuk anak usia sekolah, apalagi yang sudah beranjak remaja, akan sangat terbantu jika orangtua dapat mengajak anak untuk mengenali preferensi sosial mereka. Caranya dengan menanyakan kepada anak pertanyaan sederhana yang disesuaikan dengan ciriciri dari preferensi sosial. Seperti : “kamu lebih nyaman bersosialisasi dengan banyak teman atau lebih memilih bersosialisasi dengan orang-orang tertentu saja?” atau “Kamu lebih suka belajar kelompok atau belajar sendiri?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan menuntun orangtua sekaligus anak untuk memahami preferensi sosial seperti apa yang sebenarnya anak miliki.

Setelah anak mengenali preferensi sosialnya, maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan orangtua adalah menjelaskan apa itu preferensi sosial ekstrovert atau introvert. Serta memberikan pengertian bahwa masing-masing preferensi adalah baik dan memiliki kelebihannya masing-masing. “Dari situ baru kita bisa bimbing anak untuk bersikap tidak terlalu jauh dari ekspektasi lingkungan,” tutur Anne.

lap utam

Pengaruh Ekstrovert dan Introvert dalam Kegiatan Belajar

Membicarakan tentang preferensi sosial pada anak tentu tidak sebatas hanya dari cara anak bergaul dengan teman seumurannya. Namun menjadi penting bagi orangtua untuk mengetahui bagaimana anak berinteraksi dalam kegiatan belajar.

Bagi anak ekstrovert, kegiatan belajar kelompok tentu akan memberikan semangat dan energi lebih sehingga prestasi belajarnya bisa maksimal. Sedangkan untuk anak introvert, belajar kelompok justru menjadi tantangan tersendiri karena mereka cenderung membutuhkan waktu dalam bernegosiasi kelompok. Disinilah penting untuk mengenal kepribadian anak, apakah ekstrovert atau introvert. Dengan demikian potensi belajarnya bisa lebih dimaksimalkan.

“Sebenarnya jika anak sudah mengenali preferensi sosial mereka dan belajar untuk mengatasinya dalam lingkungan sosial, maka anak akan memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Namun jika anak sulit beradaptasi dan mempengaruhi prestasinya di sekolah, maka orangtua perlu untuk mencari solusi dengan bantuan guru di sekolah,” saran Anne.

Mengarahkan Kegiatan Yang Tepat Untuk Anak Sesuai Preferensi Sosial

Seperti yang sudah dijelaskan, anak ekstrovert sangat membutuhkan suatu kegiatan berkelompok. Karena itu, jangan sarankan suatu kegiatan yang sifatnya individu. Misalnya : menyarankan anak ekstrovert untuk aktif di olahraga renang yang sudah jelas sifatnya perorangan. Hal ini akan membuatnya cepat bosan karena merasa sendirian. Untuk itu, arahkan mereka mengikuti  olahraga tim seperti basket atau sepak bola, maka anak biasanya cenderung lebih senang dan bersemangat melakukannya sebab energi anak ekstrovert memang berasal dari lingkungan sekitarnya.

Sedangkan bagi anak introvert yang memiliki kecenderungan lebih menyukai aktivitas perorangan  dan umumnya di dalam rumah, tawarkan kegiatan yang tidak terlalu melibatkan banyak orang seperti bermain piano. Kalaupun ada aktivitas yang mengharuskan bersama orang lain, biarkan mereka memilih kegiatan yang bisa dilakukan bersama teman dekatnya. “Jadi bagaimanapun juga, anak-anak itu kan belum sepenuhnya mengenali diri sendiri. Jadi tugas kita sebagai orangtua untuk membantu memberikan pilihan yang menurut kita cocok dengan preferensi sosial sang buah hati,” tegas Anne.

Cara Tepat Dampingi Anak sesuai dengan Preferensi Sosial

  1. Kenali preferensi sosial diri Anda lalu kenali preferensi sosial anak. Mengapa perlu dilakukan? Agar potensi konflik antara orangtua dan anak bisa  diminimalisir.
  • Jika preferensi sosial Anda dan anak sama, maka akan menjadi lebih mudah untuk memahami anak dan menemukan cara yang tepat untuk beradaptasi. Contohnya, Anda dan anak sama-sama introvert, di acara yang banyak orang, saat Anda sudah merasa tidak nyaman, maka Anda dan anak bisa pergi keluar sebentar dari acara dan bergabung lagi setelah perasaan tidak nyaman hilang. Saat Anda dan anak sama-sama ekstrovert pun akan menjadi mudah untuk beradaptasi dan berbaur dengan kelompok sosial. Namun perlu juga bagi Anda untuk mengajarkan anak agar memahami ekspektasi sosial, agar anak tidak menuntut lingkungan untuk memberikan perhatian yang terpusat ke anak saja.
  • Sedangkan jika preferensi sosial Anda ekstrovert sedangkan anak Introvert diperlukan kemampuan Anda untuk memahami anak. Misalnya, saat berada disebuah acara, anak Anda menunjukkan rasa tidak nyaman dengan lingkungan sosial, maka Anda bisa ajak anak ke lokasi yang sedikit lebih sepi. Setelah anak mulai tenang, maka ajak kembali bergabung dalam acara. Jangan memaksa anak untuk segera bergabung kembali saat dia masih tidak nyaman. Sebenarnya anak introvert tidak memiliki masalah untuk bersosialisasi, namun mereka akan merasa overwhelmed saat menjadi pusat perhatian. Sedangkan saat Anda Introvert dan anak Ekstrovert. Anda memahami bahwa anak membutuhkan relasi dan perhatian dari orang sekitarnya. Saat Anda dan anak berada di lingkungan sosial yang Anda merasa tidak nyaman sedangkan anak merasa senang, maka tidak menjadi masalah jika Anda beristirahat sebentar dari keramaian dan mengajak anak. namun tetap memberikan perhatian anak sesuai dengan preferensi sosialnya. Maka berikan mereka kebebasan untuk banyak bercerita kepada Anda ataupun memberikan kegiatan yang digemari anak.

laputt

   Dalam hal ini, dibutuhkan juga kerjasama orangtua dalam menangani preferensi sosial anak, jika pasangan memiliki        preferensi sosial yang sama dengan anak. maka Anda pun bisa meminta pasangan untuk membantu anak beradaptasi    dengan preferensi sosial mereka berdasarkan pengalaman pasangan.

  1. Membantu anak untuk mengenali preferensi sosial dan membantu anak untuk dapat beradaptasi dalam lingkungan sosial. Bebaskan anak untuk mengeksplorasi preferensi sosialnya dan menemukan cara yang tepat dalam menyesuaikan diri di lingkungan. “Jadi bukan kita yang selalu mengambil alih. Ini yang bahaya ketika orang tua menjadi helicopter parent – orangtua yang selalu membayang-bayangi anaknya. Biarkan anak mencoba dulu. Kalau dia mentok, kita ada dan siap untuk jadi jaring pengamannya,” jelas Anne
  2. Mengenal preferensi sosial anak, bukan berarti Anda menjadikannya excuse akan ketidakmampuannya beradaptasi. Karena dampak negatifnya, orangtua dan anak cenderung menuntut lingkungan untuk memenuhi kebutuhan preferensi anak. Lalu anak tidak belajar untuk beradaptasi.

LATEST TOP NEWS