Laporan Utama

Antara Ikan, Ibu Hamil, & Balita

lappp

“ Ikan memang kerap dikaitkan sebagai makanan bergizi yang baik untuk ibu hamil dan balita. Meski demikian, ada banyak hal tentang ikan yang harus diketahui terlebih dahulu sebelum menyantapnya. Apa saja? ”

Belakangan pemerintah kerap menggalakkan kampanye “gemar makan ikan”. Lewat kampanye tersebut, kandungan gizi dari binatang air ini berusaha diperkenalkan kepada masayarakat. Maklum, selain negara ini memang kaya akan hasil perikanan, berdasarkan hasil dari berbagai penelitian ilmiah juga ditemukan fakta bahwa ikan adalah salah satu jenis makanan sehat yang sarat manfaat.

Tidak hanya untuk orang dewasa, tapi juga ibu hamil dan balita. Sayangnya tak semua keluarga gemar menyantap ikan. Alasan yang dikemukakannya pun beragam. Mulai dari adanya duri yang menyulitkan, bau yang amis, kekhawatiran akan kandungan merkuri yang tinggi, hingga karena alasan alergi. Nah, agar tak salah persepsi tentang ikan, ada baiknya mengetahui seluk beluknya terlebih dahulu.

Kandungan Gizi Ikan

Pada dasarnya semua ikan memiliki 5 kandungan gizi yang sangat berguna bagi tubuh. Pertama adalah omega 3 yang terdiri dari EPA dan DHA. Seperti yang telah kita ketahui, EPA dan DHA erat kaitannya dengan proses pertumbuhan sel syaraf, termasuk otak. Dengan kata lain, kecukupan akan omega 3 dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak.

Kandungan yang kedua adalah yodium, yang selain dapat membantu mencegah penyakit gondok, juga dapat menghindarkan balita dari stunting, yaitu kondisi dimana seorang anak mengalami kendala dalam pertumbuhan tubuhnya, sehingga tidak memiliki tinggi ideal sesuai dengan usianya.

Ketiga adalah selenium yang bermanfaat sebagai antioksidan alami. Keempat kalium yang dapat membantu sistem saraf bekerja lebih optimal. Dan yang kelima adalah lemak yang sifatnya baik sehingga dapat mencegah obesitas dan membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kandungan gizi pada ikan, berikut pembagiannya :

Ikan Air Tawar

Selama ini beredar persepsi bahwa kandungan gizi ikan air laut sudah pasti lebih tinggi dibandingkan ikan air tawar. Tapi ternyata, nutrisi yang terdapat dalam ikan air tawar juga tak bisa dipandang sebelah mata lho.
Dijelaskan oleh dr. Monique Carolina Widjaja, SpGK dari RS Awal Bros Tangerang, nutrisi yang terkandung dalam ikan air tawar sangat menakjubkan. Dikatakan dalam 1 potong ikan air tawar terdapat berbagai nutrisi seperti vitamin A, B6, B12, D dan mineral seperti yodium, selenium, seng, flour serta zat besi.

Dengan nutrisi yang sedemikian lengkap, tak heran jika ikan air tawar dapat mendukung kesehatan mata, membantu pertumbuhan dan kekuatan tulang, membantu proses metabolisme tubuh, mencegah kerusakan saraf, serta dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Adapun jenis ikan air tawar yang sarat gizi bisa didapatkan pada jenis ikan mas, kembung, lele, mujair dan belut.

Ikan Air Laut

Dibandingkan ikan air tawar, dikatakan dr Monique kandungan asam lemak omega-3 yang terdiri dari EPA dan DHA pada ikan air laut jauh lebih tinggi. Tapi sayangnya, tak semua ikan air laut baik untuk disantap. Pasalnya, ada beberapa jenis ikan air laut yang memiliki kandungan merkuri tinggi sehingga justru harus dihindari karena bisa membahayakan kesehatan janin maupun balita. Adapun jenis ikan air laut yang tergolong aman untuk disantap adalah ikan  cakalang, dan salmon.

Telur Ikan

Fakta menarik lainnya seputar ikan yaitu bagian telurnya. Serupa dengan kandungan pada dagingnya, telur ikan kaya akan protein, omega 3, asam folat, vitamin A, B kompleks, D, E, dan K, serta mineral seperti selenium, zat besi, kalsium, magnesium, fosfor, kalium, juga seng. Secara umum, kandungan gizi telur ikan yang terbaik ada pada ikan mas, kakap, gurame dan salmon.

Minyak Ikan

Seiring dengan perkembangan teknologi, nutrisi ikan seringkali dibuat jadi semacam esktrak yang kita kenal dengan nama minyak ikan. Minyak ikan itu sendiri mengandung asam lemak omega 3 yang baik untuk perkembangan otak.
Sejumlah penelitian bahkan mengungkapkan bila minyak ikan juga bisa mengurangi risiko gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang seringkali dikaitkan dengan proses gangguan belajar pada anak, seperti sulit konsentrasi atau hiperaktif.

Meski demikian, untuk mengonsumsi minyak ikan, dokter Monique menganjurkan agar berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli kesehatan yang kompeten. Sebab bila asal konsumsi, ditakutkan bukan kebaikan yang datang, melainkan efek samping yang justru membahayakan tubuh.

Ikan dan Ibu Hamil

Ketika hamil, tubuh memerlukan lebih banyak nutrisi untuk mengoptimalkan perkembangan janin. Karena itu, Dr. Isabela SpA dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading menyarankan agar ibu hamil tak segan menyantap ikan. Sebab secara umum, nutrisi yang terkandung dalam ikan sangat baik untuk mendukung perkembangan janin.
Namun seperti yang telah disebutkan di atas, tak semua ikan boleh disantap ibu hamil. Agar lebih jelas, berikut fakta tentang ikan yang berkaitan dengan ibu hamil :

Manfaat Ikan Untuk Ibu Hamil

Sudah menjadi rahasia umum, jika kandungan nutrisi yang terkandung dalam ikan dikatakan sangat baik untuk perkembangan otak dan sistem syaraf janin. Selain itu, ikan juga sangat bermanfaat untuk kesehatan indra penglihatan janin.

Bagi ibu hamil sendiri, kandungan DHA pada ikan juga bisa membantu mengurangi depresi yang kerap terjadi selama masa kehamilan, serta membantu mencegah kontraksi rahim yang bisa mengakibatkan keguguran. Karena rendah lemak jenuh dan tinggi HDL, ikan pun berguna untuk menormalkan kadar kolesterol dalam tubuh ibu hamil, sehingga secara otomatis dapat mencegah terjadinya hipertensi.  Satu hal lagi, ikan juga mengandung vitamin yang dapat membantu menyehatkan kulit serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh ibu hamil.

Ikan Yang Pantang Dikonsumsi Ibu Hamil

Meski sarat manfaat, bukan berarti semua ikan boleh di santap ibu hamil. Untuk ikan air tawar misalnya, pastikan jika ikan tersebut ditangkap dari peternakan atau sungai yang bebas polusi. Sementara untuk ikan air laut, hindari jenis ikan pemangsa yang memiliki masa hidup panjang seperti ikan makarel raja, marlin, todak, hiu, serta tuna sirip kuning. Mengapa? Sebab jenis ikan tersebut ditenggarai memiliki kandungan merkuri yang tinggi. Sehingga apabila terus dikonsumsi, maka dapat membahayakan janin.

“Kandungan merkuri yang tinggi dapat menyebabkan janin mengalami kerusakan otak, ginjal dan sistem saraf. Tak jarang juga merkuri menyebabkan anak terlahir autis. Karena itu, jangan sekali-kali mengonsumsi ikan dengan kandungan merkuri tinggi. Selain itu, konsumsilah ikan secukupnya, jangan berlebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan juga tidak baik untuk tubuh,” jelas dokter Isabela.

Ikan dan Balita

Tidak hanya saat dalam kandungan, ketika sudah lahir si kecil juga perlu mendapatkan asupan gizi dari ikan. Terlebih ketika usianya masih balita. Karena di usia tersebut, anak memang butuh nutrisi maksimal guna mendapatkan tumbuh kembang yang optimal. Lalu, apa saja yang harus diketahui sehubungan dengan asupan ikan untuk balita? Berikut diantaranya :

Saat Tepat Memberi Ikan

Mengenai kapan saat tepat anak boleh diberi ikan, dr. Isabela SpA menjelaskan bahwa idealnya si kecil sudah boleh makan ikan ketika masa MPASI tiba, yaitu sekitar usia 6-7 bulan. Tapi bila memiliki riwayat alergi, maka ikan boleh mulai dicoba diberikan di usia 8 bulan.

Adapun ikan yang akan disajikan harus ikan segar yang dimasak matang, dan tanpa tambahan perasa apapun. Sementara untuk teksturnya harus dibuat benar-benar halus dengan cara menyaringnya terlebih dahulu.

Jika Anak Alergi Ikan

Alergi memang seringkali menjadi penghalang untuk mengonsumsi ikan. Dalam hal ini, ikan yang berasal dari laut acapkali “ditolak” oleh tubuh. Nah alergi itu sendiri biasanya ditandai dengan timbulnya ruam. Bila hal tersebut terjadi, jangan sesekali tetap memaksakan anak makan ikan. Lebih baik hentikan dulu pemberiannya selama selama 4-5 hari. Dan untuk mengecek apakah si kecil benar-benar alergi, berikan kembali jenis ikan yang sama di hari ke 6.

Bila hasilnya anak kembali mengalami ruam, itu tandanya si kecil memang positif mengalami alergi. Untuk itu sebaiknya tunda dulu pemberian jenis ikan tersebut selama 2 bulan. Setelah lewat dari 2 bulan, cobalah untuk memberikan ikan dengan jenis yang sama dan jangan lupa amati apakah alerginya masih bertahan atau tidak.

Jika alerginya masih bertahan, maka dokter Isabela menyarankan untuk memperpanjang jangka waktu pemberiannya menjadi 6 bulan. Dan jika dalam jangka waktu 6 bulan ke depan alergi masih menyerang, maka ada baiknya mulai memikirkan sumber protein lain yang bisa menjadi pengganti jenis ikan tersebut.

Ikan Lele Sebagai MPASI

Tak bisa dipungkiri bila ikan lele memiliki image yang kurang menarik bagi banyak orang. Hidup di kolam berlumpur seringkali membuat ikan ini dianggap sebagai ikan yang jorok, murah dan tak punya nutrisi.
Mengenai hal tersebut, dokter Isabela ingin meluruskannya. Menurutnya, ikan lele sangat baik dijadikan Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Sebab daging ikan lele kaya akan protein. “Tapi perlu saya tekankan, jika ingin memberikan ikan lele untuk si kecil, pilih yang dibudidayakan di kolam yang bersih. Bukan ikan lele yang hidup di kolam air yang tercemar limbah. Sebaiknya hindari juga makan ikan lele yang berasal dari kolam yang berada di bawah kandang hewan,” ujarnya.

Cara Memilih & Mengolah Ikan

Bagaimanapun juga, ikan yang segar adalah ikan yang memiliki nutrisi terbaik. Untuk itu sebagai spesialis gizi, dokter Monique menyarankan agar saat memilih ikan kita harus memperhatikan warnanya, dagingnya, insangnya serta matanya. Sebab ikan yang segar akan memiliki warna cerah, dagingnya tidak lembek, insangnya tampak kemerahan, dan matanya tidak keruh.

Sementara untuk mengolahnya, dokter Monique memberikan saran agar menghindari memasak ikan dengan cara digoreng. Mengapa? Karena proses penggorengan akan merusak nutrisi yang dikandung ikan.

“Pada saat di goreng, omega 3 yang dikandung ikan bisa larut. Itu sebabnya saya sarankan untuk mengolahnya dengan cara dikukus, tim, pepes, panggang, bakar atau ditumis saja agar nutrisinya bertahan. Khusus untuk ibu hamil dan balita, mengonsumsi ikan juga harus dalam keadaan matang sempurna alias tidak boleh mentah. Sebab ikan mentah bisa saja mengandung parasit atau bakteri yang bisa membahayakan.

Iklan Mom and Bab

event

Blossom Of Spring @Pluit Village

14 Jan 2018 11:55 AM

Kids Winter Festival

13 Dec 2017 11:15 AM

Pakar Menjawab

Tindik bayi yang aman

ferdyy

dr. Ferdy Limawal

SpA

LATEST TOP NEWS