Kehamilan

MENGENAL USG 4D

Tuesday, 22 August 2017

Berkat USG 4D, hasrat untuk melihat wajah sang buah hati secara lebih jelas sebelum dilahirkan kini dapat terpenuhi. Selain itu, manfaat apalagi yang bisa didapatkan dari USG tercanggih ini?

Bagi ibu hamil, istilah USG atau ultrasonografi tentu sudah tidak asing lagi. Maklum, setiap memeriksakan kehamilan di rumah sakit, dokter kandungan yang bertugas biasanya menggunakan alat tersebut untuk melihat perkembangan bayi dalam rahim. Diharapkan lewat USG, adanya kelainan atau perubahan struktur pada janin dapat segera diketahui. Sehingga dokter maupun orangtua khususnya bisa lebih siap dan dapat menentukan langkah selanjutnya sebelum bayi dilahirkan.

Adapun USG bekerja lewat gelombang suara yang berada diatas ambang pendengaran manusia. Oleh organ di dalam tubuh, sebagian dari gelombang tersebut dipantulkan kembali. Gelombang pantulan lalu ditangkap oleh alat penerima, kemudian diolah oleh komputer dan disajikan dalam bentuk gambar pada layar monitor. Karena menggunakan gelombang suara, maka USG dijamin aman untuk ibu hamil maupun janin dan tidak memiliki dampak radiasi selayaknya foto rontgen yang menggunakan sinar X.

Menurut dr.Henry Tungadi, Sp.Rad dari Rumah Sakit Bethsaida, Tangerang, USG 4D pada dasarnya memiliki kegunaan yang sama seperti pendahulunya, yaitu USG 2D maupun 3D. Bedanya hanyalah pada gambar yang dihasilkan.

“Pada USG 2D, gambar janin dalam kandungan terlihat seperti potongan-potongan melintang. Sedangkan pada USG 3D, bentuk janin sudah dapat dilihat lebih jelas seperti halnya sebuah foto. Sementara yang terbaru dan tercanggih USG 4D tentu menghasilkan gambar yang lebih nyata dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Hasil dari USG 4D ini biasanya juga dalam bentuk file gambar dan video, di mana gerakan bayi sudah bisa dilihat dan di rekam secara langsung layaknya film,” jelasnya.

Pentingnya USG 4D

Lebih lanjut, dr. Henry mengatakan bahwa USG 4D sangat penting dilakukan oleh ibu hamil guna mengetahui profil kesehatan janin. “Lewat USG 4D, kita  jadi dapat mengetahui banyak hal, seperti  apakah perkembangan janin sudah sesuai dengan masa kehamilannya?, apakah organ janin lengkap atau apakah ada organ janin yang tidak terbentuk? Selain itu dapat juga diketahui apakah letak organ sudah sesuai pada tempatnya atau malah berada diluar tubuh janin?, apakah posisi janin atau letak plasenta ada pada jalan lahir?, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dijelaskan juga, mengacu ke Amerika Serikat, setiap kehamilan diharuskan melakukan pengecekan USG 4D minimal tiga kali dalam masa kehamilannya. Di mulai minggu ke-16 kehamilan, USG 4D dilaksanakan untuk mendeteksi kelainan pada janin, terutama Down Syndrome. Sedangkan di Perancis, USG 4D sudah harus dilakukan sejak minggu ke-12 kehamilan guna mendeteksi apakah ada kelainan pada janin, terutama Edward Syndrome. Sementara di Indonesia sendiri, USG 4D masih menjadi pilihan masing-masing ibu alias tidak wajib dilakukan.

Prosedur USG 4D

Adapun untuk melakukan USG 4D tidak memerlukan persiapan khusus dan  prosedurnya relatif sama dengan jenis USG lainnya. Dimulai dari ibu hamil berbaring di tempat tidur, lalu pada bagian perutnya diolesi sejenis jel. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan dengan alat transducer yang ditempelkan ke perut ibu dan digerakkan sesuai dengan bagian tertentu  yang ingin dilihat.

“Umumnya dokter akan memeriksa satu persatu. Mulai dari bagian kepalanya guna mengetahui ada atau tidak pelebaran di saluran kepala, ada atau tidak pengapuran di otaknya,hingga batok kepalanya sudah terbentuk sempurna atau belum. Lalu dilakukan pengecekan organ bagian perut dan rongga dada janin. Selanjutnya dilihat tulang dari janin. Kemudian dokter akan mulai mengukur apakah perkembangan janin sudah sesuai dengan masa kehamilannya. Dari situ dokter baru bisa merekomendasikan hal apa saja yang harus dilakukan sesuai hasil pengecekan USG 4D,” terang dr. Henry.

Dr.Henry juga menjelaskan bahwa USG 4D bisa digunakan untuk melakukan pengecekan, apakah ada cacat bawaan pada janin atau tidak. Misalnya bibir sumbing atau polidactily (jumlah jari yang lebih). Di samping itu, lewat USG 4D, orangtua juga dapat melihat gerakan bayi secara nyata, termasuk saat janin menguap, tersenyum, atau bahkan buang air kecil.

Di akhir pembicaraan, dr Henry menyarankan agar USG 4D sebaiknya dilakukan tiga kali selama masa kehamilan. Pertama, pada usia kehamilan masuk minggu ke-16 guna melihat kondisi janin secara keseluruhan dan mencari tahu apakah ada kelainan pada janin. Kedua, di usia kehamilan masuk minggu ke-20 guna mengevaluasi hasil dari minggu ke-16. Ketiga, saat usia kehamilan masuk minggu ke-28 atau minggu ke-32 guna pengecekan finalisasi.

LATEST TOP NEWS