Kehamilan

Kenali Seluk Beluk Kehamilan Sungsang

Thursday, 8 June 2017

Konon, kehamilan sungsang dapat membahayakan nyawa ibu maupun janin yang akan dilahirkan  Benarkah? Apa sebenarnya penyebab kehamilan sungsang dan bagaimana cara mengatasinya?

Kehamilan memang selalu penuh keajaiban. Terlebih saat ibu mulai merasakan gerakan janin dalam kandungan. Wah, sungguh menakjubkan. Normalnya, janin memang akan terus aktif berputar dan bergerak dalam kandungan sampai usia kehamilan masuk minggu ke-36. Setelah itu, posisi kepala janin biasanya akan mulai menetap di bawah, tanda siap untuk dilahirkan.

Namun demikian, kadangkala ada juga janin yang “bandel”. Bukannya kepala yang diletakkan di jalan lahir, malah kebalikannya alias kaki yang di bawah. Kondisi demikian umum disebut kehamilan sungsang.

Menurut dr. Martina Claudia, Sp.OG dari Archa Clinic, berdasarkan posisi janin, kondisi kehamilan sungsang itu sendiri terbagi menjadi tiga. Pertama disebut bokong murni, yang berarti posisi kaki bayi terangkat ke atas setinggi bahu atau kepala janin sehingga bagian bokong bayi masuk ke dalam rongga panggul jalan lahir. Kedua, bokong tidak murni, di mana posisi kaki bayi satu terangkat ke atas sedangkan yang kaki satunya lagi berada di samping bokong. Ketiga, footling breech yaitu posisi terbawah bukan bokong melainkan kaki.

Penyebab Sungsang

Lebih lanjut, dr. Martina menjelaskan bahwa penyebab dari kehamilan sungsang itu beragam. Diantaranya adalah karena adanya gerakan janin yang aktif sehinga posisi kepala berada di atas. Bisa juga dipengaruhi oleh ibu yang kurang aktivitas dan mobilisasi.

Disamping itu, kehamilan sungsang bisa terjadi karena adanya kelainan dari bentuk rahim. “Normalnya, bentuk rahim itu bisa diandaikan seperti buah alpukat. Nah, kalau bentuk rahim tidak seperti buah alpukat, maka biasanya janin akan mencari posisi yang nyaman baginya menyesuaikan dengan bentuk rahim si ibu. Sehingga ada kemungkinan posisi kepala bayi akan ke atas,” tuturnya.

Kehamilan sungsang bisa juga terjadi karena, calon ibu memiliki suatu penyakit. Misalnya ada tumor di rahim atau yang dikenal orang awam sebagai miom. Tumor di rahim posisinya bisa di atas, di bawah, di permukaan luar, di tengah, atau pun di dalam. Semisal posisi tumor terletak di bawah, maka tentu akan menimbulkan gangguan posisi janin, dimana janin secara otomatis akan mencari posisi yang lebih nyaman yaitu kepala ke atas.

Tidak hanya itu, masih menurut dr. Martina, kehamilan sungsang juga bisa terjadi karena bentuk panggul ibu yang abnormal. Akibatnya posisi kepala janin tidak pas dan janin mencari posisi yang nyaman yaitu ke bagian atas. Bisa juga karena plasenta yang terletak dibagian bawah sehingga janin akan ke atas.

“Cairan ketuban yang terlalu banyak atau terlalu sedikit juga bisa menjadi salah satu penyebab kehamilan sungsang lho. Bahkan kondisi kehamilan yang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya juga memiliki potensi hamil sungsang. Mengapa? Sebab di kehamilan ketiga dan seterusnya,  otot-otot abdomen umumnya sudah mengendur sehingga bisa menjadi salah satu penyebab sungsang,” terang dr. Martina.

Selain itu, dr. Martina mengatakan bahwa janin yang mengidap penyakit bawaan seperti Hidrosefalus juga bisa menyebabkan kehamilan sungsang. “Panjang pendek tali pusat pun bisa mempengaruhi kehamilan sungsang. Umumnya, tali pusat memiliki panjang 50 cm ke atas. Tapi di beberapa kasus, ada janin yang tali pusatnya pendek sehingga membuat gerakannya terbatas. Akibatnya posisi janin bisa sungsang,” katanya lagi.

Berbahayakah Kehamilan Sungsang?

Secara umum, kehamilan sungsang sebenarnya tidaklah berbahaya.  Namun demikian, ketika memasuki masa persalinan, kehamilan sungsang akan menjadi berbahaya jika ibu tetap berencana melahirkannya secara normal. Pasalnya, janin dalam posisi sungsang lebih beresiko mengalami cedera bila dilahirkan melalui vagina. Sementara bagi ibu, persalinan sungsang secara normal bisa menyebabkan pendarahan.

Itu sebabnya, penting mendeteksi sejak dini, apakah janin dalam kandungan posisinya sungsang atau tidak. Caranya mudah :  calon ibu bisa tidur terlentang dan dalam kondisi rileks. Lalu meraba bagian perut, jika bagian atas yang teraba berbentuk bulat dan terasa keras, maka ada kemungkinan posisi janin sungsang. Selain itu, di usia kehamilan 8 atau 9 bulan, saat posisi janin sungsang maka ketika beraktivitas, calon ibu akan merasakan gejala seperti sesak napas atau tidak bisa menarik napas panjang. Jika terjadi hal demikian, segeralah berupaya mengubah posisi janin.

Cara Mengubah Posisi Janin

Saat mengetahui posisi janin sungsang, disarankan bagi ibu untuk mengikuti senam hamil. Diharapkan gerakan yang dilakukan oleh calon ibu dapat membantu janin mengubah posisi yang sungsang. Selain senam hamil, calon ibu juga bisa melakukan gerakan bersujud (Knee Chest Position) dengan posisi dada sejajar dengan lantai.  Ketika melakukan posisi tersebut, jika ibu merasa sesak, disarankan untuk beristirahat. Dengan ibu yang rajin senam hamil dan melakukan posisi sujud, diharapkan dapat membantu janin ke posisi normal.

“Tidak usah khawatir jika dokter mengatakan kepala janin di atas atau posisi sungsang. Kita usahakan dulu sebaik mungkin. Cara yang bisa dilakukan calon ibu adalah cukup minum asupan air agar air ketuban bagus. Lakukan posisi knee chest position. Ikuti senam hamil. Pada sebagian besar kasus, kepala janin bisa ke bawah kalau memang tidak ada masalah, baik pada ibu maupun janin. Kalaupun sampai saatnya bersalin janin masih tetap dalam posisi sungsang, maka ibu bisa melahirkan lewat operasi caesar,” pesan dr. Martina.

LATEST TOP NEWS