Kehamilan

Kenali Resiko Hamil di Usia Senja

Thursday, 2 June 2016

Ada sejumlah resiko yang mau tidak mau harus dihadapi oleh wanita yang mengandung di usia senja. Celakanya, janin yang dikandung pun memiliki resiko serupa. Apa saja dan bagaimana cara mengatasinya?

Mengandung di usia produktif, 25-35 tahun, tentu saja menjadi harapan setiap wanita. Namun, memang tidak semua impian bisa menjadi kenyataan. Terkadang, kehamilan justru datang ketika usia mulai menginjak senja. Ada banyak faktor, tentunya, yang menyebabkan wanita harus hamil di usia yang sudah tidak lagi belia. Salah satunya, karena banyak wanita di era modern ini baru menikah di usia yang sudah tidak lagi muda, di atas 30-35 tahun misalnya.

Diungkapkan Dr. Mufti Yunus, Sp.OG, Dokter Spesialis Kandungan dari Rumah Sakit Omni Alam Sutera, idealnya, wanita mengandung di usia produktif , yaitu antara 25-35 tahun. Sebab kehamilan di atas 35 tahun mengandung lebih banyak resiko.

“Ibaratnya begini, wanita yang hamil di usia produktif saja harus mempersiapkan dan merencanakan kehamilannya terlebih dahulu. Apalagi yang hamilnya di usia yang sudah tidak lagi muda. Sudah pasti perencanaan dan persiapannya harus lebih matang sehingga dapat memperkecil resiko yang akan menimpa si ibu maupun sang buah hati.”

Lalu, resiko apa saja yang harus dihadapi oleh mereka yang mengandung di usia senja? Dijawab Dr. Mufti, resiko yang paling sering terjadi pada kehamilan di atas usia 40 tahun adalah Preeklampsia yaitu gangguan kehamilan akibat tingginya tekanan darah dan kandungan protein dalam urine ibu hamil. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada beberapa organ tubuh, termasuk ginjal.

“Bila tidak segera ditangani, maka Preeklampsia akan menjadi Eklampsia, yakni resiko lanjutan yang lebih serius dan dapat mengancam nyawa sang ibu maupun janin yang dikandungnya,” katanya.

Lebih lanjut, Dr. Mufti mengatakan bahwa Preeklampsia dapat dikenali lewat beberapa gejala. Seperti sakit kepala akut, mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil, perubahan refleks, hingga berkurangnya volume urine. Sedangkan Eklampsia, ditandai dengan kejang-kejang atau sebelumnya sudah menunjukkan tanda-tanda Preeklampsia.

“Kondisi demikian jangan sampai diremehkan, karena Eklampsia dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian bagi sang ibu, baik sebelum melahirkan, sesudah, atau saat akan melahirkan,” Dr. Mufti mengingatkan.

Resiko Yang Ditanggung Janin

Di samping resiko yang mengancam nyawa sang ibu, kehamilan di usia senja juga sudah pasti mengancam nyawa sang janin. Pada trimester awal misalnya, seringkali terjadi keguguran yang dapat membuat bayi meninggal sebelum dilahirkan. Selanjutnya, memasuki trimester kedua, ibu yang mengandung di usia senja memiliki potensi melahirkan bayi prematur.

“Bayi yang lahir prematur kemungkinan bisa cacat. Sebab prematur artinya lahir sebelum waktunya. Itu artinya, organ-organ dan panca indra bayi ketika dilahirkan bisa jadi belum terbentuk sempurna. Akibatnya bisa terjadi kelainan pada mata dan pendengaran. Bahkan bukan tidak mungkin akan mempengaruhi tingkat intelijen sang bayi. Selain itu, ibu yang mengalami Preeklampsia atau hipertensi yang tidak terkontrol akan membuat janin menjadi lebih kecil dari usia kehamilan. Artinya, berat bayi saat baru lahir akan lebih kecil dari berat bayi normalnya,” lanjutnya.

Bagaimana dengan mitos down syndrome yang kerapkali menghantui wanita yang mengandung di usia senja? Diungkapkan Dr. Mufti, down syndrome memang resiko yang mungkin akan dihadapi oleh ibu-ibu yang hamil di usia senja. Namun, menurutnya, dengan perkembangan ilmu saat ini, sebenarnya down syndrome sudah dapat terdeteksi sejak awal kehamilan.

“Mulai usia kehamilan trimester awal, masuk di usia 10 sampai 12 minggu, down syndrome sudah dapat dideteksi dengan ultrasound atau USG. Dengan USG, dapat dilihat adanya nuchal translucency (NT). Kalau ukuran diameternya lebih dari 3 mm, maka akan beresiko terjadinya down syndrome,” terangnya.

Untuk mengetahui 100% down syndrome, diterangkan Dr. Mufti, dapat dilakukan tes amniosintesis, yaitu diambil cairan amnion atau cairan ketuban lalu dikirim ke laboratorium untuk dilihat kromosomnya. Dengan demikian, akan terlihat gambaran down syndrom-nya.

“Namun, ada hal berbahaya dengan melakukan amniosintesis. Sebab, tindakan tersebut terlalu ekspansif, sehingga resikonya akan menyebabkan keguguran, pendarahan, dan yang lainnya,” ia mengingatkan.

Kendati banyak resiko yang bakal dihadapi, namun bukan berarti ibu yang hamil di usia senja atau di atas 40 tahun tak mampu memiliki bayi yang sehat. Toh, banyak juga ibu yang hamil di usia 40 tahun mampu memiliki bayi yang terlahir sehat. “Kuncinya, ibu harus rajin kontrol ke dokter, disiplin dengan apa yang dipinta dokter, jangan minum obat sembarangan, serta menerapkan pola makan dan hidup yang sehat,” tutupnya.

LATEST TOP NEWS